Dalam perjalanan, detik-detik menuju hari H pernikahan, alhamdulillah
banyak sekali diingatkan Allah perkara perkara kecil rumah tangga,
walaupun mungkin baru sekian persennya, yang Allah sampaikan melalui
perantara perantara, baik secara tiba-tiba lihat/baca postingan orang
lain di social media, mengamati interaksi keseharian orang tua di rumah,
atau dari teman-teman yang memang secara sengaja mengingatkan.
Salah
satu yang mengetuk hati adalah tulisan ringan dari tumblrnya rasyid al
fauzan yang judulnya “menangkan dulu hati lelaki kita”
Sebelum
pada inti cerita, lagi lagi semuanya memang tergantung pada niat.
Seperti yang aku bahas pada tulisan sebelumnya, keputusanku untuk
menikah bukan karena sekedar “keinginan” semata atau ikut ikutan temen
yang sudah lebih dulu atau tuntutan usia atau atas tuntutan orang tua,
aku memutuskan ini karena aku sudah merasa ingin menyempurnakan agama
Allah dan membutuhkan seseorang yang bisa membimbing aku, mengantarkan
ku ke surga-Nya, dan alhamdulillah Allah pertemukan aku dengan Mas.
Perempuan
itu luar biasa berharga, bahkan dalam Al-Quran pun dijelaskan
berkali-kali, bagaimana perempuan sebagai anak, perempuan sebagai istri,
perempuan sebagai Ibu. Menarik sekali tulisan Rasyid Al Fauzan
(silahkan dibaca di tumblrnya) intinya, surga perempuan setelah menikah
benar-benar tergantung bagaimana baktinya pada suami.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.”
Begitu
pula contoh sejarah tentang seorang perempuan yang dijadikan ahli surga
karena baktinya pada suami meskipun bersuami Fir'aun, Asiyah binti
Muzahim. Masya Allah.
Yang membuat aku terkejut adalah ketika mas
meminta maaf padaku karena atas permintaannya meminang aku, mas seakan
sudah mencuri masa mudaku, padahal aku berterima kasih pada mas karena ia akan menjadi bagian dari masa depanku.
Lalu bagaimana dengan
mimpi mimpiku? Tentu masih banyak, seperti perempuan-perempuan di luar
sana yang mengidamkan sekolah hingga jenjang tertinggi, memiliki karir
yang gemilang, membahagiakan orang tua dengan hasil keringat sendiri.
Tetapi semuanya kembali lg, siapa yg mewujudkan mimpi? Mengapa terkadang
aku merasa berusaha sendiri padahal ada yang lebih kuat dari usaha,
yaitu doa. Iya, Allah yang mengabulkan segala mimpi, mengubahnya menjadi
lebih indah dari yang manusia bayangkan.
Jadi, menikah bukan suatu halangan untukku mencapai mimpi-mimpi itu, Allah hanya sedang menujukkan jalan terbaiknya.
Untuk
teman-teman perempuan yg masih ingin mengejar mimpinya pun tidak salah,
jangan menikah hanya karena paksaan, usia, orang tua.
Tanyakan
lagi pada diri sendiri, apakah sudah siap mengabdikan sisa hidupnya
untuk seorang suami? Apakah sudah siap menjadi madrasah pertama untuk
generasinya Allah?
Karena menikah bukan hanya senang-senang saja
seperti yang orang-orang posting di sosial medianya, menikah itu bukan
berarti mengakhiri lelah, tapi memulai sebuah perjuangan yang baru,
menikah itu bernilai ibadah seumur hidup, tentu syaitan tidak akan rela
begitu saja makhluknya Allah beribadah bukan? Maka, jurang dan tebing
itu sudah pasti adanya.
Menikahlah hanya karena Allah, menikahlah
dengan yang satu visi, satu pandangan dalam menghadapi permasalahan,
menikahlah ketika kamu merasa sudah cukup ilmu yang dibawa berumah
tangga, jika belum merasa cukup namun sudah Allah pertemukan dengan
jodohmu, berbahagialah karena kamu tidak belajar sendirian.
Yaa Allah yaa Rabb ku, limpahkan keberkahan pada setiap langkahnya Mas, pilihan hati ini, Aamiin.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Perceraian dalam Pernikahan
Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...
-
Hujan tak pernah monoton. Banyak rima mengalun lara kala bercerita tentang hujan. Memang, hujan paling pandai membawa serta setiap kenangan...
-
Apa kau sudah tahu? Kalau.. Rindu, bukan hal yang tabu. Rindu, tak pernah semu. Bukankah perkara rindu bisa dijamu dengan merdu? Say...
-
Seperti tak ada lelahnya aku menuliskan tentangmu disetiap bait sajak ku Semoga kau lah koma yang kutemukan sebagai penghubung kisah pad...
No comments:
Post a Comment