Dalam perjalanan, detik-detik menuju hari H pernikahan, alhamdulillah
banyak sekali diingatkan Allah perkara perkara kecil rumah tangga,
walaupun mungkin baru sekian persennya, yang Allah sampaikan melalui
perantara perantara, baik secara tiba-tiba lihat/baca postingan orang
lain di social media, mengamati interaksi keseharian orang tua di rumah,
atau dari teman-teman yang memang secara sengaja mengingatkan.
Salah
satu yang mengetuk hati adalah tulisan ringan dari tumblrnya rasyid al
fauzan yang judulnya “menangkan dulu hati lelaki kita”
Sebelum
pada inti cerita, lagi lagi semuanya memang tergantung pada niat.
Seperti yang aku bahas pada tulisan sebelumnya, keputusanku untuk
menikah bukan karena sekedar “keinginan” semata atau ikut ikutan temen
yang sudah lebih dulu atau tuntutan usia atau atas tuntutan orang tua,
aku memutuskan ini karena aku sudah merasa ingin menyempurnakan agama
Allah dan membutuhkan seseorang yang bisa membimbing aku, mengantarkan
ku ke surga-Nya, dan alhamdulillah Allah pertemukan aku dengan Mas.
Perempuan
itu luar biasa berharga, bahkan dalam Al-Quran pun dijelaskan
berkali-kali, bagaimana perempuan sebagai anak, perempuan sebagai istri,
perempuan sebagai Ibu. Menarik sekali tulisan Rasyid Al Fauzan
(silahkan dibaca di tumblrnya) intinya, surga perempuan setelah menikah
benar-benar tergantung bagaimana baktinya pada suami.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.”
Begitu
pula contoh sejarah tentang seorang perempuan yang dijadikan ahli surga
karena baktinya pada suami meskipun bersuami Fir'aun, Asiyah binti
Muzahim. Masya Allah.
Yang membuat aku terkejut adalah ketika mas
meminta maaf padaku karena atas permintaannya meminang aku, mas seakan
sudah mencuri masa mudaku, padahal aku berterima kasih pada mas karena ia akan menjadi bagian dari masa depanku.
Lalu bagaimana dengan
mimpi mimpiku? Tentu masih banyak, seperti perempuan-perempuan di luar
sana yang mengidamkan sekolah hingga jenjang tertinggi, memiliki karir
yang gemilang, membahagiakan orang tua dengan hasil keringat sendiri.
Tetapi semuanya kembali lg, siapa yg mewujudkan mimpi? Mengapa terkadang
aku merasa berusaha sendiri padahal ada yang lebih kuat dari usaha,
yaitu doa. Iya, Allah yang mengabulkan segala mimpi, mengubahnya menjadi
lebih indah dari yang manusia bayangkan.
Jadi, menikah bukan suatu halangan untukku mencapai mimpi-mimpi itu, Allah hanya sedang menujukkan jalan terbaiknya.
Untuk
teman-teman perempuan yg masih ingin mengejar mimpinya pun tidak salah,
jangan menikah hanya karena paksaan, usia, orang tua.
Tanyakan
lagi pada diri sendiri, apakah sudah siap mengabdikan sisa hidupnya
untuk seorang suami? Apakah sudah siap menjadi madrasah pertama untuk
generasinya Allah?
Karena menikah bukan hanya senang-senang saja
seperti yang orang-orang posting di sosial medianya, menikah itu bukan
berarti mengakhiri lelah, tapi memulai sebuah perjuangan yang baru,
menikah itu bernilai ibadah seumur hidup, tentu syaitan tidak akan rela
begitu saja makhluknya Allah beribadah bukan? Maka, jurang dan tebing
itu sudah pasti adanya.
Menikahlah hanya karena Allah, menikahlah
dengan yang satu visi, satu pandangan dalam menghadapi permasalahan,
menikahlah ketika kamu merasa sudah cukup ilmu yang dibawa berumah
tangga, jika belum merasa cukup namun sudah Allah pertemukan dengan
jodohmu, berbahagialah karena kamu tidak belajar sendirian.
Yaa Allah yaa Rabb ku, limpahkan keberkahan pada setiap langkahnya Mas, pilihan hati ini, Aamiin.
Wednesday, November 6, 2019
Why I decided to get married
Di usia muda, dengan seseorang yang baru saja aku kenal, dan berkali-kali merelakan kesempatan pekerjaan yang diidam-idamkan.
Entah,
kedatangan mas ini begitu mengejutkan. Bagaimana tidak? Keseharian kita
hanya berinteraksi perkara pekerjaan, diskusi pun seperlunya.Tidak perlu waktu lama untuk mas mengenal aku, tiba-tiba saja mas mengutarakan maksud baiknya dan berniat segera menemui orang tua
Jawabku pada mas : “kini aku sedang berikhtiar, dengan berusaha memperbaiki diri dan berpasrah pada-Nya, jika mas memang jawaban dari Allah atas doa yang aku panjatkan di sepertiga malamku, pasti akan Allah permudah jalannya”
Selang beberapa minggu saja mas sudah mengantongi restu dari orang tua, dalam hitungan minggu pula Allah pertemukan dua keluarga di satu ruang yang insyaAllah diberkahi.
Sampai sekarang, aku masih takjub, semudah itu Allah membolak balikkan hati?
Padahal, semenjak kecurigaanku muncul, aku meminta pada Allah ; “jika mas hanya godaan semata, jika mas nyatanya bukan jawaban, maka hilangkan saja”. Sejak itulah, semakin Allah dekatkan semakin Allah permudah.
MasyaAllah..
Dari sini aku belajar lagi, bahwa ridha Allah memang tergantung pada ridha orang tua.
Alhamdulillah, selepas ridha nya, perjalanan ini terasa begitu ringan, dengan bala bantuan yang Allah kirimkan dari sisi yang tidak di duga-duga.
Pernikahan, bukan sekedar menyatukan dua hati dan pikiran, tapi tentang dua keluarga, beberapa hati dan pikiran, dengan isi yang berbeda-beda, prinsip yang berbeda, kebiasaan yang berbeda dan cara pandang yang berbeda.
Jalan ini mulus bukan berarti aku-mas tidak menemukan perbedaan, justru disini aku-mas belajar bagaimana menyikapi perbedaan, dan menghargai pendapat.
Pernikahan bukan sekedar “saya sudah siap” tapi tentang saya mau terus belajar, memahami, tumbuh, menghargai. Laki-laki paham cara menjadi imam yang baik, menjadi pengemudi yang taat pada rambu agar sampai dengan selamat di jannah-Nya, menjadi tulang punggung yang memikul banyak tanggung jawab. Terlebih lagi wanita, yang kelak menjadi madrasah pertama bagi generasinya, yang mampu menyempurnakan tulang rusuk meski bengkok.
Meski sama-sama terlahir dari rahim ibu, mengutamakan suami dibandingkan ibu adalah kewajiban seorang wanita. Jika surganya laki-laki masih ada di telapak kaki ibu pasca menikah, maka surganya wanita tergantung bagaimana baktinya pada suami.
Pernikahan bukan hanya perkara dunia, tapi akhirat. Segala apa yang diniatkan karena-Nya, pasti ditempuh dengan petunjuk-Nya, bukankah yang diidam-idamkan adalah dipertemukan kembali di surga-Nya dalam keabadian? Sedangkan dunia hanya sementara.
Rumusnya mudah, kejar akhirat, maka dunia akan mengikuti.
Dari aku, yang akan mendampingimu.
Sukabumi, 1 Februari 2019
Thankyou!
Terima kasih untuk segala hal yang diawali dengan niat karena Allah.
Kelak gagah bisa melemah, rupa bisa menua, ingatan bisa terlupa, pun harta hanya untuk dunia semata.
Jadikanlah tujuan ini bermuara akhirat, niscaya surga jadi tempat pertemuan abadi.
Bekal Pulang
Seperti kita masih kecil dulu, betapa senang bukan kalau orang tua pulang kerja bawa buah tangan, entah itu kue-kue atau mainan.
Begitu juga sebaliknya, kalau orang tua pulang gak bawa apa-apa, terkadang kita sedih, pengen jajan, dsb.
Sama hal nya ketika kita sudah dewasa, ingin rasanya bisa membawakan oleh-oleh untuk orang tua kita setelah lelah membanting tulang, supaya mereka senang.
Sedih pula mungkin hati orang tua, jika kita pulang tanpa membuahkan hasil.
Begitu pula dengan Allah,
Bisa jadi sebenarnya Allah begitu menunggu-nunggu kepulangan kita pada-Nya.
Tapi apa yang akan kita bawa pulang nanti? Sudah cukup bekal kita untuk membuat Allah tersenyum? Allah pun tentu sedih kalau kita pulang “gak bawa apa-apa”.
Maka, selagi diberi waktu sama Allah, persiapkanlah bekal terbaik untuk pulang.
Begitu juga sebaliknya, kalau orang tua pulang gak bawa apa-apa, terkadang kita sedih, pengen jajan, dsb.
Sama hal nya ketika kita sudah dewasa, ingin rasanya bisa membawakan oleh-oleh untuk orang tua kita setelah lelah membanting tulang, supaya mereka senang.
Sedih pula mungkin hati orang tua, jika kita pulang tanpa membuahkan hasil.
Begitu pula dengan Allah,
Bisa jadi sebenarnya Allah begitu menunggu-nunggu kepulangan kita pada-Nya.
Tapi apa yang akan kita bawa pulang nanti? Sudah cukup bekal kita untuk membuat Allah tersenyum? Allah pun tentu sedih kalau kita pulang “gak bawa apa-apa”.
Maka, selagi diberi waktu sama Allah, persiapkanlah bekal terbaik untuk pulang.
Belum Seutuhnya
Aku, belum seutuhnya baik. Maka, izinkan aku memperbaiki diri sebelum baik bersamamu.
Aku, belum seutuhnya tahu, bagaimana kelak menjadi taat padamu, bagaimana kelak mendidik generasimu. Maka, izinkan aku mencari tahu sebelum kau beri tahu, agar gelasku tidak terlalu kosong untuk kau isi.
Aku, belum seutuhnya mampu. Jika kelak memampukan sejatinya memang tugasmu. Maka, izinkan aku menjadi mampu memenuhi diriku sendiri sebelum kau sempurnakan kemampuanku.
Aku, belum seutuhnya mencintaimu. Belum diberi hak mencintaimu seutuhnya. Maka, izinkan aku mencintai-Nya dulu. Hingga nanti mencintaimu seutuhnya adalah jalan menuju cinta-Nya.
Aku, belum seutuhnya tahu, bagaimana kelak menjadi taat padamu, bagaimana kelak mendidik generasimu. Maka, izinkan aku mencari tahu sebelum kau beri tahu, agar gelasku tidak terlalu kosong untuk kau isi.
Aku, belum seutuhnya mampu. Jika kelak memampukan sejatinya memang tugasmu. Maka, izinkan aku menjadi mampu memenuhi diriku sendiri sebelum kau sempurnakan kemampuanku.
Aku, belum seutuhnya mencintaimu. Belum diberi hak mencintaimu seutuhnya. Maka, izinkan aku mencintai-Nya dulu. Hingga nanti mencintaimu seutuhnya adalah jalan menuju cinta-Nya.
Moda Online VS Konven
Dewasa ini, kita semakin dimudahkan dengan pesatnya perkembangan teknologi. Dan kali ini aku mau bahas seputar transportasi.
Ngeliat ke belakang dimana pernah terjadi kericuhan antara driver online dengan konven sebetulnya gak aneh sih, disatu sisi kita memang di mudahkan dengan adanya transportasi online, positifnya? Banyak! Salah satunya seorang yang pengangguran bisa punya penghasilan meski hanya bermodalkan kendaraan, tapi dilain sisi ada saudara kita yang pendapatannya tergerus dengan arus globalisasi ini, karena beralih ke yang lebih praktis, yaaa wajar mereka menuntut keadilan.
Cukup lama tinggal di kota besar aku pun sedikit demi sedikit mulai meninggalkan moda konvensional, you know why ya, gak jarang para supir angkot ngetem berjam-jam belum lagi panas nungguinnya padahal kadang kita lagi buru-buru, kalau naik ojek? Mahal. Jadi, buatku memang moda online sangat membantu menunjang kehidupan di kota besar.
Beberapa waktu belakangan ini aku kembali ke kota kecilku, waaaaah udah gabisa disebut kecil lagi meskipun luas nya segitu-gitu aja. Kenapa? Perkembangannya juga ikutan pesat, udah ada transportasi online! Memudahkan? Pastinyaaa.
Tapi di kota kecil ini aku masih memilih naik konvensional dibandingkan online. Selain gak macet-macet amat, jaraknya juga gak kejauhan, ada hal lain yang jadi pertimbanganku.
Coba sesekali kita memposisikan diri sebagai mereka (pengemudi kendaraan konvensional), kenapa sampai ngetem berjam-jam gitu? Mungkin mereka menghemat bahan bakar supaya bisa menghasilkan uang yang cukup dalam sekali jalan, mungkin mereka kejar setoran. Gak jarang aku denger keluh kesah mereka, yaa kita tau angkot itu bukan kepemilikan, so, mereka harus setor minimal 100-200rb ke pemiliknya per hari, itu belum termasuk bensin dan retribusi loh ya, mungkin dulu ketentuan itu gak terlalu mencekik mereka karena masih gampang dapet penumpang. Sekarang? Udah mah rebutan sama online, harga-harga pun selalu naik.
Atau misalnya ojek, aku sih belum paham juga ya kenapa ojek tarifnya mahal banget, mungkin karena mereka gak pake ngetem dan sekali jalan cuma bawa satu penumpang kali ya, mereka pun kalau dipikir pikir kan panas kepanasan, hujan kehujanan.
Pernah terfikir? Kalau mereka itu bisa jadi adalah orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita? Hmm jangan kejam-kejam lah sama supir angkot, mereka emosian ya wajar hidup di jalan, jangan keterlaluan juga kalau bayar ojek, kalau kita punya rejeki lebih anggap aja sedekah, kalau nggak? Jangan lupa bilang “terima kasih”, as simple as that.biarlah Allah yang menilai.
Kedua moda diatas masih yang berbahan bakar loh, belum aku cerita yang pake betis alias tukang becak.
Kadang aku suka mikir gitu ya, kenapa mereka masih bertahan? Kenapa gak pindah jadi driver online aja sih?
Bisa jadi mereka mau tapi terbatas kerena gak punya kendaraan sendiri atau hebatnya mereka itu adalah keyakinannya, mereka yakin bahwa rejeki udah diatur sama Allah, rejeki gak tertukar, asalkan berusaha dan bersyukur, dan mereka merasa cukup, ini sih luar biasa.
Semuanya kembali lagi ke diri masing-masing, mau pakai konven atau online gak masalah, kita pun punya pertimbangan kenapa harus pilih konven atau online, yang terpenting adalah jangan pernah menanggap rendah suatu profesi, karena sejatinya yang membedakan kita di hadapan Allah adalah amalan dan ketakwaan :)
Ngeliat ke belakang dimana pernah terjadi kericuhan antara driver online dengan konven sebetulnya gak aneh sih, disatu sisi kita memang di mudahkan dengan adanya transportasi online, positifnya? Banyak! Salah satunya seorang yang pengangguran bisa punya penghasilan meski hanya bermodalkan kendaraan, tapi dilain sisi ada saudara kita yang pendapatannya tergerus dengan arus globalisasi ini, karena beralih ke yang lebih praktis, yaaa wajar mereka menuntut keadilan.
Cukup lama tinggal di kota besar aku pun sedikit demi sedikit mulai meninggalkan moda konvensional, you know why ya, gak jarang para supir angkot ngetem berjam-jam belum lagi panas nungguinnya padahal kadang kita lagi buru-buru, kalau naik ojek? Mahal. Jadi, buatku memang moda online sangat membantu menunjang kehidupan di kota besar.
Beberapa waktu belakangan ini aku kembali ke kota kecilku, waaaaah udah gabisa disebut kecil lagi meskipun luas nya segitu-gitu aja. Kenapa? Perkembangannya juga ikutan pesat, udah ada transportasi online! Memudahkan? Pastinyaaa.
Tapi di kota kecil ini aku masih memilih naik konvensional dibandingkan online. Selain gak macet-macet amat, jaraknya juga gak kejauhan, ada hal lain yang jadi pertimbanganku.
Coba sesekali kita memposisikan diri sebagai mereka (pengemudi kendaraan konvensional), kenapa sampai ngetem berjam-jam gitu? Mungkin mereka menghemat bahan bakar supaya bisa menghasilkan uang yang cukup dalam sekali jalan, mungkin mereka kejar setoran. Gak jarang aku denger keluh kesah mereka, yaa kita tau angkot itu bukan kepemilikan, so, mereka harus setor minimal 100-200rb ke pemiliknya per hari, itu belum termasuk bensin dan retribusi loh ya, mungkin dulu ketentuan itu gak terlalu mencekik mereka karena masih gampang dapet penumpang. Sekarang? Udah mah rebutan sama online, harga-harga pun selalu naik.
Atau misalnya ojek, aku sih belum paham juga ya kenapa ojek tarifnya mahal banget, mungkin karena mereka gak pake ngetem dan sekali jalan cuma bawa satu penumpang kali ya, mereka pun kalau dipikir pikir kan panas kepanasan, hujan kehujanan.
Pernah terfikir? Kalau mereka itu bisa jadi adalah orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita? Hmm jangan kejam-kejam lah sama supir angkot, mereka emosian ya wajar hidup di jalan, jangan keterlaluan juga kalau bayar ojek, kalau kita punya rejeki lebih anggap aja sedekah, kalau nggak? Jangan lupa bilang “terima kasih”, as simple as that.biarlah Allah yang menilai.
Kedua moda diatas masih yang berbahan bakar loh, belum aku cerita yang pake betis alias tukang becak.
Kadang aku suka mikir gitu ya, kenapa mereka masih bertahan? Kenapa gak pindah jadi driver online aja sih?
