Wednesday, November 6, 2019

Tentang Social Media.

Perkembangan jaman tentunya akan sangat menguntungkan bagi mereka yang pandai menyikapi tantangan dan pandai beradaptasi dengan perubahan.
Pada tulisan ini saya ingin berfokus pada sosial media. Sebenarnya banyak manfaat dari sosial media ini seperti, mempermudah dalam memperoleh informasi, mempermudah dalam transaksi, juga mempermudah akses berkomunikasi dan masih banyak lagi tentunya.
Entah mungkin hanya saya pribadi yang melihat kok lebih banyak lagi sisi buruk nya ya dari sosial media ini? Hmm banyak berita-berita yang tersebar justru tidak benar, sehingga kebencian mudah sekali tersebar.

Di lain sisi, seseorang yang belum tentu berniat ria pun jadi korban. Misalnya, seseorang itu tadinya hanya bermaksud membagikan momen kebahagiaan, tapi yang orang lain lihat belum tentu demikian, bisa saja dibalik itu orang-orang justru mencibir, mungkin seseorang itu tidak sadar, mungkin orang yang mencibir pun awalnya gak niat tuh untuk mencibir. Tapi karena itu tadi, kita mungkin kurang pandai dalam mengelola perkembangan jaman.
Justru sekarang saya jadi takut kalau saya ‘kelepasan’ berbagi momen yang dapat ‘memancing’ orang berkomentar, walaupun jujur saya pribadi masih sulit menahan diri untuk tidak membagikan suatu momen yang sangat berarti menurut versi saya.

Think twice, itu yang saya sedang coba terapkan pada diri saya belakangan ini, jadi ketika saya mau share sesuatu mikir dulu ini kira-kira bermanfaat gak ya untuk orang lain? Kira-kira orang akan berfikir saya itu seperti apa ya? Kurang lebih seperti itu, kalau lagi share hal yang sekiranya bermanfaat terus orang sebut pencitraan gimana? Gak masalah, yang penting niat kita itu apa, kita juga harus pandai menjaga citra kita sebagai manusia, apalagi perempuan. Selain itu, apakah kita sudah menjaga perasaan orang lain kalau kita share hal tersebut? Misalnya kita dapet rejeki nih, terus di share, bisa jadi menurut kita gak masalah, tapi untuk orang yang belum seberuntung kita gimana? Contoh kecil lainnya, kita share momen bahagia sama keluarga, bisa jadi buat kita gak masalah, dan emang biasanya itu wajar, tapi gimana perasaan orang yang udah gak punya bapak/ibu?. Saya pikir secara gak langsung bisa aja menyinggung perasaan orang lain, bisa aja menumbuhkan perasaan iri pada orang lain. Naudzubillah..

Cerita lainnya, ketika lagi sedih/jengkel misalnya, terus kita share di media sosial, yang awalnya berniat menarik simpati bisa jadi orang lain berfikir “kok hidup nya sedih amat, kapan bahagianya?” padahal mah gak gitu-gitu amat biasanya. Contoh sederhana aja, kalau kita lagi kerja terus curhat dengan caption “uh numpuk banget kerjaan”, “uh harus lembur hari ini, capek”. Coba deh inget lagi sesusah apa perjuangan kita untuk dapet pekerjaan tersebut? Coba deh difikir lagi, sebenernya kita udah lebih beruntung bukan dari orang yang belum mendapatkan pekerjaan? Kuncinya, diinget lagi aja nikmat yang udah Allah kasih, cerita sama Allah, jangan hanya minta pekerjaannya diringankan tapi minta untuk dikuatkan dalam menjalankannya.

Jujur, saya sendiri pun masih banyak belajar memilah memilih mana yang bermanfaat mana yang tidak, mana yang penting mana yang gak penting, mana yang bisa menyenangkan orang mana yang bisa menyakiti orang. Ini juga bagian dari self-reminder untuk saya, karena pikiran saya belum sesempurna yang hati saya inginnya.

Kehebatan lain dari media sosial adalah bisa mendekatkan yang jauh, tapi hati-hati bisa jadi menjauhkan yang dekat juga, gak heran kalau suatu hubungan bisa kurang harmonis, bukankah ketika seseorang memutuskan untuk bertemu seharusnya mereka sudah menyelesaikan urusan dengan dunia maya nya? Atau sedang berniat mengistirahatkan dunia maya nya? singkirkan media sosial sejenak kala sedang berhadapan dengan lawan bicara, atau jika ada sesuatu yang benar-benar urgent minta maaf sebentar untuk membalas pesan tersebut. Sesimple itu kok mengharai orang lain.
InsyaAllah apa yang saya share di media sosial niat nya lurus aja dulu, setelah itu terserah gimana orang lain menilai, dan InsyaAllah apa yang orang share di sosial media nya selalu saya coba kaitkan dengan hal positif, karena adalah wajar kalau orang yang lagi bahagia pengennya berbagi, apalagi untuk orang-orang yang ekstrovert, yang notaben nya memang sulit menahan perasaannya, malah kadang saya berfikir lebih baik para selebgram, selain mendapatkan profit, dia juga sudah membantu orang lain? Haha, apa gak gitu ya? Tergantung sih dari mana kita melihatnya. Selain itu, coba berfikir positif ketika orang sedang berbagi kesedihan, mungkin orang itu butuh teman? Mungkin itu adalah masa terburuknya? Don’t judge please.

Lalu apa yang ingin saya bagi disini? Coba lihat sesuatu dari dua sisi, tempatkan diri kita sebagai orang lain. Jangan sekedar berargumen tanpa solusi, alangkah lebih baik kita menegurnya langsung dari pada mencibir nya di belakang. Gakpapa berbagi kebahagiaan/kesedihan selama tidak berlebihan. Saya hanya khawatir, bila ini berlangsung lama akan jadi generasi apa selanjutnya?

Memiliki satu teman akan lebih baik dibandingkan memiliki satu musuh, bisa jadi 1 kesalahan kita meruntuhkan 1000 kebaikan yang telah kita bangun” -anonym.

No comments:

Post a Comment

Perceraian dalam Pernikahan

Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...