Wednesday, November 6, 2019

Perempuan dan Pilihannya

Dalam perjalanan, detik-detik menuju hari H pernikahan, alhamdulillah banyak sekali diingatkan Allah perkara perkara kecil rumah tangga, walaupun mungkin baru sekian persennya, yang Allah sampaikan melalui perantara perantara, baik secara tiba-tiba lihat/baca postingan orang lain di social media, mengamati interaksi keseharian orang tua di rumah, atau dari teman-teman yang memang secara sengaja mengingatkan.

Salah satu yang mengetuk hati adalah tulisan ringan dari tumblrnya rasyid al fauzan yang judulnya “menangkan dulu hati lelaki kita”

Sebelum pada inti cerita, lagi lagi semuanya memang tergantung pada niat. Seperti yang aku bahas pada tulisan sebelumnya, keputusanku untuk menikah bukan karena sekedar “keinginan” semata atau ikut ikutan temen yang sudah lebih dulu atau tuntutan usia atau atas tuntutan orang tua, aku memutuskan ini karena aku sudah merasa ingin menyempurnakan agama Allah dan membutuhkan seseorang yang bisa membimbing aku, mengantarkan ku ke surga-Nya, dan alhamdulillah Allah pertemukan aku dengan Mas.

Perempuan itu luar biasa berharga, bahkan dalam Al-Quran pun dijelaskan berkali-kali, bagaimana perempuan sebagai anak, perempuan sebagai istri, perempuan sebagai Ibu. Menarik sekali tulisan Rasyid Al Fauzan (silahkan dibaca di tumblrnya) intinya, surga perempuan setelah menikah benar-benar tergantung bagaimana baktinya pada suami.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.”
Begitu pula contoh sejarah tentang seorang perempuan yang dijadikan ahli surga karena baktinya pada suami meskipun bersuami Fir'aun, Asiyah binti Muzahim. Masya Allah.

Yang membuat aku terkejut adalah ketika mas meminta maaf padaku karena atas permintaannya meminang aku, mas seakan sudah mencuri masa mudaku, padahal aku berterima kasih pada mas karena ia akan menjadi bagian dari masa depanku.

Lalu bagaimana dengan mimpi mimpiku? Tentu masih banyak, seperti perempuan-perempuan di luar sana yang mengidamkan sekolah hingga jenjang tertinggi, memiliki karir yang gemilang, membahagiakan orang tua dengan hasil keringat sendiri. Tetapi semuanya kembali lg, siapa yg mewujudkan mimpi? Mengapa terkadang aku merasa berusaha sendiri padahal ada yang lebih kuat dari usaha, yaitu doa. Iya, Allah yang mengabulkan segala mimpi, mengubahnya menjadi lebih indah dari yang manusia bayangkan.

Jadi, menikah bukan suatu halangan untukku mencapai mimpi-mimpi itu, Allah hanya sedang menujukkan jalan terbaiknya.

Untuk teman-teman perempuan yg masih ingin mengejar mimpinya pun tidak salah, jangan menikah hanya karena paksaan, usia, orang tua.

Tanyakan lagi pada diri sendiri, apakah sudah siap mengabdikan sisa hidupnya untuk seorang suami? Apakah sudah siap menjadi madrasah pertama untuk generasinya Allah?

Karena menikah bukan hanya senang-senang saja seperti yang orang-orang posting di sosial medianya, menikah itu bukan berarti mengakhiri lelah, tapi memulai sebuah perjuangan yang baru, menikah itu bernilai ibadah seumur hidup, tentu syaitan tidak akan rela begitu saja makhluknya Allah beribadah bukan? Maka, jurang dan tebing itu sudah pasti adanya.

Menikahlah hanya karena Allah, menikahlah dengan yang satu visi, satu pandangan dalam menghadapi permasalahan, menikahlah ketika kamu merasa sudah cukup ilmu yang dibawa berumah tangga, jika belum merasa cukup namun sudah Allah pertemukan dengan jodohmu, berbahagialah karena kamu tidak belajar sendirian.

Yaa Allah yaa Rabb ku, limpahkan keberkahan pada setiap langkahnya Mas, pilihan hati ini, Aamiin.

No comments:

Post a Comment

Perceraian dalam Pernikahan

Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...