Bisa jadi mereka mau tapi terbatas kerena gak punya kendaraan sendiri atau hebatnya mereka itu adalah keyakinannya, mereka yakin bahwa rejeki udah diatur sama Allah, rejeki gak tertukar, asalkan berusaha dan bersyukur, dan mereka merasa cukup, ini sih luar biasa.
Semuanya kembali lagi ke diri masing-masing, mau pakai konven atau online gak masalah, kita pun punya pertimbangan kenapa harus pilih konven atau online, yang terpenting adalah jangan pernah menanggap rendah suatu profesi, karena sejatinya yang membedakan kita di hadapan Allah adalah amalan dan ketakwaan :)
Sudut Pandang “soal kehidupan”
Kali ini aku mau beropini lagi, maklum udah lama gak tumblr-an alhasil kangeeeen banget!
jadi gini, aku lagi pengen share tentang cara pandangku soal kehidupan di usia 20+ usia dimanakita harusnya pada
umumnya udah bisa lebih mandiri dan lebih dewasa dalam menyikapi suatu
hal, gak jarang aku pun ngerasa semakin menjadi orang yang bisa
dibilang “membosankan”, gak jarang malah ngerasa gak nyambung ketika
ngobrolin ini itu dengan temen yang usianya sebaya, lebih tepatnya bukan soal usia tapi soal pola pikir, sih.
sadar gak sadar ternyata aku pribadi lebih menyaring-nyaring lagi mana informasi yang layak diketahui mana informasi yang gak perlu aku tau, simply things aja ketika temen ada yang ngomonin orang, okelah aku masih menghargai untuk mendengarkannya, tapi kalau ikut ngomporin kayanya aku harus mikir lagi deh, bukankah ketika api dibalas api kobarannya itu gak akan pernah padam? hal lain lagi ketika ada yang mengeluh, sangat wajar memang mengeluh itu, karena aku pun masih begitu, tapi kalau semua hal nya jadi soal, you’ll never got the answer, karena solusinya itu simple parahhh, bersyukur, that’s it! contohnya, aku paling seneng liatin lagi foto-foto jaman baheula dan jadi mikir gini “ooohh Allah baik banget yaaa ternyata mimpi aku yang itu pernah dikabulin” dan aku jadi seneng lagi, gak mustahil kok Allah ngabulin apa yang kita mau.
di usia 20+ bahasannya bukan lagi soal sistem kebut semalam karena besoknya mau ujian, bukan lagi soal laporan, bukan lagi soal rapat sana rapat sini sibuk acara ini itu, bukan lagi soal nangis gara gara putus cinta dan sebagainya, tapi pembicaraan udah tentang real life, bukan berarti yang sebelumnya itu gak real ya, hehe. And I relize that “ternyata jadi orang dewasa itu gak sederhana ya” like you’re standing in the middle of the bridge, terkadang kamu ngerasa ada di zona super nyaman aja dengan kamu gak memilih jalan ke tepi kanan atau kiri, tapi gak menutup kemungkinan kan suatu saat jembatan itu bakalan rubuh? atau tiba-tiba ada singa dari samping kanan sementara dari kiri ada ceetah, hayoloh mau lari kemana? satu-satunya cara ya terjun, hahaha.
Iya, jadi hati-hati dengan zona nyaman. Bisa jadi kamu lagi enak-anaknya kerja, menikmati uang hasil keringat sendiri, bisa jadi kamu sedang merangkai mimpi-mimpi baru, soal promosi jabatan, gaji naik, atau mau lanjut magister dengan uang kamu itu, tiba-tiba muncul pertanyaan “kapan nikah?” atau sebaliknya, apa kamu harus terjun aja? haha, ngga kok, you have to choose which option you will take sebelum ada singa dan ceetah tadi, kamu gak perlu kabur, karena kamu gak akan pernah bisa, pada akhirnya kamu akan menjalani hal itu bukan? yang kamu perlukan adalah hadapi, karena pertanyaan-pertanyaan soal kehidupan kita itu gak akan pernah ada abisnya.
memang, sejak jaman media elektronik memperbudak kita, sadar gak sadar hidup orang lain terkadang menjadi ukuran hidup kita, hmm ini bahaya sih. masing-masing dari kita punya batas kemampuan, kalau semua orang jadi expert terus untuk apa ada ilmu? sederhana aja, kita diciptakan unik oleh sang Maha Pencipta. Kamu cukup menggali apa kemampuan dirimu, and you will be the happiest person in the world dengan versimu sendiri tanpa ada yang menyamai. keren kan?
sebenernya ini remind to myself sih, aku pun harus memilih, terlebih lagi tegas pada pilihanku, tentang mau dibawa kemana kehidupan aku setelah ini, ya kalau mau belajar agama belajar yang bener, cari uang cari yang berkah, kalo mau sekolah ya cari ilmu yang bermanfaat, yang terpenting adalah pinter-pinter milih lingkungan, bukan berarti gak mau berbaur, tapi itu yang akhirnya menentukan kamu akan jadi orang baik, orang b aja, atau orang-orang lainnya.
dan satu hal yang sangat perlu kamu tanamkan dalam dirimu yaitu, kamu punya Allah, maka yakinlah kamu ga akan pernah kekurangan sesuatu apapun itu :)
jadi gini, aku lagi pengen share tentang cara pandangku soal kehidupan di usia 20+ usia dimana
sadar gak sadar ternyata aku pribadi lebih menyaring-nyaring lagi mana informasi yang layak diketahui mana informasi yang gak perlu aku tau, simply things aja ketika temen ada yang ngomonin orang, okelah aku masih menghargai untuk mendengarkannya, tapi kalau ikut ngomporin kayanya aku harus mikir lagi deh, bukankah ketika api dibalas api kobarannya itu gak akan pernah padam? hal lain lagi ketika ada yang mengeluh, sangat wajar memang mengeluh itu, karena aku pun masih begitu, tapi kalau semua hal nya jadi soal, you’ll never got the answer, karena solusinya itu simple parahhh, bersyukur, that’s it! contohnya, aku paling seneng liatin lagi foto-foto jaman baheula dan jadi mikir gini “ooohh Allah baik banget yaaa ternyata mimpi aku yang itu pernah dikabulin” dan aku jadi seneng lagi, gak mustahil kok Allah ngabulin apa yang kita mau.
di usia 20+ bahasannya bukan lagi soal sistem kebut semalam karena besoknya mau ujian, bukan lagi soal laporan, bukan lagi soal rapat sana rapat sini sibuk acara ini itu, bukan lagi soal nangis gara gara putus cinta dan sebagainya, tapi pembicaraan udah tentang real life, bukan berarti yang sebelumnya itu gak real ya, hehe. And I relize that “ternyata jadi orang dewasa itu gak sederhana ya” like you’re standing in the middle of the bridge, terkadang kamu ngerasa ada di zona super nyaman aja dengan kamu gak memilih jalan ke tepi kanan atau kiri, tapi gak menutup kemungkinan kan suatu saat jembatan itu bakalan rubuh? atau tiba-tiba ada singa dari samping kanan sementara dari kiri ada ceetah, hayoloh mau lari kemana? satu-satunya cara ya terjun, hahaha.
Iya, jadi hati-hati dengan zona nyaman. Bisa jadi kamu lagi enak-anaknya kerja, menikmati uang hasil keringat sendiri, bisa jadi kamu sedang merangkai mimpi-mimpi baru, soal promosi jabatan, gaji naik, atau mau lanjut magister dengan uang kamu itu, tiba-tiba muncul pertanyaan “kapan nikah?” atau sebaliknya, apa kamu harus terjun aja? haha, ngga kok, you have to choose which option you will take sebelum ada singa dan ceetah tadi, kamu gak perlu kabur, karena kamu gak akan pernah bisa, pada akhirnya kamu akan menjalani hal itu bukan? yang kamu perlukan adalah hadapi, karena pertanyaan-pertanyaan soal kehidupan kita itu gak akan pernah ada abisnya.
Ohya,sudut pandangku soal menikah sendiri mau aku bahas di sesi yang berbeda, biar lebih greget aja gitu.even kamu cewek, kamu harus berani memilih mimpi-mimpi kamu, karena itu hak kamu, tentang bagaimana orang menilai kamu ya itu biar jadi urusan mereka ajalah, toh yang menjalankan hidup juga kamu, kan? stay strong!. Persiapkan segalanya dengan matang, jangan semata-mata karena ikut-ikutan aja tapi nyatanya kamu belum siap untuk bekerja di suatu perusahaan, atau untuk lanjut studi, atau untuk menikah, ataupun untuk berwirausaha.
memang, sejak jaman media elektronik memperbudak kita, sadar gak sadar hidup orang lain terkadang menjadi ukuran hidup kita, hmm ini bahaya sih. masing-masing dari kita punya batas kemampuan, kalau semua orang jadi expert terus untuk apa ada ilmu? sederhana aja, kita diciptakan unik oleh sang Maha Pencipta. Kamu cukup menggali apa kemampuan dirimu, and you will be the happiest person in the world dengan versimu sendiri tanpa ada yang menyamai. keren kan?
sebenernya ini remind to myself sih, aku pun harus memilih, terlebih lagi tegas pada pilihanku, tentang mau dibawa kemana kehidupan aku setelah ini, ya kalau mau belajar agama belajar yang bener, cari uang cari yang berkah, kalo mau sekolah ya cari ilmu yang bermanfaat, yang terpenting adalah pinter-pinter milih lingkungan, bukan berarti gak mau berbaur, tapi itu yang akhirnya menentukan kamu akan jadi orang baik, orang b aja, atau orang-orang lainnya.
dan satu hal yang sangat perlu kamu tanamkan dalam dirimu yaitu, kamu punya Allah, maka yakinlah kamu ga akan pernah kekurangan sesuatu apapun itu :)
Ber-Ibadah
Rumus sederhana dalam hidup itu Ibadah, maksudnya apa ya? Jadi gini,
Aku selalu percaya bahwa apapun yang kita dapatkan itu tergantung pada niat.
Allah itu Maha Baik! Perihal niat ini, hal-hal baik apapun, walaupun baru niatnya aja Allah udah kasih pahala. Beda sama niat buruk, gak langsung Allah catet sebagai perilaku buruk lho..
Faktanya, dalam mencari rejeki, yang utama itu berkah nya. Terus, gimana caranya biar berkah? Yaa dimulai dari niat.
Di tempatku sekarang mungkin salary nya gak seberapa dibanding dengan salary di tempat sebelumnya. Tapi Alhamdulillah Allah bukakan pikiran aku, karena kalau aku disana terus aku bakal gitu-gitu aja, bahkan ada peluang pundi-pundi yang bisa menghapus keberkahan itu tadi.
Nah, dari sana aku mulai meluruskan niat, aku mau kerja untuk ibadah, InsyaAllah. Walaupun dibalik itu ada kekhawatiranku, “gimana kalau udah sibuk dan mulai menunda-nunda waktu shalat lagi?”, “gimana kalau aku ga punya waktu luang lagi untuk tadarus?”.
Hmmm terus aku coba kembali ke rumus sederhana tadi, bismillah, aku kerja untuk ibadah, untuk cari rejeki yang berkah. Simple.
Then Allah show me the way, dimulai dengan visi perusahaan yang se-visi dengan aku, terus lingkungan temen-temennya pun sangat ngedukung aku baik perihal kerjaan maupun ibadah, yang intinya ketika diajakin shalat pada nge-gas gitu. Ditambah lagi Allah tuntun aku supaya bisa meng-upgrade ilmu agama lewat temanku.
Adaaaa aja jalannya, padahal awalnya cuma niat mau kerja untuk ibadah sebagai pengganti ketakutan kalau nantinya malah bakal nunda-nunda shalat karena kerjaan, atau takut gak punya waktu buat tadarusan karena kerjaan. Faktanya gak se-mengeri-kan itu, semoga berkah dan istiqomah, aamiin.
Dari sini aku percaya kalau Ibadah itu gak selalu tentang shalat aja, tadarus aja, zikir aja, sedekah aja. Tapi urusan dunia juga bisa jadi celengan akhirat kalau diniatkan buat Ibadah. Jadi, urusan dunia sama akhirat itu harus seimbang :)
Aku selalu percaya bahwa apapun yang kita dapatkan itu tergantung pada niat.
Allah itu Maha Baik! Perihal niat ini, hal-hal baik apapun, walaupun baru niatnya aja Allah udah kasih pahala. Beda sama niat buruk, gak langsung Allah catet sebagai perilaku buruk lho..
So, apa kaitan niat dengan ibadah?
Aku sendiri sekarang lagi belajar nerapin kunci ini sama diriku sendiri. Aku ambil contoh dari pengalaman kerja aja misalnya, dulu sebagai fresh graduate pastinya kita punya ekspektasi tinggi akan pekerjaan, kadang kita juga berfikir bahwa salary menjadi tolak ukur utama.Faktanya, dalam mencari rejeki, yang utama itu berkah nya. Terus, gimana caranya biar berkah? Yaa dimulai dari niat.
Di tempatku sekarang mungkin salary nya gak seberapa dibanding dengan salary di tempat sebelumnya. Tapi Alhamdulillah Allah bukakan pikiran aku, karena kalau aku disana terus aku bakal gitu-gitu aja, bahkan ada peluang pundi-pundi yang bisa menghapus keberkahan itu tadi.
Nah, dari sana aku mulai meluruskan niat, aku mau kerja untuk ibadah, InsyaAllah. Walaupun dibalik itu ada kekhawatiranku, “gimana kalau udah sibuk dan mulai menunda-nunda waktu shalat lagi?”, “gimana kalau aku ga punya waktu luang lagi untuk tadarus?”.
Hmmm terus aku coba kembali ke rumus sederhana tadi, bismillah, aku kerja untuk ibadah, untuk cari rejeki yang berkah. Simple.
Then Allah show me the way, dimulai dengan visi perusahaan yang se-visi dengan aku, terus lingkungan temen-temennya pun sangat ngedukung aku baik perihal kerjaan maupun ibadah, yang intinya ketika diajakin shalat pada nge-gas gitu. Ditambah lagi Allah tuntun aku supaya bisa meng-upgrade ilmu agama lewat temanku.
Adaaaa aja jalannya, padahal awalnya cuma niat mau kerja untuk ibadah sebagai pengganti ketakutan kalau nantinya malah bakal nunda-nunda shalat karena kerjaan, atau takut gak punya waktu buat tadarusan karena kerjaan. Faktanya gak se-mengeri-kan itu, semoga berkah dan istiqomah, aamiin.
Dari sini aku percaya kalau Ibadah itu gak selalu tentang shalat aja, tadarus aja, zikir aja, sedekah aja. Tapi urusan dunia juga bisa jadi celengan akhirat kalau diniatkan buat Ibadah. Jadi, urusan dunia sama akhirat itu harus seimbang :)
Sajak
Sejatinya hatiku tahu siapa kamu, sedang mereka tidak.
Izinkan kenyamananku mengakar pada titik ini. Hingga kelak izin Tuhan yang menjadikannya tumbuh dan berbuah.Kepada mereka, tak perlu kau unjukkan akarnya bukan? Biarlah kelak mereka mencicipi manis buahnya saja.
Bilamana buahnya habis, musim berganti kau tetap bersemi. Lain jika akar yang habis, habislah sudah, yang ditanam takkan berbuah lagi.
-Bogor, 01 Januari 2018
2018
Bisakah untuk tidak lagi membahas siapa aku ataupun siapa kamu? Tapi cobalah untuk mulai membahas tentang siapa kita -aku dan kamu?. Pun tentang, itu salahku atau itu salahmu, tapi tentang bagaimana kita membenarkan yang salah itu. Bukan lagi soal pulang atau pergi, tapi soal kembali pada satu tujuan.
Semoga Allah merahmati.Matematika
Hitung-hitungannya manusia itu adalah hitungan yang paling sederhana,
hitungan yang mutlak, yang bernilai pasti. Contoh, satu tambah satu
sama dengan dua. Itu secara logika gak mungkin jadi tiga, empat atau
lima.
Beda sama matematika nya Allah, kita nih shalat sendiri yaudah itu pahalanya satu tapi ketika kita shalat berjamaah pahalanya berlipat jadi 27 derajat, terus kita sedekah berapa pun itu jumlahnya akan digandakan 7x lipat sama Allah, tapi jangan dihitung begitu yaaa. Inget… Matematika nya Allah itu bukan matematika yang sederhana, ada hal-hal yang gak bisa dibeli dengan harta, seperti keluarga, kebahagiaan dan ketenangan. Maka dari itu, ibadah kita gak akan pernah cukup untuk membalas nikmat yang Allah kasih, lah orang ditambah terus sama Allah, Allah baik ya
“Kenapa masih harus pake matematika manusia sih dalam mencari berkah? mencari ridho Allah? da dunia mah sementara”. Itu yang mamah sering tanamkan pada saya.
Sejatinya manusia diciptakan dengan akal dan hati, udah spesial banget! itu lebih spesial daripada martabak asin yang pake telor bebek dobel. Jadi, akal dan hati itu harus seimbang, kita boleh kok berfikir untung-rugi, manusiawi. Tapi coba tanya lagi hatinya, setelah untung apakah hati bener-bener seneng? Gak jarang malah jadi was-was takut rugi lagi, gamau mencoba hal baru karena udah terlanjur nyaman, misalnya. Padahal kalau sekalinya kita pake hati, ada kepuasan tersendiri yang bikin akal rela nerima.
Saya kemarin ikut workshop yoga tentang hormone balance. Dijelaskan dimana pusat pengatur seluruh hormon itu adanya di hipotalamus, bagian otak yang kemudian memerintahkan organ tubuh menghasilkan hormon, senang atau sedih kita itu tergantung hormon, contohnya stress aja, itu diatur sama hormon. Lalu kemudian ada pertanyaan “kalau begitu gimana cara mengatasi stress itu tadi? Kan hormon nya udah terbentuk?”, coach nya jawab, “atur nafas kita, semua kembali ke nafas, tarik nafas dalam-dalam ketika emosi, biarkan fikiran kita berfikir dulu sebelum bertindak”. Ya, memang inti yoga itu adalah olah nafas. Maka, saya punya pendapat sendiri dari hal ini, kalau semua kemudian diatur oleh nafas, berarti pada hakikatnya manusia itu bisa berfikir, bisa bertindak ketika hati atau perasaan senang, enjoy. Setelah itu baru deh bisa berfikir positif, gak salah memang, berfikir positif akan mengeluarkan energi positif, tapi perlu diinget kalau pikiran itu gak jarang gak jauh dari hitungan untung-rugi.
