Hitung-hitungannya manusia itu adalah hitungan yang paling sederhana,
hitungan yang mutlak, yang bernilai pasti. Contoh, satu tambah satu
sama dengan dua. Itu secara logika gak mungkin jadi tiga, empat atau
lima.
Beda sama matematika nya Allah, kita nih shalat
sendiri yaudah itu pahalanya satu tapi ketika kita shalat berjamaah
pahalanya berlipat jadi 27 derajat, terus kita sedekah berapa pun itu
jumlahnya akan digandakan 7x lipat sama Allah, tapi jangan dihitung
begitu yaaa. Inget… Matematika nya Allah itu bukan matematika yang
sederhana, ada hal-hal yang gak bisa dibeli dengan harta, seperti
keluarga, kebahagiaan dan ketenangan. Maka dari itu, ibadah kita gak
akan pernah cukup untuk membalas nikmat yang Allah kasih, lah orang ditambah terus sama Allah, Allah baik ya
“Kenapa masih harus pake matematika manusia sih dalam mencari berkah? mencari ridho Allah? da dunia mah sementara”. Itu yang mamah sering tanamkan pada saya.
Sejatinya manusia diciptakan dengan akal dan hati, udah spesial banget! itu lebih spesial daripada martabak asin yang pake telor bebek dobel.
Jadi, akal dan hati itu harus seimbang, kita boleh kok berfikir
untung-rugi, manusiawi. Tapi coba tanya lagi hatinya, setelah untung
apakah hati bener-bener seneng? Gak jarang malah jadi was-was takut rugi
lagi, gamau mencoba hal baru karena udah terlanjur nyaman, misalnya. Padahal kalau sekalinya kita pake hati, ada kepuasan tersendiri yang bikin akal rela nerima.
Saya kemarin ikut workshop yoga tentang hormone balance. Dijelaskan
dimana pusat pengatur seluruh hormon itu adanya di hipotalamus, bagian
otak yang kemudian memerintahkan organ tubuh menghasilkan hormon, senang
atau sedih kita itu tergantung hormon, contohnya stress aja, itu diatur
sama hormon. Lalu kemudian ada pertanyaan “kalau begitu gimana cara mengatasi stress itu tadi? Kan hormon nya udah terbentuk?”, coach nya jawab, “atur
nafas kita, semua kembali ke nafas, tarik nafas dalam-dalam ketika
emosi, biarkan fikiran kita berfikir dulu sebelum bertindak”. Ya,
memang inti yoga itu adalah olah nafas. Maka, saya punya pendapat
sendiri dari hal ini, kalau semua kemudian diatur oleh nafas, berarti
pada hakikatnya manusia itu bisa berfikir, bisa bertindak ketika hati
atau perasaan senang, enjoy. Setelah itu baru deh bisa berfikir
positif, gak salah memang, berfikir positif akan mengeluarkan energi
positif, tapi perlu diinget kalau pikiran itu gak jarang gak jauh dari
hitungan untung-rugi.
Lalu ada lagi passion, saya baru dapet materi ini dari kelas mentoring. Passion itu datengnya dari mana? Jawabannya, dari diri sendiri, ketika logika orang lain berpikir “ih gak capek apa?” tapi nurani kita yang jawab “hmm nggak sih, gatau deh kenapa” bahkan si pikiran kita pun gak habis pikir, kok bisa?. Itu, contoh simple beda antara hati dan pikiran.
Jadi,
kembali lagi, hitungan Allah sama manusia itu jaaauh berbeda. Allah
cuma nyuruh kita bersyukur lalu akan ditambah lagi ditambah terus gak
abis-abis itu nikmat. Coba ke manusia, dikasih materi segunung-gunung
tapi nyikapinnya pake logika, ya pasti abis itu materi, gak akan pernah
cukup.
Sekian sharing kali ini, semoga hati yang gundah gulana jadi tenang setelah baca ini yaa, aamiin.
Wednesday, November 6, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Perceraian dalam Pernikahan
Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...
-
Hujan tak pernah monoton. Banyak rima mengalun lara kala bercerita tentang hujan. Memang, hujan paling pandai membawa serta setiap kenangan...
-
Apa kau sudah tahu? Kalau.. Rindu, bukan hal yang tabu. Rindu, tak pernah semu. Bukankah perkara rindu bisa dijamu dengan merdu? Say...
-
Seperti tak ada lelahnya aku menuliskan tentangmu disetiap bait sajak ku Semoga kau lah koma yang kutemukan sebagai penghubung kisah pad...
No comments:
Post a Comment