Di usia muda, dengan seseorang yang baru saja aku kenal, dan berkali-kali merelakan kesempatan pekerjaan yang diidam-idamkan.
Entah,
kedatangan mas ini begitu mengejutkan. Bagaimana tidak? Keseharian kita
hanya berinteraksi perkara pekerjaan, diskusi pun seperlunya.Tidak perlu waktu lama untuk mas mengenal aku, tiba-tiba saja mas mengutarakan maksud baiknya dan berniat segera menemui orang tua
Jawabku pada mas : “kini aku sedang berikhtiar, dengan berusaha memperbaiki diri dan berpasrah pada-Nya, jika mas memang jawaban dari Allah atas doa yang aku panjatkan di sepertiga malamku, pasti akan Allah permudah jalannya”
Selang beberapa minggu saja mas sudah mengantongi restu dari orang tua, dalam hitungan minggu pula Allah pertemukan dua keluarga di satu ruang yang insyaAllah diberkahi.
Sampai sekarang, aku masih takjub, semudah itu Allah membolak balikkan hati?
Padahal, semenjak kecurigaanku muncul, aku meminta pada Allah ; “jika mas hanya godaan semata, jika mas nyatanya bukan jawaban, maka hilangkan saja”. Sejak itulah, semakin Allah dekatkan semakin Allah permudah.
MasyaAllah..
Dari sini aku belajar lagi, bahwa ridha Allah memang tergantung pada ridha orang tua.
Alhamdulillah, selepas ridha nya, perjalanan ini terasa begitu ringan, dengan bala bantuan yang Allah kirimkan dari sisi yang tidak di duga-duga.
Pernikahan, bukan sekedar menyatukan dua hati dan pikiran, tapi tentang dua keluarga, beberapa hati dan pikiran, dengan isi yang berbeda-beda, prinsip yang berbeda, kebiasaan yang berbeda dan cara pandang yang berbeda.
Jalan ini mulus bukan berarti aku-mas tidak menemukan perbedaan, justru disini aku-mas belajar bagaimana menyikapi perbedaan, dan menghargai pendapat.
Pernikahan bukan sekedar “saya sudah siap” tapi tentang saya mau terus belajar, memahami, tumbuh, menghargai. Laki-laki paham cara menjadi imam yang baik, menjadi pengemudi yang taat pada rambu agar sampai dengan selamat di jannah-Nya, menjadi tulang punggung yang memikul banyak tanggung jawab. Terlebih lagi wanita, yang kelak menjadi madrasah pertama bagi generasinya, yang mampu menyempurnakan tulang rusuk meski bengkok.
Meski sama-sama terlahir dari rahim ibu, mengutamakan suami dibandingkan ibu adalah kewajiban seorang wanita. Jika surganya laki-laki masih ada di telapak kaki ibu pasca menikah, maka surganya wanita tergantung bagaimana baktinya pada suami.
Pernikahan bukan hanya perkara dunia, tapi akhirat. Segala apa yang diniatkan karena-Nya, pasti ditempuh dengan petunjuk-Nya, bukankah yang diidam-idamkan adalah dipertemukan kembali di surga-Nya dalam keabadian? Sedangkan dunia hanya sementara.
Rumusnya mudah, kejar akhirat, maka dunia akan mengikuti.
Dari aku, yang akan mendampingimu.
Sukabumi, 1 Februari 2019
No comments:
Post a Comment