Lalu ada lagi passion, saya baru dapet materi ini dari kelas mentoring. Passion itu datengnya dari mana? Jawabannya, dari diri sendiri, ketika logika orang lain berpikir “ih gak capek apa?” tapi nurani kita yang jawab “hmm nggak sih, gatau deh kenapa” bahkan si pikiran kita pun gak habis pikir, kok bisa?. Itu, contoh simple beda antara hati dan pikiran.
Jadi, kembali lagi, hitungan Allah sama manusia itu jaaauh berbeda. Allah cuma nyuruh kita bersyukur lalu akan ditambah lagi ditambah terus gak abis-abis itu nikmat. Coba ke manusia, dikasih materi segunung-gunung tapi nyikapinnya pake logika, ya pasti abis itu materi, gak akan pernah cukup.
Sekian sharing kali ini, semoga hati yang gundah gulana jadi tenang setelah baca ini yaa, aamiin.
Beda sama matematika nya Allah, kita nih shalat sendiri yaudah itu pahalanya satu tapi ketika kita shalat berjamaah pahalanya berlipat jadi 27 derajat, terus kita sedekah berapa pun itu jumlahnya akan digandakan 7x lipat sama Allah, tapi jangan dihitung begitu yaaa. Inget… Matematika nya Allah itu bukan matematika yang sederhana, ada hal-hal yang gak bisa dibeli dengan harta, seperti keluarga, kebahagiaan dan ketenangan. Maka dari itu, ibadah kita gak akan pernah cukup untuk membalas nikmat yang Allah kasih, lah orang ditambah terus sama Allah, Allah baik ya
“Kenapa masih harus pake matematika manusia sih dalam mencari berkah? mencari ridho Allah? da dunia mah sementara”. Itu yang mamah sering tanamkan pada saya.
Sejatinya manusia diciptakan dengan akal dan hati, udah spesial banget! itu lebih spesial daripada martabak asin yang pake telor bebek dobel. Jadi, akal dan hati itu harus seimbang, kita boleh kok berfikir untung-rugi, manusiawi. Tapi coba tanya lagi hatinya, setelah untung apakah hati bener-bener seneng? Gak jarang malah jadi was-was takut rugi lagi, gamau mencoba hal baru karena udah terlanjur nyaman, misalnya. Padahal kalau sekalinya kita pake hati, ada kepuasan tersendiri yang bikin akal rela nerima.
Saya kemarin ikut workshop yoga tentang hormone balance. Dijelaskan dimana pusat pengatur seluruh hormon itu adanya di hipotalamus, bagian otak yang kemudian memerintahkan organ tubuh menghasilkan hormon, senang atau sedih kita itu tergantung hormon, contohnya stress aja, itu diatur sama hormon. Lalu kemudian ada pertanyaan “kalau begitu gimana cara mengatasi stress itu tadi? Kan hormon nya udah terbentuk?”, coach nya jawab, “atur nafas kita, semua kembali ke nafas, tarik nafas dalam-dalam ketika emosi, biarkan fikiran kita berfikir dulu sebelum bertindak”. Ya, memang inti yoga itu adalah olah nafas. Maka, saya punya pendapat sendiri dari hal ini, kalau semua kemudian diatur oleh nafas, berarti pada hakikatnya manusia itu bisa berfikir, bisa bertindak ketika hati atau perasaan senang, enjoy. Setelah itu baru deh bisa berfikir positif, gak salah memang, berfikir positif akan mengeluarkan energi positif, tapi perlu diinget kalau pikiran itu gak jarang gak jauh dari hitungan untung-rugi.
Lalu ada lagi passion, saya baru dapet materi ini dari kelas mentoring. Passion itu datengnya dari mana? Jawabannya, dari diri sendiri, ketika logika orang lain berpikir “ih gak capek apa?” tapi nurani kita yang jawab “hmm nggak sih, gatau deh kenapa” bahkan si pikiran kita pun gak habis pikir, kok bisa?. Itu, contoh simple beda antara hati dan pikiran.
Jadi, kembali lagi, hitungan Allah sama manusia itu jaaauh berbeda. Allah cuma nyuruh kita bersyukur lalu akan ditambah lagi ditambah terus gak abis-abis itu nikmat. Coba ke manusia, dikasih materi segunung-gunung tapi nyikapinnya pake logika, ya pasti abis itu materi, gak akan pernah cukup.
Sekian sharing kali ini, semoga hati yang gundah gulana jadi tenang setelah baca ini yaa, aamiin.
Desember Rain
Hujan tak pernah monoton. Banyak rima mengalun lara kala bercerita
tentang hujan. Memang, hujan paling pandai membawa serta setiap kenangan
yang bahkan sudah terkubur dalam-dalam. Tentang bersama siapa, berada
dimana, membicarakan apa saat hujan, dengan sang pujaan.
Hujan paling piawai membuat kisah menjadi semakin romantis. Bagaimana tidak? membuat dua insan betah berlama-lama berteduh di emperan toko pinggir jalan, dan dikemasnya kepedulian “kamu saja yang pakai raincoat nya, jangan sampai sakit,” sesederhana itu.
Hujan juga bercerita tentang kesetiaan, seseorang rela basah kuyup agar sampai tepat waktu di tujuan, karena tak rela mengingkari janji. Contoh kecil, driver motor online rela hujan-hujanan tak peduli perutnya sudah terisi atau belum, bukan sekedar untuk cari bonus, dibaliknya ada janji “pulang nanti, ayah akan bawakan fried chicken ya nak”.
Hujan sebagai pundi-pundi rejeki bagi supir angkot yang kini popularitasnya mulai tergusur akibat angkutan online yang merajalela.
Hujan adalah kebahagiaan tak terhingga, bagi anak-anak yang senang menari-nari kecil ditengah bisik rintik-rintiknya, tapi hujan bisa jadi begitu menjengkelkan bagi para ibu-ibu setelah tau apa yang diperbuat anaknya hingga basah kuyup seperti itu.
Hujan anugerah, bagi setiap lahan yang tengah kekeringan, tapi hujan bisa jadi musibah bagi kota metropolitan yang kebanjiran ditengah hiruk pikuk kemacetan.
Hujan tak sekedar dingin, tapi juga kehangatan. Bayangkan, kapan waktu yang paling tepat untuk menyantap semangkuk mie instant atau setiap cangkir kopi tubruk yang disajikan? untuk sekedar mengusir rasa dingin yang berkelanjutan, lagi-lagi akan lebih sempurna bila disantap bersama sang pujaan.
Hujan itu kamu, yang tak bisa diprediksi kapan datang dan pergi. Jika kelak hujan turun, sudikah kau datang kemari? Menemaniku menyantap semangkuk mie? Atau menari kala rintiknya turun ke bumi?
Jika saja, meski hujan telah reda, ku harap aku bisa tetap berlama-lama, menahan kau agar kita terus bersama, tapi nyatanya aku hanya seorang wanita yang tak pandai berkata-kata, dan hanya mampu menyebutmu dalam doa.
By me
Published at https://komidiputarzine.wordpress.com/2017/12/03/komidi-putar-edisi-desember-2017/
Hujan paling piawai membuat kisah menjadi semakin romantis. Bagaimana tidak? membuat dua insan betah berlama-lama berteduh di emperan toko pinggir jalan, dan dikemasnya kepedulian “kamu saja yang pakai raincoat nya, jangan sampai sakit,” sesederhana itu.
Hujan juga bercerita tentang kesetiaan, seseorang rela basah kuyup agar sampai tepat waktu di tujuan, karena tak rela mengingkari janji. Contoh kecil, driver motor online rela hujan-hujanan tak peduli perutnya sudah terisi atau belum, bukan sekedar untuk cari bonus, dibaliknya ada janji “pulang nanti, ayah akan bawakan fried chicken ya nak”.
Hujan sebagai pundi-pundi rejeki bagi supir angkot yang kini popularitasnya mulai tergusur akibat angkutan online yang merajalela.
Hujan adalah kebahagiaan tak terhingga, bagi anak-anak yang senang menari-nari kecil ditengah bisik rintik-rintiknya, tapi hujan bisa jadi begitu menjengkelkan bagi para ibu-ibu setelah tau apa yang diperbuat anaknya hingga basah kuyup seperti itu.
Hujan anugerah, bagi setiap lahan yang tengah kekeringan, tapi hujan bisa jadi musibah bagi kota metropolitan yang kebanjiran ditengah hiruk pikuk kemacetan.
Hujan tak sekedar dingin, tapi juga kehangatan. Bayangkan, kapan waktu yang paling tepat untuk menyantap semangkuk mie instant atau setiap cangkir kopi tubruk yang disajikan? untuk sekedar mengusir rasa dingin yang berkelanjutan, lagi-lagi akan lebih sempurna bila disantap bersama sang pujaan.
Hujan itu kamu, yang tak bisa diprediksi kapan datang dan pergi. Jika kelak hujan turun, sudikah kau datang kemari? Menemaniku menyantap semangkuk mie? Atau menari kala rintiknya turun ke bumi?
Jika saja, meski hujan telah reda, ku harap aku bisa tetap berlama-lama, menahan kau agar kita terus bersama, tapi nyatanya aku hanya seorang wanita yang tak pandai berkata-kata, dan hanya mampu menyebutmu dalam doa.
By me
Published at https://komidiputarzine.wordpress.com/2017/12/03/komidi-putar-edisi-desember-2017/
Mendengar suara
Mulutnya berbisik, tapi hatinya menjerit.
Suara mereka yang nasibnya semakin tercekik.
Benar memang, perihal kesejahteraan hidup sudah seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing.
Tapi bukan berarti mereka yang hidup sulit itu karena enggan berusaha. Bisa jadi kerja mereka lebih berat.
Berangkat pagi hingga malam sembari memikul barang dagangan, tak kenal panas ataupun hujan.
Mengetuk satu per satu pintu rumah bukan untuk meminta-minta, lalu kemudian hanya berapa hati yang berhasil ia ketuk? Mungkin bisa dihitung jari.
Mereka hanya terbatas.
Mimpi mereka sama, ingin mempunyai kehidupan yang layak, ingin mencicipi makanan enak, banting tulang hanya demi menyekolahkan anak.
Tak jarang apa yang kemudian menjadi kebijakan untuk tujuan kesejahteraan malah semakin memperkaya si kaya.
“sekarang harga serba naik neng, tapi pendapatan segitu-gitu aja. Subsidi udah dicabut, belum lagi katanya daya listrik mau dinaikin juga. Orang kaya kita mah buat dipake apa? 900 kwh aja udah cukup. Buat yang jualan, bingung nentuin harga jual soalnya harga bahan baku ga nentu, apalagi biasanya kalau udah naik gak akan turun lagi, tapi kalau harga dagangannya dinaikin, malah pelanggannya yang kabur. Buat yang kerja kantoran gajinya segitu-gitu aja, paling kalau naik setaun sekali itu pun gak seberapa dibandingin sama kenaikan harga yang naiknya setiap bulan”. Tentang sekilas suara yang terdengar di balik bilik.
Meski begitu, mungkin mereka yang berperan dibalik beton sana sudah berupaya membuat kebijakan se-maksimal mungkin.
Semoga, semoga, semoga setiap upaya tidak merugikan sebelah pihak.
Suara mereka yang nasibnya semakin tercekik.
Benar memang, perihal kesejahteraan hidup sudah seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing.
Tapi bukan berarti mereka yang hidup sulit itu karena enggan berusaha. Bisa jadi kerja mereka lebih berat.
Berangkat pagi hingga malam sembari memikul barang dagangan, tak kenal panas ataupun hujan.
Mengetuk satu per satu pintu rumah bukan untuk meminta-minta, lalu kemudian hanya berapa hati yang berhasil ia ketuk? Mungkin bisa dihitung jari.
Mereka hanya terbatas.
Mimpi mereka sama, ingin mempunyai kehidupan yang layak, ingin mencicipi makanan enak, banting tulang hanya demi menyekolahkan anak.
Tak jarang apa yang kemudian menjadi kebijakan untuk tujuan kesejahteraan malah semakin memperkaya si kaya.
“sekarang harga serba naik neng, tapi pendapatan segitu-gitu aja. Subsidi udah dicabut, belum lagi katanya daya listrik mau dinaikin juga. Orang kaya kita mah buat dipake apa? 900 kwh aja udah cukup. Buat yang jualan, bingung nentuin harga jual soalnya harga bahan baku ga nentu, apalagi biasanya kalau udah naik gak akan turun lagi, tapi kalau harga dagangannya dinaikin, malah pelanggannya yang kabur. Buat yang kerja kantoran gajinya segitu-gitu aja, paling kalau naik setaun sekali itu pun gak seberapa dibandingin sama kenaikan harga yang naiknya setiap bulan”. Tentang sekilas suara yang terdengar di balik bilik.
Meski begitu, mungkin mereka yang berperan dibalik beton sana sudah berupaya membuat kebijakan se-maksimal mungkin.
Semoga, semoga, semoga setiap upaya tidak merugikan sebelah pihak.
Masa di Depan
Sebetulnya bukan hal yang mudah, di masa depan nanti sudah pasti
akan ditemukan jurang yang begitu terjal dan tebing yang begitu curam.
Memilih,
Dengan siapa kelak menyatu-padukan hidup bukan lagi bicara perihal masa ini, bisa saja kamu begitu terpesona akan kecantikan seseorang, sadarkah kelak ia akan menua? Keriputnya tidak bisa lagi disamarkan dengan make up apapun, bagaimana jika dia tak secantik masa mudanya lagi? Atau, bisa saja kamu begitu kagum akan kekuatannya, sadarkah kelak ia akan melemah? Bagaimana jika dia bahkan tidak bisa menjagamu lagi?Menerima,
Nantinya, segala kriteria tentang seseorang yang dipandang begitu sempurna akan sirna bukan? Terlebih setelah hidup bersama, dan kamu akan tahu kelemahan dan kekurangannya. Lalu, jangan lagi jadikan ego sebagi bumerang, namun berjanjilah akan memahami dan saling melengkapi, bukankah tidak ada makhluk yang sempurna?Mungkin,
Pada usia 30 sampai 50 tahun dia masih sanggup menafkahimu, menjagamu, merawat anak-anakmu, pergi kerja sebelum matahari terbit, pulang saat matahari terbenam. Pada usia itu dia masih bisa berkarir, memasakkan makanan yang paling enak sedunia, bahkan lidahmu sudah tidak hafal lagi rasa masakan ibumu.Lalu,
Menjelang usia senja, karirmu berakhir, anak-anakmu tidak lagi tinggal bersama, bahkan mungkin bisa saja mereka lupa mengabarimu atau menanyakan kabarmu. Sehari-hari kamu hanya akan menghabiskan sisa usia dengan seorang yang kau pilih, yang sudah tidak bekerja, sudah keriput, masakannya pun seringkali terlampau asin atau bahkan terasa hambar.Kelak,
Akankah kamu merasa bosan? Atau malah terbiasa? Kala hal ini melanda, ingatlah bagaimana kamu begitu sulit memperjuangkannya, ingatlah kamu pernah ragu hingga benar-benar yakin memilihnya, ingatlah bagaimana kamu sama-sama membangun segalanya dari nol, ingatlah siapa yang mengusap keringatmu, ingatlah bahwa pernah terlahir generasimu yang lebih hebat dari rahimnya.Maka,
Selamat terjun menyelami kehidupannya, berjanjilah untuk tidak saling menyakiti, sekalipun ada air mata, jadikan air mata yang jatuh adalah air mata bahagia, sekali pun ada perpisahan, janjikan bahwa hanya kematian yang dapat memisahkan, karena yang begitu kelak akan di pertemukan kembali, di surga.Logika dan Rasa
Akulah satu yang kau bagi dua.
Menjadi logika dan rasa.
Tak pernah berhenti.
Berdebat dengan diri sendiri.
Takkala logika berkata tidak.
Tapi rasa berkata iya.
Jangan membisu.
Ini ambigu.
Bicaralah.
Atau aku mengalah.
Jujur.
Atau aku yang mundur.
ehnqsworld.tumblr.com, Page 20.
Menghargai hari ini
Akhir-akhir ini aku lagi coba jalanin yoga rutin, bukan masalah tren
atau pengen gegayaan, tapi aku sadar kalau aku butuh, aku pilih yoga
karena selain badan kerasa lebih seger, pikiran juga jadi lebih jernih,
karena dalam yoga kita selalu dibawa kembali ke nafas dan fokus.
Kemarin, kebetulan aku dateng pertama, belum ada siapa siapa di studio, ada buku yang keliatan menarik untuk dibaca. Kesimpulan bagus yang aku ambil dari buku itu adalah, seringkali kita dibuat pusing akan masa lalu, ataupun masa depan, seringkali kita lupa bahwa yang kita hadapi adalah masa sekarang, saat ini, yang kita sedang jalani. Hal itu bukan berarti kita gak boleh memikirkan masa depan, apalagi gak punya tujuan hidup, bukan. Tapi ada kalanya kita perlu mengapresiasi diri kita, mungkin kita sadar masa lalu kita ga baik-baik amat misalnya, tapi hari ini? Siapa tau kita sebetulnya sudah lebih baik dari masa lalu kita, hanya saja kita sibuk memikirkan itu tanpa menyadari hari ini. Atau, kita ingin begini ingin begitu di masa depan, memang, ada yang harus dipersiapkan untuk menghadapi masa depan itu, kapan mempersiapkannya? Saat ini bukan? Just do it and appreciate yourself today. Bukankah dalam islam diajarkan agar senantiasa berpasrah diri setelah berusaha dan berdoa dengan maksimal? Percaya deh, pasti ada aja jalannya. Maksudku disini, coba untuk tidak terlalu fokus pada tujuan, fokuslah pada proses.
Ada istilah “penyesalan itu datangnya terlambat” sehingga akhirnya berfikir “coba dulu gini, coba dulu gitu” aku rasa itu gak perlu lagi ketika kita udah mampu menghargai hari ini.
Singkat cerita, dulu aku diminta orang tua untuk lanjut ke sekolah kedinasan, tapi nyatanya takdir berkata lain, lalu setelah lulus? Memang ada rasa kebingungan, jarang sekali ada perusahaan (terutama yang aku harapkan ada peluang) yang membuka khusus jurusanku, sempat terfikir memang, apa salah jurusan ya dulu? Coba dulu ambil ini, coba dulu ambil itu. Tapi untuk apa? Toh beras sudah menjadi bubur, tinggal gimana tukang bubur nya naik haji, kan? Haha. Akhirnya aku bekerja di perusahaan yang bertolak belakang banget sama latar belakang aku, tapi disini aku dapet banyak pengalaman baru, banyak ilmu baru, mungkin kalau pekerjaanku linier gak akan sebanyak ini pengalaman dan ilmu baruku, flashback lagi,sayang dong ilmunya? Nggak, Alhamdulillah apa yang aku pelajari dulu adalah ilmu sehari-hari, everyone needs food right? Everyone wants to be healthy, yay? Aku sih liatnya gitu, ilmunya bisa ku terapin sendiri dan untuk keluarga aku, selain itu juga ada aja ko yang tiba-tiba nanya tips diet dsb, alhamdulillah disitu ilmuku bisa bermanfaat buat orang lain. Lalu kedepannya mau jadi apa? Liat aja nanti ya hehe, setiap orang punya mimpi masing-masing, aku sih lebih prever menyerahkannya sama Allah, bergantung sama manusia bisa aja kecewa, tapi Allah gak pernah bikin hambanya kecewa. Lillahita'ala aja, yang jelas sekarang aku lagi menikmati setiap proses yang kujalani.
Kemarin, kebetulan aku dateng pertama, belum ada siapa siapa di studio, ada buku yang keliatan menarik untuk dibaca. Kesimpulan bagus yang aku ambil dari buku itu adalah, seringkali kita dibuat pusing akan masa lalu, ataupun masa depan, seringkali kita lupa bahwa yang kita hadapi adalah masa sekarang, saat ini, yang kita sedang jalani. Hal itu bukan berarti kita gak boleh memikirkan masa depan, apalagi gak punya tujuan hidup, bukan. Tapi ada kalanya kita perlu mengapresiasi diri kita, mungkin kita sadar masa lalu kita ga baik-baik amat misalnya, tapi hari ini? Siapa tau kita sebetulnya sudah lebih baik dari masa lalu kita, hanya saja kita sibuk memikirkan itu tanpa menyadari hari ini. Atau, kita ingin begini ingin begitu di masa depan, memang, ada yang harus dipersiapkan untuk menghadapi masa depan itu, kapan mempersiapkannya? Saat ini bukan? Just do it and appreciate yourself today. Bukankah dalam islam diajarkan agar senantiasa berpasrah diri setelah berusaha dan berdoa dengan maksimal? Percaya deh, pasti ada aja jalannya. Maksudku disini, coba untuk tidak terlalu fokus pada tujuan, fokuslah pada proses.
Ada istilah “penyesalan itu datangnya terlambat” sehingga akhirnya berfikir “coba dulu gini, coba dulu gitu” aku rasa itu gak perlu lagi ketika kita udah mampu menghargai hari ini.
Singkat cerita, dulu aku diminta orang tua untuk lanjut ke sekolah kedinasan, tapi nyatanya takdir berkata lain, lalu setelah lulus? Memang ada rasa kebingungan, jarang sekali ada perusahaan (terutama yang aku harapkan ada peluang) yang membuka khusus jurusanku, sempat terfikir memang, apa salah jurusan ya dulu? Coba dulu ambil ini, coba dulu ambil itu. Tapi untuk apa? Toh beras sudah menjadi bubur, tinggal gimana tukang bubur nya naik haji, kan? Haha. Akhirnya aku bekerja di perusahaan yang bertolak belakang banget sama latar belakang aku, tapi disini aku dapet banyak pengalaman baru, banyak ilmu baru, mungkin kalau pekerjaanku linier gak akan sebanyak ini pengalaman dan ilmu baruku, flashback lagi,sayang dong ilmunya? Nggak, Alhamdulillah apa yang aku pelajari dulu adalah ilmu sehari-hari, everyone needs food right? Everyone wants to be healthy, yay? Aku sih liatnya gitu, ilmunya bisa ku terapin sendiri dan untuk keluarga aku, selain itu juga ada aja ko yang tiba-tiba nanya tips diet dsb, alhamdulillah disitu ilmuku bisa bermanfaat buat orang lain. Lalu kedepannya mau jadi apa? Liat aja nanti ya hehe, setiap orang punya mimpi masing-masing, aku sih lebih prever menyerahkannya sama Allah, bergantung sama manusia bisa aja kecewa, tapi Allah gak pernah bikin hambanya kecewa. Lillahita'ala aja, yang jelas sekarang aku lagi menikmati setiap proses yang kujalani.
Happy Monday everyone! :)
Ekonomi kini
Saya bukan seorang ekonom, saya sarjana gizi. Tapi fenomena tentang
rendahnya daya beli masyarakat saat ini sangat menarik, saya memang gak
punya literatur untuk membahas spesifik angka angka nya, tapi lebih ke
perilaku nya (based on my experience juga sih, sekalian curhat
gpp ya haha). Diluar dari saya bukan seorang ekonom atau seorang sarjana
gizi yang bekerja sebagai sales yang notaben nya terkait langsung
dengan sistem jual beli, disini saya sebagai tenaga survey, yang biasa
turun ke lapang, melihat orang dari sisi ekonomi nya. Abis apa lagi dong? Orang pun kalau mau gizi nya terpenuhi harus ekonomi nya dulu yang memadai bukan?
Udah banyak yaa berita tentang daya beli ini, mulai dari isu pergeseran ke belanja online, lalu tutup nya toko retail, ada juga yang bilang hanya sekedar isu politik, dan sebagai nya. Saya sendiri banyak turun ke masyarakat, terutama kelas menengah-bawah, mayoritas yang mereka curhatin adalah penghasilan mereka yang stagnan tapi harus bertahan ditengah perubahan harga yang pesat. Adalah wajar menurut saya kalau masyarakat terutama kelas menengah-bawah memprioritaskan urusan perut dulu dibandingkan lifestyle. Lain hal nya dengan masyarakat kelas menengah-atas kalau pun penghasilan mereka stagnan tapi kebutuhan masih bisa terpenuhi, hanya saja adanya pergeseran gaya hidup dari good-based-consumption menjadi experience-based-consumption, jamannya udah bukan lagi pamer barang, tapi lebih ke experience, bahasa sederhana nya “gimana cara biar feed instagram lebih menarik”, di lain sisi juga sekarang ini tekanan pekerjaan semakin berat, salah satu obat penghilang penat ya liburan, kan? Tercatat juga di beberapa artikel kalau penjualan tiket baik hotel, pesawat maupun kereta api cepet banget ludes nya, ditambah biasanya ada promo-promo yang bikin menarik.
Based on my experience sih, semenjak hilangnya kehidupan kampus dengan wi-fi gratis nya yang mensejahterakan mahasiswa, sekarang kalau mau wi-fi cari tempat enak untuk ngerjain kerjaan, selain itu yang aku rasain sekarang udah mulai susah buat cari tiket pulang, padahal timbang jarak sukabumi-bogor tapi pesen tiket pulang terutama pas weekend harus H-3 minggu, selain itu di sukabumi sendiri yang kota kecil kota dengan UMP yang standar aja udah menjamur cafe-cafe. Dulu juga pernah, buat nyebrang dari bangka ke belitung pas tugas negara keabisan tiket padahal dikejar deadline, alhasil orang kantor ngomel juga “kok sekarang tiket pesawat cepet abis ya? Dulu pesen hari H pun masih bisa” ya itu tadi, pergeseran gaya hidup, ditambah akses memperoleh nya juga udah makin gampang, tinggal klik lewat gadget, then you can buy the world.
Ya semoga aja ke depannya program Bapak presiden kita tentang program padat karya cash yang diperuntukan bagi peningkatan ekonomi kaum menengah-bawah bisa terealisasi setelah belakangan ini banyak ibu-ibu mengeluhkan banyaknya subsidi yang terputus, kan biar mereka juga bisa pada jalan-jalan hehe. Terus sales dan karyawan-karyawan pertokoan juga bisa sejahtera lagi.
Udah banyak yaa berita tentang daya beli ini, mulai dari isu pergeseran ke belanja online, lalu tutup nya toko retail, ada juga yang bilang hanya sekedar isu politik, dan sebagai nya. Saya sendiri banyak turun ke masyarakat, terutama kelas menengah-bawah, mayoritas yang mereka curhatin adalah penghasilan mereka yang stagnan tapi harus bertahan ditengah perubahan harga yang pesat. Adalah wajar menurut saya kalau masyarakat terutama kelas menengah-bawah memprioritaskan urusan perut dulu dibandingkan lifestyle. Lain hal nya dengan masyarakat kelas menengah-atas kalau pun penghasilan mereka stagnan tapi kebutuhan masih bisa terpenuhi, hanya saja adanya pergeseran gaya hidup dari good-based-consumption menjadi experience-based-consumption, jamannya udah bukan lagi pamer barang, tapi lebih ke experience, bahasa sederhana nya “gimana cara biar feed instagram lebih menarik”, di lain sisi juga sekarang ini tekanan pekerjaan semakin berat, salah satu obat penghilang penat ya liburan, kan? Tercatat juga di beberapa artikel kalau penjualan tiket baik hotel, pesawat maupun kereta api cepet banget ludes nya, ditambah biasanya ada promo-promo yang bikin menarik.
Based on my experience sih, semenjak hilangnya kehidupan kampus dengan wi-fi gratis nya yang mensejahterakan mahasiswa, sekarang kalau mau wi-fi cari tempat enak untuk ngerjain kerjaan, selain itu yang aku rasain sekarang udah mulai susah buat cari tiket pulang, padahal timbang jarak sukabumi-bogor tapi pesen tiket pulang terutama pas weekend harus H-3 minggu, selain itu di sukabumi sendiri yang kota kecil kota dengan UMP yang standar aja udah menjamur cafe-cafe. Dulu juga pernah, buat nyebrang dari bangka ke belitung pas tugas negara keabisan tiket padahal dikejar deadline, alhasil orang kantor ngomel juga “kok sekarang tiket pesawat cepet abis ya? Dulu pesen hari H pun masih bisa” ya itu tadi, pergeseran gaya hidup, ditambah akses memperoleh nya juga udah makin gampang, tinggal klik lewat gadget, then you can buy the world.
Ya semoga aja ke depannya program Bapak presiden kita tentang program padat karya cash yang diperuntukan bagi peningkatan ekonomi kaum menengah-bawah bisa terealisasi setelah belakangan ini banyak ibu-ibu mengeluhkan banyaknya subsidi yang terputus, kan biar mereka juga bisa pada jalan-jalan hehe. Terus sales dan karyawan-karyawan pertokoan juga bisa sejahtera lagi.
Kan.. Kan.. Jadi tertarik belajar lebih dalem soal ekonomi, eh tapi sekedar aja deng, masyarakat masih butuh ahli gizi buat menopang kesejahteraan dari sisi kesehatannya :)
Menjadikan kekuranganmu sebagai kelebihan
Kali ini saya terinspirasi menulis setelah menonton channel di
youtube tentang stay or leave the comfort zone? Intisari nya simple,
stay or leave tergantung pada diri sendiri, yang terpenting adalah
bagaimana kita menyikapi suatu masalah. Pikiran positif akan membawa
kita ke arah positif, begitu pun sebaliknya. Bisa jadi saat ini kita
sedang berada di zona ternyaman kita, tapi kita belum tentu tau apa yang
akan kita hadapi di depan, prepare yourself toward changing and always
be positive!
People may have goodness and weakness. Sangat diperbolehkan bagi kita menjadikan seseorang sebagai inspirasi dalam hidup, tapi jangan jadi terlarut lalu hanyut dalam kata “aku mah apa atuh”. Jadikan seseorang itu motivasi bagi kamu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pembicara nya tadi seorang tuna rungu yang kemudian menjadikan kekurangannya menjadi kelebihan, belum tentu orang yang sempurna akan sanggup bertahan jika diberikan musibah yang sama dengan tuna rungu itu tadi, right?
Just make it simple, be positive and loving each other :)
People may have goodness and weakness. Sangat diperbolehkan bagi kita menjadikan seseorang sebagai inspirasi dalam hidup, tapi jangan jadi terlarut lalu hanyut dalam kata “aku mah apa atuh”. Jadikan seseorang itu motivasi bagi kamu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pembicara nya tadi seorang tuna rungu yang kemudian menjadikan kekurangannya menjadi kelebihan, belum tentu orang yang sempurna akan sanggup bertahan jika diberikan musibah yang sama dengan tuna rungu itu tadi, right?
Just make it simple, be positive and loving each other :)
Kerja Tim
Bagi saya kerja tim bukan sekedar saling mengandalkan satu sama lain,
kerja tim layaknya pasangan yaitu saling melengkapi, saling memahami.
Sangat penting dalam tim ada anggota ada ketua, fungsinya apa? Anggota
berhak memberikan masukan, saran serta evaluasi dalam tim dan
selanjutnya ketua lah yang memutuskan berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan anggota lainnya.
Ketua harus pandai mendelegasikan tugas kepada anggota nya, tidak hanya memberikan tugas. Paham saya, terdapat perbedaan antara mendelegasikan dengan memberikan. Dalam mendelegasikan, seorang ketua harus paham porsi kerja setiap anggota, lain dengan memberikan, kalau memberi mah yang penting selesai. Itulah pentingnya, agar tidak muncul istilah saling mengandalkan, memang, setiap anggota tentu punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing, meskipun porsi yang diberikan kepada anggota dalam hal kuantitas berbeda berdasarkan kemampuannya, namun hasilnya tentu akan berbeda jika kualitas yang diberikan juga berbeda. Maksud kualitas disini apa? Yaitu, yang tersebut pada paragraf pertama itu. Saling memahami, minimal bertanya kabar hari-hari tidak hanya bertanya seputar kemajuan atau progress dari pekerjaan, dan saling melengkapi, jika satu anggota memiliki kekurangan belum tentu ia tidak memiliki kelebihan di bidang lainnya, begitu pun sebaliknya, maka sangat penting bagi seorang ketua memahami kemampuan anggotanya.
Saya baru membaca artikel menarik mengenai perbedaan boss dan leader, mungkin akan jadi panjang jika saya jabarkan disini, sila baca artikel nya pada link berikut http://www.lifehack.org/287785/10-differences-between-boss-and-real-leader
Di lain sisi, tugas anggota selain bertanggung jawab akan pekerjaannya, juga memiliki hak dalam menyampaikan pendapat, tapi jangan terkesan mengeluh, you must be sure that you have done the assignment with your best performance, then appreciate will comes to you, even it isn’t comes from your team, it will come outside. Trust me :)
Ketua harus pandai mendelegasikan tugas kepada anggota nya, tidak hanya memberikan tugas. Paham saya, terdapat perbedaan antara mendelegasikan dengan memberikan. Dalam mendelegasikan, seorang ketua harus paham porsi kerja setiap anggota, lain dengan memberikan, kalau memberi mah yang penting selesai. Itulah pentingnya, agar tidak muncul istilah saling mengandalkan, memang, setiap anggota tentu punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing, meskipun porsi yang diberikan kepada anggota dalam hal kuantitas berbeda berdasarkan kemampuannya, namun hasilnya tentu akan berbeda jika kualitas yang diberikan juga berbeda. Maksud kualitas disini apa? Yaitu, yang tersebut pada paragraf pertama itu. Saling memahami, minimal bertanya kabar hari-hari tidak hanya bertanya seputar kemajuan atau progress dari pekerjaan, dan saling melengkapi, jika satu anggota memiliki kekurangan belum tentu ia tidak memiliki kelebihan di bidang lainnya, begitu pun sebaliknya, maka sangat penting bagi seorang ketua memahami kemampuan anggotanya.
Saya baru membaca artikel menarik mengenai perbedaan boss dan leader, mungkin akan jadi panjang jika saya jabarkan disini, sila baca artikel nya pada link berikut http://www.lifehack.org/287785/10-differences-between-boss-and-real-leader
Di lain sisi, tugas anggota selain bertanggung jawab akan pekerjaannya, juga memiliki hak dalam menyampaikan pendapat, tapi jangan terkesan mengeluh, you must be sure that you have done the assignment with your best performance, then appreciate will comes to you, even it isn’t comes from your team, it will come outside. Trust me :)
The reason why I love my job
Hari ini sebenernya aku lagi berada di titik ter-lelah, jiwa nya udah di rumah, raga nya masih di bogor, maklum udah sebulan gak pulang. Ditambah
hari ini aku butuh tenaga ekstra dari biasanya untuk dapet responden,
karena dari empat enum hari ini saya cuma jalan berdua. Mungkin efek
suudzon duluan kali ya sama diri sendiri, yang biasanya udah dapet
beberapa RT, tapi kali ini setengah jam cuma muter muter gak jelas, tiap
ditolak down sendiri jadinya, akhirnya aku menepi, terus introspeksi,
ngumpulin aura-aura positif dan awali lagi dengan bismillah. Tiba-tiba ditengah langkah ada ibu-ibu yang nanya.
“dari mana dek, mau kemana?” lalu saya jelaskan secara singkat maksud dan tujuannya, “butuh ketemu pak RT ngga?” dan ternyata ibu tadi adalah istri pak RT, akhirnya aku coba jelasin lagi ke bapak nya, dan alhamdulillah sang bapak jadi responden pertamaku after an hour! Huff, “iya ibu liatin neng tadi muter-muter, kirain mau ke sekolah makanya ibu tanya, sekarang butuh berapa RT? Ibu temenin nyari” sahut ibu itu lagi.
Ah, aku gak tau kebaikan apa yang pernah aku lakuin, aku cuma berusaha jadi orang baik, itupun belum sampai di titik maksimal, tapi alhamdulillah aku dipertemukan dengan orang sebaik ibu suparidah ini.
Namanya ibu suparidah, usianya seumuran emak, hmm jadi kangen emak, tapi bedanya beliau masih aktif, masih sehat. Lalu aku diantar ke beberapa RT, rumah demi rumah diketok sama ibu, aku cuma jadi ekor hari ini, walaupun berkali-kali saya minta ibu untuk pulang aja, tapi ibu selalu jawab “kasian neng sendirian”. Alhamdulillah hasilnya diluar ekspektasi, sebelum zuhur kuisioner udah abis.
This why I love my Job, banyak pelajaran yang bisa aku ambil, kalau kebaikan ibu suparidah bukan balasan atas ‘kebaikan’ yang pernah aku lakuin, mungkin ibu suparidah ini adalah pengingat dari Allah untuk aku supaya berbuat baik, seperti bu suparidah itu contohnya.
Dilain sisi, dari setiap ibu yang aku temuin di lapangan, ga jarang para ibu tersebut ngebantu aku karena keinget anaknya, sambil bilang “saya suka ngebayangin, kalau anak saya kerja kaya adek gini, kan capek”.
“dari mana dek, mau kemana?” lalu saya jelaskan secara singkat maksud dan tujuannya, “butuh ketemu pak RT ngga?” dan ternyata ibu tadi adalah istri pak RT, akhirnya aku coba jelasin lagi ke bapak nya, dan alhamdulillah sang bapak jadi responden pertamaku after an hour! Huff, “iya ibu liatin neng tadi muter-muter, kirain mau ke sekolah makanya ibu tanya, sekarang butuh berapa RT? Ibu temenin nyari” sahut ibu itu lagi.
Ah, aku gak tau kebaikan apa yang pernah aku lakuin, aku cuma berusaha jadi orang baik, itupun belum sampai di titik maksimal, tapi alhamdulillah aku dipertemukan dengan orang sebaik ibu suparidah ini.
Namanya ibu suparidah, usianya seumuran emak, hmm jadi kangen emak, tapi bedanya beliau masih aktif, masih sehat. Lalu aku diantar ke beberapa RT, rumah demi rumah diketok sama ibu, aku cuma jadi ekor hari ini, walaupun berkali-kali saya minta ibu untuk pulang aja, tapi ibu selalu jawab “kasian neng sendirian”. Alhamdulillah hasilnya diluar ekspektasi, sebelum zuhur kuisioner udah abis.
This why I love my Job, banyak pelajaran yang bisa aku ambil, kalau kebaikan ibu suparidah bukan balasan atas ‘kebaikan’ yang pernah aku lakuin, mungkin ibu suparidah ini adalah pengingat dari Allah untuk aku supaya berbuat baik, seperti bu suparidah itu contohnya.
Dilain sisi, dari setiap ibu yang aku temuin di lapangan, ga jarang para ibu tersebut ngebantu aku karena keinget anaknya, sambil bilang “saya suka ngebayangin, kalau anak saya kerja kaya adek gini, kan capek”.
Life lesson dari ceritaku hari ini adalah :
- Sebelum melakukan kegiatan, gantungkan dulu urusan kita sama Allah, jangan suudzon duluan. Bismillah aja.
- Berlaku baik lah pada siapapun, sebisa kita aja, gak perlu muluk-muluk, yang penting niat. InsyaAllah kita bakal dipertemukan lagi dengan orang baik disekitar kita, kalau bukan di waktu yang cepat, pasti di waktu yang tepat.
- Jadikan apa yang kita jalani sebagai wujud syukur, bukan sekedar meminta balas.
- Do what you love and love what you do
Dear Diary
Kenapa kali ini judulnya “Dear Diary?” karena pada tulisan ini
saya ingin berbagi cerita saja, belakangan kerjaan semakin padat
sehingga sudah beberapa kali niat menulis tapi hanya berakhir di draft.
Jadi, saya ingin berbagi cerita seputar pekerjaan saya, menjadi orang lapang bukan hal yang mudah, harus siap saat matahari lagi terik-teriknya, bahkan ketika tiba-tiba hujan tanpa persiapan. Kerja, sudah pasti capek bukan? Tapi di pekerjaan saya kali ini rasa capek bisa terobati kala bisa melihat senyum masyarakat, kala bisa diterima dengan baik, kala bisa membuat masyarakat tertawa sampai tertawa bersama tentang hal hal kecil yang gak penting, kala bisa mendengarkan keluh kesah masyarakat. Ah, rasanya saya masih saja kurang bersyukur.
Hari ini saya bertemu dengan ibu-ibu yang menyapa saya dengan sangat ramah, wawancara yang biasanya bisa selesai kurang dalam waktu 5 menit kali ini berbeda, saya paham betul kondisi rumahnya yang sangat sederhana, ruang tamu yang menyatu dengan kamar hanya dibatasi dengan kain, lalu disampingnya ada dapur dan jamban, udah segitu aja.
“neng, capek ya? Mau minum air es? Ibu ada air dingin” ibu masih saja menawarkan padahal jelas-jelas saya tengah membawa air minum “neng, maaf ya kalau es nya kurang dingin”
“neng, disini ibu ga ada apa-apa cuma punya keripik pedas” sambil membawakan toples yang berisi sedikit keripik, dicoba pun rasanya udah nggak jelas, teksturnya alot. Tapi jadi enak karena dibumbui rasa ikhlas di dalamnya.
“neng ibu ada jeruk itu satu, masih seger tadi dari hajatan” aku sengaja membiarkan jeruk sampai selesai wawancara, jeruk itu untuk ibunya saja “neng, jeruknya dibawa aja, untuk bekel di jalan”
Sebenarnya saya mencoba menolak tawaran demi tawaran dari ibu tersebut, tapi baginya tamu harus dijamu.
Dari cerita diatas saya bukan ingin menceritakan kekurangannya, namun itu merupakan kelebihan yang sudah jarang ditemukan, masih mau berbagi saat yang dimiliki sudah tak ada lagi.
Lain lawan bicara lain cerita. Sekali-kali saya pernah iseng, tidak melulu bertanya pada masyarakat tapi juga aparat, dengan harapan mendapatkan pandangan yang berbeda dari seorang yang katanya cendikia. Tapi justru semacam cela yang saya dapat. Ketika saya bertanya soal penghasilan cendikia tersebut dengan licinnya menjawab “saya mah orang kaya, keliatan lah bagaimana penghasilnnya” sambil kemudian tebahak-bahak, mungkin baginya itu lelucon bagi saya itu tidak lucu, karena saya butuh data yang akurat bukan main-main. Seketika di benak saya bertanya, dimana etika?. Kalau kata kids jaman now mah “ingin rasanya berkata kasar”, tapi saya harus bisa memposisikan diri, mencoba mengakhiri tetap dengan basa-basi.
Pesan yang ingin saya bagi sebenarnya tentang cara berinteraksi, baik antara si tua dengan si muda, si kaya dengan si miskin, maupun si pintar dengan si bodoh. Ber-etika-lah dengan baik, saling menghargai dan menghormati, sadarilah bahwa hidup ini seperti roda, akan terus berputar. Kalau ia berhenti, berarti mati.
Jadi, saya ingin berbagi cerita seputar pekerjaan saya, menjadi orang lapang bukan hal yang mudah, harus siap saat matahari lagi terik-teriknya, bahkan ketika tiba-tiba hujan tanpa persiapan. Kerja, sudah pasti capek bukan? Tapi di pekerjaan saya kali ini rasa capek bisa terobati kala bisa melihat senyum masyarakat, kala bisa diterima dengan baik, kala bisa membuat masyarakat tertawa sampai tertawa bersama tentang hal hal kecil yang gak penting, kala bisa mendengarkan keluh kesah masyarakat. Ah, rasanya saya masih saja kurang bersyukur.
Hari ini saya bertemu dengan ibu-ibu yang menyapa saya dengan sangat ramah, wawancara yang biasanya bisa selesai kurang dalam waktu 5 menit kali ini berbeda, saya paham betul kondisi rumahnya yang sangat sederhana, ruang tamu yang menyatu dengan kamar hanya dibatasi dengan kain, lalu disampingnya ada dapur dan jamban, udah segitu aja.
“neng, capek ya? Mau minum air es? Ibu ada air dingin” ibu masih saja menawarkan padahal jelas-jelas saya tengah membawa air minum “neng, maaf ya kalau es nya kurang dingin”
“neng, disini ibu ga ada apa-apa cuma punya keripik pedas” sambil membawakan toples yang berisi sedikit keripik, dicoba pun rasanya udah nggak jelas, teksturnya alot. Tapi jadi enak karena dibumbui rasa ikhlas di dalamnya.
“neng ibu ada jeruk itu satu, masih seger tadi dari hajatan” aku sengaja membiarkan jeruk sampai selesai wawancara, jeruk itu untuk ibunya saja “neng, jeruknya dibawa aja, untuk bekel di jalan”
Sebenarnya saya mencoba menolak tawaran demi tawaran dari ibu tersebut, tapi baginya tamu harus dijamu.
Dari cerita diatas saya bukan ingin menceritakan kekurangannya, namun itu merupakan kelebihan yang sudah jarang ditemukan, masih mau berbagi saat yang dimiliki sudah tak ada lagi.
Lain lawan bicara lain cerita. Sekali-kali saya pernah iseng, tidak melulu bertanya pada masyarakat tapi juga aparat, dengan harapan mendapatkan pandangan yang berbeda dari seorang yang katanya cendikia. Tapi justru semacam cela yang saya dapat. Ketika saya bertanya soal penghasilan cendikia tersebut dengan licinnya menjawab “saya mah orang kaya, keliatan lah bagaimana penghasilnnya” sambil kemudian tebahak-bahak, mungkin baginya itu lelucon bagi saya itu tidak lucu, karena saya butuh data yang akurat bukan main-main. Seketika di benak saya bertanya, dimana etika?. Kalau kata kids jaman now mah “ingin rasanya berkata kasar”, tapi saya harus bisa memposisikan diri, mencoba mengakhiri tetap dengan basa-basi.
Pesan yang ingin saya bagi sebenarnya tentang cara berinteraksi, baik antara si tua dengan si muda, si kaya dengan si miskin, maupun si pintar dengan si bodoh. Ber-etika-lah dengan baik, saling menghargai dan menghormati, sadarilah bahwa hidup ini seperti roda, akan terus berputar. Kalau ia berhenti, berarti mati.
Sekian, semoga pengantar tidur kali ini bermanfaat untuk refleksi diri saya kedepannya maupun pembaca :)
Bogor sepeninggal hujan
Seperti aku sepeninggal kau, Tuan.
Dingin, hingga menusuk tulang.
Dingin, hingga membeku urat nadi.
Aku menggigil, tidak kah kau lihat aku berselimut rindu?
Bagai aroma sisa hujan kemarin, yang kau tinggalkan hanya kenangan serupa angin.
Bagai gugur dedaunan sisa hujan kemarin, terepas satu demi satu harapan dari tangkai pohon beringin.
Yang terlihat kokoh, tapi nyatanya rapuh.
Bogor, 11 Oktober 2017
Dingin, hingga menusuk tulang.
Dingin, hingga membeku urat nadi.
Aku menggigil, tidak kah kau lihat aku berselimut rindu?
Bagai aroma sisa hujan kemarin, yang kau tinggalkan hanya kenangan serupa angin.
Bagai gugur dedaunan sisa hujan kemarin, terepas satu demi satu harapan dari tangkai pohon beringin.
Yang terlihat kokoh, tapi nyatanya rapuh.
Bogor, 11 Oktober 2017
Melihat kata “mengeluh” dari sisi lain
Akhir akhir ini saya sering melihat banyak fenomena depresi yang di
alami seseorang yang berakhir dengan tindakan yang tidak logis, seperti
gangguan jiwa atau bunuh diri, naudzubillah.
Saya rasa setiap orang punya batasan sampai dimana ia sanggup menahan perasaannya. Maka sebetulnya sangat penting bagi seseorang memiliki teman curhat.
Saya pribadi bukan orang yang mudah percaya menitipkan cerita-cerita saya kepada siapa pun, terkadang menulis jadi pelarian saya dari kepenatan yang ada.
Menurut saya,
Jika kau bersedih, bercerita lah, kepada orang-orang yang menganggap cerita mu bukan keluh kesah semata.
Jika kau bersedih, menulis lah, luapkan perasaan mu walau tak ada seorang pun yang membacanya.
Jika kau bersedih, alihkan lah, dengan hal hal yang kau suka, membaca misalnya atau mendengarkan musik?
Jika perlu, menangis lah sejadi jadinya, kalau itu bisa membuat hati menjadi lebih tenang.
Jika sudah habis semua cara, bersujud lah, karena Allah adalah sebaik baiknya pendengar.
Begitu pun, jika sahabatmu bercerita sedang kamu juga tak punya jalan keluar untuknya, dengarkan, sungguh itu saja sudah cukup melegakan untuknya.
Jangan buat sepele kata “mengeluh” mungkin kita tidak merasakan apa yang mereka rasakan, sesekali posisikan diri kita sebagai mereka.
Saya rasa setiap orang punya batasan sampai dimana ia sanggup menahan perasaannya. Maka sebetulnya sangat penting bagi seseorang memiliki teman curhat.
Saya pribadi bukan orang yang mudah percaya menitipkan cerita-cerita saya kepada siapa pun, terkadang menulis jadi pelarian saya dari kepenatan yang ada.
Menurut saya,
Jika kau bersedih, bercerita lah, kepada orang-orang yang menganggap cerita mu bukan keluh kesah semata.
Jika kau bersedih, menulis lah, luapkan perasaan mu walau tak ada seorang pun yang membacanya.
Jika kau bersedih, alihkan lah, dengan hal hal yang kau suka, membaca misalnya atau mendengarkan musik?
Jika perlu, menangis lah sejadi jadinya, kalau itu bisa membuat hati menjadi lebih tenang.
Jika sudah habis semua cara, bersujud lah, karena Allah adalah sebaik baiknya pendengar.
Begitu pun, jika sahabatmu bercerita sedang kamu juga tak punya jalan keluar untuknya, dengarkan, sungguh itu saja sudah cukup melegakan untuknya.
Jangan buat sepele kata “mengeluh” mungkin kita tidak merasakan apa yang mereka rasakan, sesekali posisikan diri kita sebagai mereka.
Tentang Social Media.
Perkembangan jaman tentunya akan sangat menguntungkan bagi mereka
yang pandai menyikapi tantangan dan pandai beradaptasi dengan perubahan.
Pada tulisan ini saya ingin berfokus pada sosial media. Sebenarnya banyak manfaat dari sosial media ini seperti, mempermudah dalam memperoleh informasi, mempermudah dalam transaksi, juga mempermudah akses berkomunikasi dan masih banyak lagi tentunya.
Entah mungkin hanya saya pribadi yang melihat kok lebih banyak lagi sisi buruk nya ya dari sosial media ini? Hmm banyak berita-berita yang tersebar justru tidak benar, sehingga kebencian mudah sekali tersebar.
Di lain sisi, seseorang yang belum tentu berniat ria pun jadi korban. Misalnya, seseorang itu tadinya hanya bermaksud membagikan momen kebahagiaan, tapi yang orang lain lihat belum tentu demikian, bisa saja dibalik itu orang-orang justru mencibir, mungkin seseorang itu tidak sadar, mungkin orang yang mencibir pun awalnya gak niat tuh untuk mencibir. Tapi karena itu tadi, kita mungkin kurang pandai dalam mengelola perkembangan jaman.
Justru sekarang saya jadi takut kalau saya ‘kelepasan’ berbagi momen yang dapat ‘memancing’ orang berkomentar, walaupun jujur saya pribadi masih sulit menahan diri untuk tidak membagikan suatu momen yang sangat berarti menurut versi saya.
Think twice, itu yang saya sedang coba terapkan pada diri saya belakangan ini, jadi ketika saya mau share sesuatu mikir dulu ini kira-kira bermanfaat gak ya untuk orang lain? Kira-kira orang akan berfikir saya itu seperti apa ya? Kurang lebih seperti itu, kalau lagi share hal yang sekiranya bermanfaat terus orang sebut pencitraan gimana? Gak masalah, yang penting niat kita itu apa, kita juga harus pandai menjaga citra kita sebagai manusia, apalagi perempuan. Selain itu, apakah kita sudah menjaga perasaan orang lain kalau kita share hal tersebut? Misalnya kita dapet rejeki nih, terus di share, bisa jadi menurut kita gak masalah, tapi untuk orang yang belum seberuntung kita gimana? Contoh kecil lainnya, kita share momen bahagia sama keluarga, bisa jadi buat kita gak masalah, dan emang biasanya itu wajar, tapi gimana perasaan orang yang udah gak punya bapak/ibu?. Saya pikir secara gak langsung bisa aja menyinggung perasaan orang lain, bisa aja menumbuhkan perasaan iri pada orang lain. Naudzubillah..
Cerita lainnya, ketika lagi sedih/jengkel misalnya, terus kita share di media sosial, yang awalnya berniat menarik simpati bisa jadi orang lain berfikir “kok hidup nya sedih amat, kapan bahagianya?” padahal mah gak gitu-gitu amat biasanya. Contoh sederhana aja, kalau kita lagi kerja terus curhat dengan caption “uh numpuk banget kerjaan”, “uh harus lembur hari ini, capek”. Coba deh inget lagi sesusah apa perjuangan kita untuk dapet pekerjaan tersebut? Coba deh difikir lagi, sebenernya kita udah lebih beruntung bukan dari orang yang belum mendapatkan pekerjaan? Kuncinya, diinget lagi aja nikmat yang udah Allah kasih, cerita sama Allah, jangan hanya minta pekerjaannya diringankan tapi minta untuk dikuatkan dalam menjalankannya.
Jujur, saya sendiri pun masih banyak belajar memilah memilih mana yang bermanfaat mana yang tidak, mana yang penting mana yang gak penting, mana yang bisa menyenangkan orang mana yang bisa menyakiti orang. Ini juga bagian dari self-reminder untuk saya, karena pikiran saya belum sesempurna yang hati saya inginnya.
Kehebatan lain dari media sosial adalah bisa mendekatkan yang jauh, tapi hati-hati bisa jadi menjauhkan yang dekat juga, gak heran kalau suatu hubungan bisa kurang harmonis, bukankah ketika seseorang memutuskan untuk bertemu seharusnya mereka sudah menyelesaikan urusan dengan dunia maya nya? Atau sedang berniat mengistirahatkan dunia maya nya? singkirkan media sosial sejenak kala sedang berhadapan dengan lawan bicara, atau jika ada sesuatu yang benar-benar urgent minta maaf sebentar untuk membalas pesan tersebut. Sesimple itu kok mengharai orang lain.
InsyaAllah apa yang saya share di media sosial niat nya lurus aja dulu, setelah itu terserah gimana orang lain menilai, dan InsyaAllah apa yang orang share di sosial media nya selalu saya coba kaitkan dengan hal positif, karena adalah wajar kalau orang yang lagi bahagia pengennya berbagi, apalagi untuk orang-orang yang ekstrovert, yang notaben nya memang sulit menahan perasaannya, malah kadang saya berfikir lebih baik para selebgram, selain mendapatkan profit, dia juga sudah membantu orang lain? Haha, apa gak gitu ya? Tergantung sih dari mana kita melihatnya. Selain itu, coba berfikir positif ketika orang sedang berbagi kesedihan, mungkin orang itu butuh teman? Mungkin itu adalah masa terburuknya? Don’t judge please.
Lalu apa yang ingin saya bagi disini? Coba lihat sesuatu dari dua sisi, tempatkan diri kita sebagai orang lain. Jangan sekedar berargumen tanpa solusi, alangkah lebih baik kita menegurnya langsung dari pada mencibir nya di belakang. Gakpapa berbagi kebahagiaan/kesedihan selama tidak berlebihan. Saya hanya khawatir, bila ini berlangsung lama akan jadi generasi apa selanjutnya?
“Memiliki satu teman akan lebih baik dibandingkan memiliki satu musuh, bisa jadi 1 kesalahan kita meruntuhkan 1000 kebaikan yang telah kita bangun” -anonym.
Pada tulisan ini saya ingin berfokus pada sosial media. Sebenarnya banyak manfaat dari sosial media ini seperti, mempermudah dalam memperoleh informasi, mempermudah dalam transaksi, juga mempermudah akses berkomunikasi dan masih banyak lagi tentunya.
Entah mungkin hanya saya pribadi yang melihat kok lebih banyak lagi sisi buruk nya ya dari sosial media ini? Hmm banyak berita-berita yang tersebar justru tidak benar, sehingga kebencian mudah sekali tersebar.
Di lain sisi, seseorang yang belum tentu berniat ria pun jadi korban. Misalnya, seseorang itu tadinya hanya bermaksud membagikan momen kebahagiaan, tapi yang orang lain lihat belum tentu demikian, bisa saja dibalik itu orang-orang justru mencibir, mungkin seseorang itu tidak sadar, mungkin orang yang mencibir pun awalnya gak niat tuh untuk mencibir. Tapi karena itu tadi, kita mungkin kurang pandai dalam mengelola perkembangan jaman.
Justru sekarang saya jadi takut kalau saya ‘kelepasan’ berbagi momen yang dapat ‘memancing’ orang berkomentar, walaupun jujur saya pribadi masih sulit menahan diri untuk tidak membagikan suatu momen yang sangat berarti menurut versi saya.
Think twice, itu yang saya sedang coba terapkan pada diri saya belakangan ini, jadi ketika saya mau share sesuatu mikir dulu ini kira-kira bermanfaat gak ya untuk orang lain? Kira-kira orang akan berfikir saya itu seperti apa ya? Kurang lebih seperti itu, kalau lagi share hal yang sekiranya bermanfaat terus orang sebut pencitraan gimana? Gak masalah, yang penting niat kita itu apa, kita juga harus pandai menjaga citra kita sebagai manusia, apalagi perempuan. Selain itu, apakah kita sudah menjaga perasaan orang lain kalau kita share hal tersebut? Misalnya kita dapet rejeki nih, terus di share, bisa jadi menurut kita gak masalah, tapi untuk orang yang belum seberuntung kita gimana? Contoh kecil lainnya, kita share momen bahagia sama keluarga, bisa jadi buat kita gak masalah, dan emang biasanya itu wajar, tapi gimana perasaan orang yang udah gak punya bapak/ibu?. Saya pikir secara gak langsung bisa aja menyinggung perasaan orang lain, bisa aja menumbuhkan perasaan iri pada orang lain. Naudzubillah..
Cerita lainnya, ketika lagi sedih/jengkel misalnya, terus kita share di media sosial, yang awalnya berniat menarik simpati bisa jadi orang lain berfikir “kok hidup nya sedih amat, kapan bahagianya?” padahal mah gak gitu-gitu amat biasanya. Contoh sederhana aja, kalau kita lagi kerja terus curhat dengan caption “uh numpuk banget kerjaan”, “uh harus lembur hari ini, capek”. Coba deh inget lagi sesusah apa perjuangan kita untuk dapet pekerjaan tersebut? Coba deh difikir lagi, sebenernya kita udah lebih beruntung bukan dari orang yang belum mendapatkan pekerjaan? Kuncinya, diinget lagi aja nikmat yang udah Allah kasih, cerita sama Allah, jangan hanya minta pekerjaannya diringankan tapi minta untuk dikuatkan dalam menjalankannya.
Jujur, saya sendiri pun masih banyak belajar memilah memilih mana yang bermanfaat mana yang tidak, mana yang penting mana yang gak penting, mana yang bisa menyenangkan orang mana yang bisa menyakiti orang. Ini juga bagian dari self-reminder untuk saya, karena pikiran saya belum sesempurna yang hati saya inginnya.
Kehebatan lain dari media sosial adalah bisa mendekatkan yang jauh, tapi hati-hati bisa jadi menjauhkan yang dekat juga, gak heran kalau suatu hubungan bisa kurang harmonis, bukankah ketika seseorang memutuskan untuk bertemu seharusnya mereka sudah menyelesaikan urusan dengan dunia maya nya? Atau sedang berniat mengistirahatkan dunia maya nya? singkirkan media sosial sejenak kala sedang berhadapan dengan lawan bicara, atau jika ada sesuatu yang benar-benar urgent minta maaf sebentar untuk membalas pesan tersebut. Sesimple itu kok mengharai orang lain.
InsyaAllah apa yang saya share di media sosial niat nya lurus aja dulu, setelah itu terserah gimana orang lain menilai, dan InsyaAllah apa yang orang share di sosial media nya selalu saya coba kaitkan dengan hal positif, karena adalah wajar kalau orang yang lagi bahagia pengennya berbagi, apalagi untuk orang-orang yang ekstrovert, yang notaben nya memang sulit menahan perasaannya, malah kadang saya berfikir lebih baik para selebgram, selain mendapatkan profit, dia juga sudah membantu orang lain? Haha, apa gak gitu ya? Tergantung sih dari mana kita melihatnya. Selain itu, coba berfikir positif ketika orang sedang berbagi kesedihan, mungkin orang itu butuh teman? Mungkin itu adalah masa terburuknya? Don’t judge please.
Lalu apa yang ingin saya bagi disini? Coba lihat sesuatu dari dua sisi, tempatkan diri kita sebagai orang lain. Jangan sekedar berargumen tanpa solusi, alangkah lebih baik kita menegurnya langsung dari pada mencibir nya di belakang. Gakpapa berbagi kebahagiaan/kesedihan selama tidak berlebihan. Saya hanya khawatir, bila ini berlangsung lama akan jadi generasi apa selanjutnya?
“Memiliki satu teman akan lebih baik dibandingkan memiliki satu musuh, bisa jadi 1 kesalahan kita meruntuhkan 1000 kebaikan yang telah kita bangun” -anonym.
Batik
Batik adalah warisan budaya, sebuah harta yang berharga bagi bangsa
Indonesia. Sebuah mahakarya nan elok ciri kegigihan, keharmonisan, serta
keselarasan.
Kita muda, generasi penuh cita cita yang takkan luput dari legenda.
Karena generasi muda yang menggenggam warisan budaya adalah tombak kekuatan bangsa.
Bagi saya batik terlalu kaya akan makna, tak hanya soal karya tapi juga jiwa.
Saya, menggenggam warisan budaya bangsa Indonesia.
Jadi malem ini pas mau tidur banget, tiba tiba di wa sama temen untuk bantu bikin narasi, tema nya spesial, yaitu tentang batik,hmmm nasionalis sekaliiii jadi takut berargumen hehehe, tapi kalau ga selesai ya gabisa tidur biasanya wkwk semoga kiasan diatas bisa diterima
ehnqsworld.tumblr.com, Page 24.
Kita muda, generasi penuh cita cita yang takkan luput dari legenda.
Karena generasi muda yang menggenggam warisan budaya adalah tombak kekuatan bangsa.
Bagi saya batik terlalu kaya akan makna, tak hanya soal karya tapi juga jiwa.
Saya, menggenggam warisan budaya bangsa Indonesia.
Jadi malem ini pas mau tidur banget, tiba tiba di wa sama temen untuk bantu bikin narasi, tema nya spesial, yaitu tentang batik,hmmm nasionalis sekaliiii jadi takut berargumen hehehe, tapi kalau ga selesai ya gabisa tidur biasanya wkwk semoga kiasan diatas bisa diterima
ehnqsworld.tumblr.com, Page 24.
Tentang Membaca
Happy Thursday everyone! saya mau berbagi opini lagi nih, tapi kali ini unik bagi saya, yaitu tentang membaca. Uniknya dimana? Uniknya, honestly karena saya bukan tipe yang suka membaca, lebih suka nulis, bahkan kadang bagi saya membaca adalah obat tidur paling ampuh hehe. Walaupun dulu sebenarnya saya suka baca, yaaa baca baca buku seusia anak belia lah, novel. Tapi seketika ada alasan lain yang membuat kebiasaan membaca saya mulai memudar.
But then I relize, bagaimana bisa menjadi penulis yang baik tanpa membaca dengan baik?
Well, selain alasan di atas, saya rasa membaca itu adalah hal yang krusial, lalu dari mana kita tahu sesuatu kalau bukan dari membaca? Bisa sih dari mendengarkan sesuatu, lantas kita percaya gitu aja? Kan ngga toh? . Seperti kita tahu akhir-akhir ini baaaanyak sekali beredar berita-berita hoax, sebagai orang yang berwawasan tentunya kita ga bisa semerta-merta menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya. Inilah salah dua manfaat membaca, tapi inget yaaa membaca suatu yang ilmiah aja harus ada literaturnya, informasi yang diindikasikan berpotensi kabar burung pun demikian.
Bicara soal pengalaman lagi, setelah saya memutuskan untuk terjun ke Ibukota, ternyata saya baru sadar kalau dunia saya selama ini terlalu sempit, hanya membicarakan hal yang sama pada orang dengan pemikiran yang sama.
Lalu bagaimana saya bisa berbicara dengan orang lain yang telah lahir atau akan lahir dimensi yang berbeda jika ruang saya masih sempit? Dan saya mencoba memperluas itu dengan kembali membaca, dari hal kecil saja misalnya membaca kabar terkini -maklum ya anak kosan gak ada tv buat nonton berita. Tapi aneh, yang saya rasa malah saya merasa semakin haus dan berfikir apa sih yang menyebabkan hal itu terjadi? Kok bisa? Emang seharusnya gimana? Apa dampaknya? dst.
This is the 3rd point! Ketika kita membaca, InsyaAllah kita bisa survive dimana pun kita berada, misal-1 berbicara dengan orang tua tentang politik, ekonomi, setidaknya kita paham apa yang mereka sampaikan, jangan sampai bagaikan membawa gelas kosong ketika berbicara dengan mereka, tapi saran saya ketika kita benar-benar tidak tau jadilah pendengar yang baik, cari tau fakta nya dengan bertanya atau baca literatur kemudian. Misal-2 ketika kita dihadapkan dengan tingkah laku anak kecil hingga remaja di era super modern ini, menyikapi mereka tentu berbeda dengan jaman dulu, kalau nakal di tegur dia sadar, kalau sekarang lebih ke pendekatan dengan nurani dan logika sih menurut saya. Ini juga saya harus banyak belajar lagi tentang komunikasi dan parenting.
Jaman semakin berkembang, berlatar pada apa yang telah disampaikan Ali Bin Abi Thalib “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu” .
Dan yang terakhir bagi saya kenapa saya rasa membaca itu penting, bahwasannya Ayat Al-Quran yang turun pertama kali adalah tentang perintah membaca
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu paling mulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (manusia tersebut).” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5).
Pesan saya, kepribadian seseorang bisa terlihat dari apa yang dia baca :)
But then I relize, bagaimana bisa menjadi penulis yang baik tanpa membaca dengan baik?
Well, selain alasan di atas, saya rasa membaca itu adalah hal yang krusial, lalu dari mana kita tahu sesuatu kalau bukan dari membaca? Bisa sih dari mendengarkan sesuatu, lantas kita percaya gitu aja? Kan ngga toh? . Seperti kita tahu akhir-akhir ini baaaanyak sekali beredar berita-berita hoax, sebagai orang yang berwawasan tentunya kita ga bisa semerta-merta menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya. Inilah salah dua manfaat membaca, tapi inget yaaa membaca suatu yang ilmiah aja harus ada literaturnya, informasi yang diindikasikan berpotensi kabar burung pun demikian.
Bicara soal pengalaman lagi, setelah saya memutuskan untuk terjun ke Ibukota, ternyata saya baru sadar kalau dunia saya selama ini terlalu sempit, hanya membicarakan hal yang sama pada orang dengan pemikiran yang sama.
Lalu bagaimana saya bisa berbicara dengan orang lain yang telah lahir atau akan lahir dimensi yang berbeda jika ruang saya masih sempit? Dan saya mencoba memperluas itu dengan kembali membaca, dari hal kecil saja misalnya membaca kabar terkini -maklum ya anak kosan gak ada tv buat nonton berita. Tapi aneh, yang saya rasa malah saya merasa semakin haus dan berfikir apa sih yang menyebabkan hal itu terjadi? Kok bisa? Emang seharusnya gimana? Apa dampaknya? dst.
This is the 3rd point! Ketika kita membaca, InsyaAllah kita bisa survive dimana pun kita berada, misal-1 berbicara dengan orang tua tentang politik, ekonomi, setidaknya kita paham apa yang mereka sampaikan, jangan sampai bagaikan membawa gelas kosong ketika berbicara dengan mereka, tapi saran saya ketika kita benar-benar tidak tau jadilah pendengar yang baik, cari tau fakta nya dengan bertanya atau baca literatur kemudian. Misal-2 ketika kita dihadapkan dengan tingkah laku anak kecil hingga remaja di era super modern ini, menyikapi mereka tentu berbeda dengan jaman dulu, kalau nakal di tegur dia sadar, kalau sekarang lebih ke pendekatan dengan nurani dan logika sih menurut saya. Ini juga saya harus banyak belajar lagi tentang komunikasi dan parenting.
Jaman semakin berkembang, berlatar pada apa yang telah disampaikan Ali Bin Abi Thalib “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu” .
Dan yang terakhir bagi saya kenapa saya rasa membaca itu penting, bahwasannya Ayat Al-Quran yang turun pertama kali adalah tentang perintah membaca
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu paling mulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (manusia tersebut).” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5).
Maha benar Allah dengan segala firmannya.
Semoga sharing kali ini bisa bermanfaat dan membuka wawasan kita, and so please kindly correct me if I’m wrong. Karena sejatinya ini juga merupakan self-reminder untuk saya pribadi.Pesan saya, kepribadian seseorang bisa terlihat dari apa yang dia baca :)
Tentang Berwirausaha
Saya baru baca dan mendengar kilasan sedikit tentang UMKM, agak
tergelitik untuk sedikit sharing. Terutama soal makna, kenapa ya semakin
jaman semakin banyak orang yang berwirausaha? Bahkan pemerintah sedang
gencar-gencarnya menggalakkan hal tersebut. Diluar konteks bahwa -berwirausaha dapat membuat seseorang menjadi lebih sejahtera dibandingkan bekerja, izinkan saya flashback
pada kisah yang diceritakan guru saya semasa SD dulu bahwasannya
Baginda Rasulullah SAW, sejak kecil sudah menopang hidupnya dari
berjualan, dikisahkan juga hingga ketika ia dewasa ia merupakan seorang
pebisnis yang hebat -MasyaAllah. Dalam kisah itu, saya ketahui bahwa kunci kesuksesan beliau berwirausaha adalah kejujuran.
Menurut pandangan saya, diluar itu, ketika kita memutuskan untuk berwirausaha, tentunya kita sudah siap menghadapi orang-orang yang menjadi calon pembeli, nah kembali lagi, mau dibawa kemana pembeli itu? Sekedar pembeli saja? Atau menjadi pelanggan? Disini juga saya rasa merupakan kunci kesuksesan dalam berjualan, ketika kita mampu membangun suatu hubungan serta terus menjaga silaturahmi, InsyaAllah pembeli kita tadi cepat atau lambat akan menjadi pelanggan -tentunya dengan kunci Rasulullah tadi, jujur.
Pengalaman saya dulu, saya sering sekali mendengarkan curhatan seorang penjual makanan di sekolah, dia selalu menyarankan “neng, udah usaha aja, kamu tau gak? Silaturahmi itu bisa membukakan pintu rejeki”. Dan saya baru kepikiran sekarang, kenapa harus silaturahmi? Ya itu tadi, kembali ke poin di atas.
Saya sendiri masih belum tau kapan akan memulai, tapi InsyaAllah kalau Allah udah bukain jalan mah ga akan saya biarin ketutup lagi. Kadang masih kepikiran “kenapa belum sekarang? Padahal udah banyak loh remaja seusia saya punya omset milyaran”. Positif saya, mungkin Allah masih menyuruh saya untuk belajar sebelum ujian :)
Menurut pandangan saya, diluar itu, ketika kita memutuskan untuk berwirausaha, tentunya kita sudah siap menghadapi orang-orang yang menjadi calon pembeli, nah kembali lagi, mau dibawa kemana pembeli itu? Sekedar pembeli saja? Atau menjadi pelanggan? Disini juga saya rasa merupakan kunci kesuksesan dalam berjualan, ketika kita mampu membangun suatu hubungan serta terus menjaga silaturahmi, InsyaAllah pembeli kita tadi cepat atau lambat akan menjadi pelanggan -tentunya dengan kunci Rasulullah tadi, jujur.
Pengalaman saya dulu, saya sering sekali mendengarkan curhatan seorang penjual makanan di sekolah, dia selalu menyarankan “neng, udah usaha aja, kamu tau gak? Silaturahmi itu bisa membukakan pintu rejeki”. Dan saya baru kepikiran sekarang, kenapa harus silaturahmi? Ya itu tadi, kembali ke poin di atas.
Saya sendiri masih belum tau kapan akan memulai, tapi InsyaAllah kalau Allah udah bukain jalan mah ga akan saya biarin ketutup lagi. Kadang masih kepikiran “kenapa belum sekarang? Padahal udah banyak loh remaja seusia saya punya omset milyaran”. Positif saya, mungkin Allah masih menyuruh saya untuk belajar sebelum ujian :)
Tentang Rejeki
Buat saya ini menarik dibahas, tapi kali ini pembahasannya menurut
sudut pandang saya pribadi, memang masih subjektif, tapi InsyaAllah
berbekal dari pengalaman sendiri, berhubung belum sempet
terlalu banyak baca literatur tentang ini. Mungkin setelah nanti banyak
baca bakal diulas lagi dan insyaAllah tidak ada niat ria dari apa yang
saya bagi berikut, tujuannya agar kita sama sama belajar :)
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Menyadari atau tidak, sesungguhnya Allah senantiasa menambah rejeki kita.
Saya misalnya, kalau flashback ke belakang ternyata MasyaAllah betapa banyak rejeki yang Allah limpahkan sampai saya bisa jadi seperti sekarang ini. Jujur, saya sempat kuatir tentang rejeki saya “apakah akan cukup?” “kalau kurang gimana?”. Ini masih masalah yang klasik, karena ketika kita ada di titik nol dan berpasrah setelah berjuang, sungguh Allah menunjukkan kebesarannya.
Sedikit cerita pas jaman kuliah dulu, kadang liat temen yang kosannya ber-wifi, ber-AC, ikut-ikutan pengen, tapi Bapak selalu ngingetin kalau “merantau itu harus merih” kata orang sunda mah. Merih disini maksudnya, gimana cara kita tetep bertahan dengan hal seadanya tapi tetep bisa berprestasi. Alhamdulillah Bapak pernah menanamkan itu, hal itu yang membuat saya malu minta uang tambahan, membuat saya berpikir bagaimana bisa tetap memiliki uang tambahan, karena kuliah bukan sekedar makan tidur, lebih dari itu ada biaya tak terduga tiba-tiba banyak tugas harus print sana sini, tiba-tiba banyak event harus iuran sana sini. Dimulai dari jualan pulsa, ikut MLM terus cari beasiswa sana sini, Alhamdulillah berkat doa orang tua juga pastinya selama 2 semester saya bisa mendapatkan uang tamabahan melalui beasiswa (sebelum akhirnya lepas karena nilai anjlok hehe) mungkin memang gak seberapa tapi buat mahasiswa itu priceless!. Saya bahkan pernah di tingkat akhir, mencari tambahan dari membantu orang jualan di toko (sambil ngisi waktu kosong sih sebenernya), upah nya emang ga seberapa, tapi alhamdulillah bisa untukjalan-jalan jajan-jajan, terus jualan snack buatan sendiri yang bikin saya harus bangun pagi bareng
temen, kemudian keuntungannya dibagi dua. Bagi saya bukan melulu soal
keuntungan, tapi berkah dari usahanya, bisa menjalin silaturahmi dengan
temen lama atau bahkan ketemu orang baru juga itu rejeki lho!
Cuma sayang seribu sayang, saya sempet lupa sedekah, saya pernah terlalu menghkawatirkan rejeki saya itu. Sampai akhirnya suatu kejadian mengingatkan saya untuk terus bersedekah, karena sedekah juga merupakan pintu rejeki, kadang kita merasa kalau rejeki kita berkurang dengan sedekah padahal tidak sama sekali, justru kita sebenernya menabung, karena Allah suka ngasih kejutan disaat yang tak terduga, rasain deh nikmaaat banget.
Bagi saya sedekah bukan sekedar nabung amal supaya istilah kasarnya diganti lebih (walaupun janji Allah seperti itu), tapi di balik sedekah juga melatih untuk bersyukur karena ternyata gak semua orang seberuntung saya, disisi lain juga dalam Islam telah diatur bahwa ada sebagian hak orang lain dalam rejeki kita bukan? Kalau kita cuma menuntut hak kita aja niscaya gak akan pernah cukup. Berarti kalau rejeki kita dimasukkin ke perut semua kita udah makan hak orang dong? Saya mencoba berfikir kesana.
Setelah lulus, kekhawatiran kian melanda itu pasti, kadang kita merasa ada sesuatu dalam diri kita yang harusnya mendapat bagian dari apa yang telah kita korbankan. Dulu, sempet was-was gimana kalau ga kerja? Sementara udah ada temen yang kerja sebelum wisuda, beberapa kali tes dan wawancara, ada yang kepengeeen banget malah belum rejeki, ada yang nerima malah gak srek, bukan karena idealis ya, menurut saya memang bekerja itu harus sesuai passion, kadang liat temen ada yang udah diterima kerja malah resign dsb.
Tapi alhamdulillah Allah memang gak pernah tidur, kekhawatiran saya dijawab setelah saya susah payah berikhtiar. Walaupun masih ada perasaan “pengen deh punya kerjaan yang tetap” tapi ada hikmah dibalik menjadi seorang freelancer, bisa bertemu orang-orang baru, nambah temen, banyak belajar tentang hal-hal baru juga tentunya (kalau lagi kosong, ya anggap aja Allah lagi nyuruh istirahat hehe, selain itu juga berfikir sih, ngga tau kenapa lebih ngerasa produktif aja ketika lagi nganggur, bisa nambah self-improvement). Lagi-lagi ini rejeki.
Disisi lain kita bahas yang seru, yaitu masalah nominal, pastinya kita ingin income yang ’mencukupi menurut versi kita’, saya pun begitu apalagi setelah mengenal Ibukota. Diluar kebutuhan pokok kita, pasti ada rasa pengen bisa ngasih lah ke orang tua, pengen icip-icip lah hasil keringet sendiri dsb. Bicara soal nominal, tentunya keinginan kita gak akan pernah ter-cover, caranya adalah kembali pada kebutuhan dan prioritas. Masalah pekerjaan, saya pernah bekerja dengan salary yang jauh dari ekspektasi tapi saya bisa enjoy, saya pernah juga kerja dengan salary yang sesuai ekspektasi tapi tentunya dengan tekanan kerja yang sebanding, entahlah mungkin kalau saya mendapat gaji diatas yang diekspektasikan mungkin tekanan kerja nya akan lebih berat akibatnya perlu yang namanya refreshing supaya ga stress yaaa sebenernya sama aja gaji berapa juga kalau kita ga pernah merasa cukup mah Hehe, semuanya tergantung pada dari mana kita memandang rejeki itu, bisa menambah skill dan pengetahuan, dari yang gak tahu jadi tahu, bisa punya banyak temen baru juga, lingkungan kerja yang nyaman, intinya bersyukur itu tadi.
Saya pernah baca artikel seseorang, dimana dia udah sekolah tinggi, bekerja tanpa digaji tapi Alhamdulillah dia tetep bisa menjalani aktivitas seperti biasanya, dia sebut itu mengabdi. Yang saya tangkap bahwa bisa jadi dia mendapat rejeki dari pahala nya, hmm menarik. Jadi belum tentu ya nominal itu menentukan kesejahteraan, mungkin dipandang orang terlihat sejahtera, tapi hati ga bisa bohong. Yang terpenting sih kesejahteraan hati dulu, bisa di dapet dari bersyukur tadi, atau ber-sedekah, dan satu lagi yang gak saya lupa dari guru saya bahwa shalat duha bisa membukakan pintu rejeki untukmu. Ah.. MasyaAllah. Rejeki emang gak pernah tertukar selama kita percaya sama Allah.
Semoga kita senantiasa Allah golongkan ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Aamiin.
Bismillah
Rejeki menurut saya ga melulu soal materi, kita bisa berkedip, bisa bernafas itu rejeki, ya rejeki yang sayangnya jarang banget kita sadari, jarang banget kita syukuri. Rejeki itu tak lain dan tak bukan Allah berikan agar kita bersyukur, beramal, bahkan memperbaiki kesalahan. Dari sini lah berlanjut tentang firman Allah dalam Q.S Ibrahim : 7وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Menyadari atau tidak, sesungguhnya Allah senantiasa menambah rejeki kita.
Saya misalnya, kalau flashback ke belakang ternyata MasyaAllah betapa banyak rejeki yang Allah limpahkan sampai saya bisa jadi seperti sekarang ini. Jujur, saya sempat kuatir tentang rejeki saya “apakah akan cukup?” “kalau kurang gimana?”. Ini masih masalah yang klasik, karena ketika kita ada di titik nol dan berpasrah setelah berjuang, sungguh Allah menunjukkan kebesarannya.
Sedikit cerita pas jaman kuliah dulu, kadang liat temen yang kosannya ber-wifi, ber-AC, ikut-ikutan pengen, tapi Bapak selalu ngingetin kalau “merantau itu harus merih” kata orang sunda mah. Merih disini maksudnya, gimana cara kita tetep bertahan dengan hal seadanya tapi tetep bisa berprestasi. Alhamdulillah Bapak pernah menanamkan itu, hal itu yang membuat saya malu minta uang tambahan, membuat saya berpikir bagaimana bisa tetap memiliki uang tambahan, karena kuliah bukan sekedar makan tidur, lebih dari itu ada biaya tak terduga tiba-tiba banyak tugas harus print sana sini, tiba-tiba banyak event harus iuran sana sini. Dimulai dari jualan pulsa, ikut MLM terus cari beasiswa sana sini, Alhamdulillah berkat doa orang tua juga pastinya selama 2 semester saya bisa mendapatkan uang tamabahan melalui beasiswa (sebelum akhirnya lepas karena nilai anjlok hehe) mungkin memang gak seberapa tapi buat mahasiswa itu priceless!. Saya bahkan pernah di tingkat akhir, mencari tambahan dari membantu orang jualan di toko (sambil ngisi waktu kosong sih sebenernya), upah nya emang ga seberapa, tapi alhamdulillah bisa untuk
Cuma sayang seribu sayang, saya sempet lupa sedekah, saya pernah terlalu menghkawatirkan rejeki saya itu. Sampai akhirnya suatu kejadian mengingatkan saya untuk terus bersedekah, karena sedekah juga merupakan pintu rejeki, kadang kita merasa kalau rejeki kita berkurang dengan sedekah padahal tidak sama sekali, justru kita sebenernya menabung, karena Allah suka ngasih kejutan disaat yang tak terduga, rasain deh nikmaaat banget.
Bagi saya sedekah bukan sekedar nabung amal supaya istilah kasarnya diganti lebih (walaupun janji Allah seperti itu), tapi di balik sedekah juga melatih untuk bersyukur karena ternyata gak semua orang seberuntung saya, disisi lain juga dalam Islam telah diatur bahwa ada sebagian hak orang lain dalam rejeki kita bukan? Kalau kita cuma menuntut hak kita aja niscaya gak akan pernah cukup. Berarti kalau rejeki kita dimasukkin ke perut semua kita udah makan hak orang dong? Saya mencoba berfikir kesana.
Setelah lulus, kekhawatiran kian melanda itu pasti, kadang kita merasa ada sesuatu dalam diri kita yang harusnya mendapat bagian dari apa yang telah kita korbankan. Dulu, sempet was-was gimana kalau ga kerja? Sementara udah ada temen yang kerja sebelum wisuda, beberapa kali tes dan wawancara, ada yang kepengeeen banget malah belum rejeki, ada yang nerima malah gak srek, bukan karena idealis ya, menurut saya memang bekerja itu harus sesuai passion, kadang liat temen ada yang udah diterima kerja malah resign dsb.
Tapi alhamdulillah Allah memang gak pernah tidur, kekhawatiran saya dijawab setelah saya susah payah berikhtiar. Walaupun masih ada perasaan “pengen deh punya kerjaan yang tetap” tapi ada hikmah dibalik menjadi seorang freelancer, bisa bertemu orang-orang baru, nambah temen, banyak belajar tentang hal-hal baru juga tentunya (kalau lagi kosong, ya anggap aja Allah lagi nyuruh istirahat hehe, selain itu juga berfikir sih, ngga tau kenapa lebih ngerasa produktif aja ketika lagi nganggur, bisa nambah self-improvement). Lagi-lagi ini rejeki.
Disisi lain kita bahas yang seru, yaitu masalah nominal, pastinya kita ingin income yang ’mencukupi menurut versi kita’, saya pun begitu apalagi setelah mengenal Ibukota. Diluar kebutuhan pokok kita, pasti ada rasa pengen bisa ngasih lah ke orang tua, pengen icip-icip lah hasil keringet sendiri dsb. Bicara soal nominal, tentunya keinginan kita gak akan pernah ter-cover, caranya adalah kembali pada kebutuhan dan prioritas. Masalah pekerjaan, saya pernah bekerja dengan salary yang jauh dari ekspektasi tapi saya bisa enjoy, saya pernah juga kerja dengan salary yang sesuai ekspektasi tapi tentunya dengan tekanan kerja yang sebanding, entahlah mungkin kalau saya mendapat gaji diatas yang diekspektasikan mungkin tekanan kerja nya akan lebih berat akibatnya perlu yang namanya refreshing supaya ga stress yaaa sebenernya sama aja gaji berapa juga kalau kita ga pernah merasa cukup mah Hehe, semuanya tergantung pada dari mana kita memandang rejeki itu, bisa menambah skill dan pengetahuan, dari yang gak tahu jadi tahu, bisa punya banyak temen baru juga, lingkungan kerja yang nyaman, intinya bersyukur itu tadi.
Saya pernah baca artikel seseorang, dimana dia udah sekolah tinggi, bekerja tanpa digaji tapi Alhamdulillah dia tetep bisa menjalani aktivitas seperti biasanya, dia sebut itu mengabdi. Yang saya tangkap bahwa bisa jadi dia mendapat rejeki dari pahala nya, hmm menarik. Jadi belum tentu ya nominal itu menentukan kesejahteraan, mungkin dipandang orang terlihat sejahtera, tapi hati ga bisa bohong. Yang terpenting sih kesejahteraan hati dulu, bisa di dapet dari bersyukur tadi, atau ber-sedekah, dan satu lagi yang gak saya lupa dari guru saya bahwa shalat duha bisa membukakan pintu rejeki untukmu. Ah.. MasyaAllah. Rejeki emang gak pernah tertukar selama kita percaya sama Allah.
Semoga kita senantiasa Allah golongkan ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Aamiin.
Belajar Lagi
Kali
ini saya ingin mencoba mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan dengan
cara berbagi, walaupun baru saya sadari saat ini bahwa apa yang saya
jalani ke belakang bukan merupakan passion saya, namun bagaimana
pun saya menyadari pentingnya suatu tanggung jawab atas apa yang telah
saya korbankan, maka ketika saya merasa tersesat di jalan, hal yang saya
lakukan tentunya mencari jalan keluar. Maka, mulai dari hal kecil ini
saya mencoba keluar dari jalan yang tersesat itu. Saya yakini bahwa saya
sudah tersesat di jalan yang benar :)
Hal pertama yang akan saya bahas yaitu mengenai Sejarah Ilmu Gizi sebelum nantinya saya membahas hal-hal yang lebih mendalam lagi. Sejarah terdengar membosankan? Eit
tunggu dulu, karena bagi saya sejarah merupakan asal mula segala hal
yang ada saat ini, bagaimana kita bisa mengartikan suatu makna jika kita
tidak mengenal hal tersebut dengan baik dan benar?Definisi Ilmu Gizi
- WHO menyatakan bahwa Ilmu Gizi merupakan suatu proses dalam organisme hidup untuk mengolah zat-zat pada makanan yang diperlukan untuk memelihara kehidupan, pertumbuhan, fungsi organ tubuh, dan menghasilkan energi.
Sejarah Ilmu Gizi
Pada jaman dahulu manusia purba mengenal makanan sekedar untuk bertahan hidup, seiring perkembangan jaman, pada masa yunani makanan mulai dikaitkan dengan penyakit. Pada masa ini penyakit kebutaan dapat disembuhkan dengan mengonsumsi hati atau penyakit gondok dapat disembuhkan dengan mengonsumsi rumput laut, sebatas itu.Baru lah pada abad ke-16 lahir konsep konsep gizi modern yang dimulai dari energy balance, dimana adanya keterkaitan antara penggunanaan makanan dengan aktivitas fisik. Selain itu, banyak dilakukan eksperimen tentang penemuan Oksigen oleh Josep Priestly dan Karl Willhelm hingga proses pernafasan oleh Lavoiser. Pada abad ke-18 mulai lah ditemukan konversi faktor untuk kalori 4,4,9 dan penyusunan DKBM pertama oleh Wilbur Atwater (pembahasan mengenai konversi kalori akan dibahas pada materi selanjutnya ya).
Perkembangan Ilmu Gizi di Indonesia sendiri berawal sejak masa penjajahan oleh Belanda yang merintis pendidikan gizi yang didukung oleh ilmu inter-disipliner seperti; kedokteran, pertanian, biokimia, ekonomi dan statistik. Pada era Prof. Dr. Poerwo Soedarmo selaku Bapak Gizi Indonesia tahun 1950-1965 mulai dididik tenaga profesional gizi sehingga lahir pedoman 4 Sehat 5 Sempurna sebagai media utama pendidikan Gizi.
Pada abad ke-20 mulai lah dikenal Ilmu Gizi. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, di abad ini pedoman 4 sehat 5 sempurna tidak lagi digunakan dan telah mengalami perbaikan menjadi Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Perubahan ini tak lain dikarenakan adanya aspek yang tidak diperhatikan dalam 4 sehat 5 sempurna, yaitu takaran atau anjuran porsi makan yang tepat bagi manusia.
Pada pedoman gizi seimbang dijabarkan rinci mengenai porsi yang tepat dalam mengonsumsi karbohidrat (6-11serving/day), sayuran (3-5serving/day), buah buahan (2-4serving/day), protein (2-3serving/day), kelompok lemak (2-3serving/day), juga memerhatikan takaran gula, garam dan minyak (secukupnya). Selanjutnya PGS mengalami penyempurnaan, dimana terdapat 4 Pilar diantaranya:
- Mengonsumsi makanan beragam
- Membiasakan perilaku hidup bersih
- Melakukan aktivitas fisik
- Mempertahankan berat badan normal
Serta tedapat 10 pesan PGS diantaranya:
- Syukuri nikmat aneka makanan
- Banyak konsumsi sayur dan buah
- Biasakan mengonsumsi lauk pauk berprotein tinggi
- Biasakan mengonsumsi aneka ragam makanan pokok
- Batasi konsumsi pangan asin, manis dan berlemak
- Biasakan sarapan
- Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
- Biasakan membaca label pada kemasan pangan
- Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
- Lakukan aktivitas fisik dan pertahankan BB normal
Hingga kini penyempurnaan pada Pedoman Gizi Seimbang terus dilakukan, dan yang digunakan saat ini adalah Tumpeng Gizi Seimbang, selain menjabarkan porsi yang tepat tumpeng ini dilengkapi dengan anjuran aktivitas fisik, menjaga BB normal serta menjaga asupan cairan. Tentunya kebutuhan ini pada masing-masing individu akan berbeda tergantung pada usia, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, serta aktivitas fisiknya.
Abad ke-20 merupakan The Golden Age of Nutrition, dimana mulai ditemukan zat gizi makro, zat gizi mikro, dan zat bioaktif. Telah ditetapkan pula Recommended Dietary Allowance (apasih itu? akan dibahas pada materi selanjutnya ya). Berdasarkan WHO (1998) prevalensi anak dengan kondisi underweight dan stunting menurun seiring berkembangnya Ilmu Gizi. Kesetaraan hak memperoleh kesehatan juga telah diatur dalam Deklarasi Ketahanan Pangan Dunia (1996) yang menyatakan bahwa:
“setiap orang berhak memperoleh makanan yang aman dan bergizi seimbang sesuai dengan hak azasi dari setiap orang untuk bebas dari kelaparan”.
Paparan diatas merupakan sebagian kecil alasan mengapa penting bagi kita mempelajari Ilmu Gizi.
Pada pembahasan selanjutnya saya akan coba membahas tentang komponen gizi sebagai dasar Ilmu Gizi yang gak kalah seru nya, penasaran? Maka, tetap membaca yaaa, dan selalu semangat untuk menambah wawasan.
Senang bisa berbagi. Semoga bermanfaat! :)
Pemeran Utama Dibalik Layar Panggung Sandiwara
"dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”
Kurang lebih begitu pribahasa yang tepat menggambarkan bagaimana seharusnya kehidupan kita.
Dalam hidup, tentu banyak orang yang memberi penilaian, tentang baik atau buruk hal yang kita jalani di suatu kehidupan.
Sayangnya, kita seringkali dibuat buta dan tuli dalam mengambil peran.
Bahwasannya peran terbaik selalu dimainkan oleh pemeran utama bukan? Karena sejatinya, kepada siapapun bergantung, adalah diri sendiri sebagai pemeran utama dalam hidup yang dijalani.
“maka, ambil lah peran terbaik dan bersandiwara lah dengan baik wahai pemeran utama”.
Di panggung sandiwara, aku memilih untuk tetap tinggal di balik layar, memberi arti pada pencapaian seseorang.
Pada satu masa khalayak patut bangga dan memuji pencapaiannya tanpa perlu tahu sosok dibaliknya. Itulah aku, cukuplah ia saja yang tak pernah lupa akan punggung nya.
Begitulah aku menamai diriku.
“Pemeran Utama di Balik Layar Panggung Sandiwara”.
Kini sang pemeran utama tengah berdiri pada titik temu dari perjalanan, pelayaran, dan penantiannya yang panjang.
Di padang ilalang ia temukan sebagiannya yang hilang.
Sedianya kau tetap bermain peran bersamaku, inilah panggung terindah yang pernah ku pijaki.
Bogor, 01 Oktober 2017
Menghapus Sebagiannya Saja
Ah, sudahlah ia bukan penikmat hasil.
Kuil yang nampak begitu megah dan menjulang tinggi itu pun tidak semerta-merta kokoh dengan sendirinya, tentu dibaliknya ada keringat yang mengucur lebat.
Semakna dengan yang tertulis pada kalimat pertama, bahwa “apa-apa yang tampak di luar belum tentu serupa dengan apa yang terasa di dalam”.
Ia adalah sang penikmat proses.
Bukan hal yang mudah baginya, bangkit dari jatuh yang teramat sakit -memilih melepaskan kala apa yang ia rasa tengah menjelma dengan dirinya.
Dibalik itu, berkali-kali ia menyekah setiap air mata yang jatuh tanpa diminta.
Ia menangis bukan karena lemah, hanya kehabisan alasan untuk manyanggah.
Mengumpulkan setiap puing demi puing harapan yang pernah ia bangun kemudian dibuat runtuh seketika, hingga tergerus oleh waktu yang ia biarkan berlalu.
Tapi tidak dengan rasa sakitnya.
Ia hanya menghapus sebagiannya saja.
Bukan mengapa, baginya setiap pelik masa lalunya, setiap liku dan terjal jalan yang dilalui senantiasa dijadikannya guru paling berharga dalam hidupnya
Hingga menjadi sekokoh kini.
Jangan disini jika sekedar membuat gaduh, sudah cukuplah ia mengaduh, jika ingin tetap disini bawa hati yang utuh jangan separuh.
Ia sedang membangun pondasi dan tak ingin membiarkannya runtuh lagi.
Pict Source : @karenapuisiituindah
Bogor, 29 Sepetember 2017
Selamat Datang
Selamat datang.
Kau sudah sampai di depan pintu gerbang.
Suatu kedatangan yang sudah lama ditunggu-tunggu.
Lalu, apalagi yang membuatmu ragu?
Apa karena terlihat sudah berkarat?
Pemiliknya memang membiarkan gerbang itu tertutup rapat dan tak terawat.
Kau benar, di dalamnya terlihat berserakan.
Seperti bekas luka yang ditinggalkan.
Jika ragu, kau tak pernah tau rahasia apa yang ada di dalamnya.
Jika maju, kau tentu harus siap dengan segala risikonya.
Hanya ada dua pilihan.
Berbalik arah atau lanjutkan.
Sukabumi, 27 Sepetember 2017
Bersama
Tuan,
Kuperhatikan..
Langkahmu semakin nyata.
Meskipun masih banyak anak tangga yang perlu kau tapaki.
Tuan,
Sudah seberapa siap bekal yang kian memberatkan pundakmu itu?
Bahwasannya aku tahu bagaimana beratnya menapaki anak tangga seorang diri.
Izinkan aku menemani.
Bilamana pundak ku tidak lebih kuat darimu,
Setidaknya kuringankan bebanmu dengan melukis senyum di wajahmu sepanjang anak tangga.
Atau, kuringankan langkahmu dengan suara tapak kakiku, agar kau senantiasa kuat, dan percaya bahwa kau tak benar-benar berjuang sendirian.
Jika begitu tuan,
Apa kau masih yakin akan menapakinya seorang diri?
Sedang bersama terasa begitu meringankan beban di pundakmu dan langkah kakimu
Pict Source : @aksarannyta
Bogor -sedang hujan hujannya, 24 September 2017
Di Tempat Biasa, ya
Kali ini,
Bukan lagi soal untaian sajak yang melena hati. Biarlah itu jadi tugas sang pujangga.
Bukan pula sekedar pengingat disetiap sudut waktu. Serahkan itu pada denting alarm.
Tapi lebih dari itu,
Mengerti..
Mengerti, bahwa masing-masing dari kita berbeda.
Perbedaan yang tak mesti diperdebatkan, melainkan perbedaan yang mampu menggenapkan.
Mengerti, bahwa masing-masing dari kita punya impian.
Jika perlu,
Pergilah dulu, kejar impianmu.
Raihlah dulu, apa yang kau mau.
Kelak, akan kubisikkan
“di tempat biasa, ya”
Seperti itu ibaratnya,Kala tanya tak lagi perlu jawaban.
Kala arah yang tak lagi perlu navigasi.
Karena kemana pun kau pergi.
Jika aku tempat kembalimu.
Sudah kupastikan kau tahu jalan pulang.
Pict source : @karenapuisiituindah
Bogor, 23 September 2017
Menyelami Arti Hadirmu
Kurasa aku terlalu lama menutup mata, hingga pada setiap pandang begitu gulita
Kurasa aku terlalu lama menutup telinga, hingga pada setiap ucap hanya terasa kesunyian
Anehnya kesendirian tak membuatku merasa benar benar kosong
Pun kala kedinginan terasa begitu menghangatkan
Kusadari,
Nyatanya ada doa yang tak lepas dipanjatkan
Aku mulai belajar membaca, setiap aksara yang dituangkan
Aku mulai belajar mendengar, setiap kata yang diutarakan
Kini
Terlihat begitu nyata, terdengar begitu merdu
Aku..
Telah menyelami arti hadirmu
Pict source : @aksarannyta
Sukabumi, 21 September 2017
Harapan
Bagiku, percakapan dengan Tuhan selalu menyenangkan.
Tentang kebahagiaan, kesedihan, mimpi dan harapan.
Pada harapan-harapan yang tak ku genggam erat bukan berarti sudah karat, melainkan telah kupercayakan telak pada Tuhan secara tersirat.
Bilamana hadir kecewa, tetaplah Ia sebaik-baiknya tempat mengadu asa.
Sang Maha pencipta rasa
Sama hal nya,
Di ruang tunggu, Aku tak pernah merasa waktu berakhir buntu, karena janji Tuhan tak pernah palsu.
Perihal yang berlalu, kepergian tak selamanya bermakna pilu, karena yang dipilihkan Tuhan tak pernah keliru.
Jika pada ruang tunggu saja bisa seindah itu, bagaimana jika akhirnya bertemu lalu bertamu?
Ya, selalu ada harapan yang menjulang setinggi tiang.
Maka Tuhan lah yang membuatnya begitu topang.
Pada setiap harapan, ada jeda, ada ruang.
Bersabar, janganlah dulu pulang.
Pict source : @karenapuisiituindah
Bogor, 19 September 2017
Lembaran Baru
Seperti tak ada lelahnya aku menuliskan tentangmu disetiap bait sajak ku
Semoga kau lah koma yang kutemukan sebagai penghubung kisah pada bait hidupku selanjutnya
Semoga kau lah titik yang kutemukan sebagai akhir pencarian bait hidupku.
Pict source : @hujanmimpi
Bogor, 17 September 2017
Menepi sejenak
Menepi sejenak,
Mungkin perjalanan ini melelahkan
Menepi sejenak,
Mari duduklah..
Pejamkan mata dan raih samar samar cahaya senja kala itu
Lalu hirup udara dalam dalam dan hembuskan perlahan sembari melepas segala penat yang ada.
Kemudian hiraukan apa apa yang datang dari alam bawah sadarmu.
Adakah itu menyedihkan? Maka, menangislah hingga lelah
Biarkan berlalu beriringan dengan setiap tetes air mata yang kau buang percuma dan tanpa syarat
Perlahan, tinggalkanlah masa lalu seperti sisa sisa jejak kaki diatas pesisir pantai yang kemudian hilang tersapu air lautan
Adakah itu menyenangkan? Maka, berharaplah baik baik, agar senantiasa hati menjadi ringan
Berharap masa depan seperti karang yang kian kokoh meski diterjang ombak berkali kali
Menepi sejenak,
Perlahan buka kedua mata dan rasakan setiap hembusan angin, kicauan burung dan indahnya senja kala itu.
Tersenyumlah, karena dirimu berhak atas itu.
Sukabumi, 15 September 2017
Pelabuhan Pertama
Senang rasanya bisa membersamai perjalananmu hingga pelabuhan pertama.
Adalah hal yang tak terduga sebelumnya bisa dipertemukan lagi denganmu ditengah perjalanan.
Bersama, waktu terasa begitu cepat berlalu.
Sudah kubilang bukan kalau ini adalah rute terpanjang dari perjalanan yang pernah ada?
Jadi, bisa kau bayangkan sebesar apa kekhawatiranku jika rute ini diibaratkan dalam satuan besaran?
Jika lelah beristirahatlah, kurasa tempat ini cukup baik untuk disinggahi
Jika lelah beristirahatlah, jangan menyerah.
Selamat, kau sudah sampai di pelabuhan pertama.
Sekiranya aku diizinkan Tuhan menemani dan ditemani untuk sampai ke dermaga, mungkin aku tidak akan tersesat.
Ketika mereka bilang aku setegar karang pun, belum tentu aku bisa sampai kesana seorang diri.
Jika aku pernah terombang ambing sendirian, adalah kau yang kayuh perahuku sampai ketepian.
Bogor, 13 September 2017
Kemana Harus Kucari?
Riuh gemuruh ombak seirama detak jantung yang kian gundah
Semilir angin menghidupkan kembali mimpi buruk yang kian lenyap dimakan usia
Kata mereka : “ikuti saja arusnya, nanti kau sampai”
Namun nyatanya aku hanya terombang ambing
Entah di pesisir mana kelak aku akan berlabuh
Sungguh hati tak ingin melewatkan setiap dayung perjalanan ini
Namun, kecewa pernah menenggalamkanku hingga ke dasar lautan
Yang aku tahu, dermaga tak pernah berpindah
Mungkin aku yang terlalu jauh berkelana
Lalu, kemana harus kucari?
Bogor, 10 September 2017Selamat sampai tujuan
Kali ini, seketika niat saya terurung untuk bersajak.
Kepergian seseorang sungguh tak ada yang tahu. Hari kemarin saya benar terkejut mendengar kabar duka dari ayahanda sahabat saya sendiri. Sontak hati dan fikiran melebur, Ayahanda adalah seorang yang sungguh baik, sangat murah senyum. Mungkin itu kenapa Tuhan memanggilnya cepat cepat, Ia rindu.
Disamping kepergiannya yang mendadak, penyebabnya pun diluar sangka. Siapa sangka orang yang segar bugar izin berangkat mencari nafkah di pagi hari dengan niat mencerdaskan anak bangsa, lepas tugas seketika denyut nadinya terhenti. Sungguh orang baik dipanggil dengan cara yang baik.
Selalu, belajar dari setiap kejadian. Ketika kita ingin bepergian jauh saja membawa banyak sekali bekal untuk diperjalanan. Lalu, bagaimana dengan bekal kita untuk selamat sampai tujuan yang hakiki? Bertemu Sang Maha Pencipta.
Selalu, belajar dari setiap kejadian. Tanam lah kebaikan kebaikan, bukan hanya untuk mengharap balasan ketika kita masih hidup saja, niscaya kebaikan kebaikan yang kita tanam semasa hidup akan jadi cerita yang abadi kelak kita tiada.
Selalu, belajar dari setiap kejadian. Apa apa yang dimiliki di dunia, begitu dicinta di dunia, tidak akan dibawa hingga kubur. Hanya doa doa dari orang yang pernah dimiliki dan dicinta di dunia lah yang bisa mengantar kita selamat sampai tujuan.
InsyaAllah Ayah selamat sampai tujuan
Al-fatihah
Pict source : @hujanmimpi
Bogor, 07 September 2017
Bagaimana Jika Obat Rindu Itu Temu?
Apa kau sudah tahu?
Kalau..
Rindu, bukan hal yang tabu.
Rindu, tak pernah semu.
Bukankah perkara rindu bisa dijamu dengan merdu?
Sayang, rinduku sudah menjadi peluru.
Lalu, bagaimana jika obat rindu itu temu?
Izinkan kusampaikan rindu lewat bahasa kalbu.
Biar itu jadi urusan aku dengan Rabb ku pada tiap malam-malam syahdu.
Maka, akan selalu ku tunggu.
Sampai waktunya bertemu.
Kamu.
Pict source: @aksarannyta
Bogor, 06 Sepetember 2017
Lembar Baru
Dan aku membuat ruang yang baru dengan sedikit aksara lama sebagai pengingat bahwa jemariku pernah begitu lihai merangkai kata, kini aku kembali.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Perceraian dalam Pernikahan
Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...
-
Hujan tak pernah monoton. Banyak rima mengalun lara kala bercerita tentang hujan. Memang, hujan paling pandai membawa serta setiap kenangan...
-
Apa kau sudah tahu? Kalau.. Rindu, bukan hal yang tabu. Rindu, tak pernah semu. Bukankah perkara rindu bisa dijamu dengan merdu? Say...
-
Seperti tak ada lelahnya aku menuliskan tentangmu disetiap bait sajak ku Semoga kau lah koma yang kutemukan sebagai penghubung kisah pad...












