Wednesday, November 6, 2019

Tentang Rejeki

Buat saya ini menarik dibahas, tapi kali ini pembahasannya menurut sudut pandang saya pribadi, memang masih subjektif, tapi InsyaAllah berbekal dari pengalaman sendiri, berhubung belum sempet terlalu banyak baca literatur tentang ini. Mungkin setelah nanti banyak baca bakal diulas lagi dan insyaAllah tidak ada niat ria dari apa yang saya bagi berikut, tujuannya agar kita sama sama belajar :)

Bismillah

Rejeki menurut saya ga melulu soal materi, kita bisa berkedip, bisa bernafas itu rejeki, ya rejeki yang sayangnya jarang banget kita sadari, jarang banget kita syukuri. Rejeki itu tak lain dan tak bukan Allah berikan agar kita bersyukur, beramal, bahkan memperbaiki kesalahan. Dari sini lah berlanjut tentang firman Allah dalam Q.S Ibrahim : 7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Menyadari atau tidak, sesungguhnya Allah senantiasa menambah rejeki kita.
Saya misalnya, kalau flashback ke belakang ternyata MasyaAllah betapa banyak rejeki yang Allah limpahkan sampai saya bisa jadi seperti sekarang ini. Jujur, saya sempat kuatir tentang rejeki saya “apakah akan cukup?” “kalau kurang gimana?”. Ini masih masalah yang klasik, karena ketika kita ada di titik nol dan berpasrah setelah berjuang, sungguh Allah menunjukkan kebesarannya.
Sedikit cerita pas jaman kuliah dulu, kadang liat temen yang kosannya ber-wifi, ber-AC, ikut-ikutan pengen, tapi Bapak selalu ngingetin kalau “merantau itu harus merih” kata orang sunda mah. Merih disini maksudnya, gimana cara kita tetep bertahan dengan hal seadanya tapi tetep bisa berprestasi. Alhamdulillah Bapak pernah menanamkan itu, hal itu yang membuat saya malu minta uang tambahan, membuat saya berpikir bagaimana bisa tetap memiliki uang tambahan, karena kuliah bukan sekedar makan tidur, lebih dari itu ada biaya tak terduga tiba-tiba banyak tugas harus print sana sini, tiba-tiba banyak event harus iuran sana sini. Dimulai dari jualan pulsa, ikut MLM terus cari beasiswa sana sini, Alhamdulillah berkat doa orang tua juga pastinya selama 2 semester saya bisa mendapatkan uang tamabahan melalui beasiswa (sebelum akhirnya lepas karena nilai anjlok hehe) mungkin memang gak seberapa tapi buat mahasiswa itu priceless!. Saya bahkan pernah di tingkat akhir, mencari tambahan dari membantu orang jualan di toko (sambil ngisi waktu kosong sih sebenernya), upah nya emang ga seberapa, tapi alhamdulillah bisa untuk jalan-jalan jajan-jajan, terus jualan snack buatan sendiri yang bikin saya harus bangun pagi bareng temen, kemudian keuntungannya dibagi dua. Bagi saya bukan melulu soal keuntungan, tapi berkah dari usahanya, bisa menjalin silaturahmi dengan temen lama atau bahkan ketemu orang baru juga itu rejeki lho!
Cuma sayang seribu sayang, saya sempet lupa sedekah, saya pernah terlalu menghkawatirkan rejeki saya itu. Sampai akhirnya suatu kejadian mengingatkan saya untuk terus bersedekah, karena sedekah juga merupakan pintu rejeki, kadang kita merasa kalau rejeki kita berkurang dengan sedekah padahal tidak sama sekali, justru kita sebenernya menabung, karena Allah suka ngasih kejutan disaat yang tak terduga, rasain deh nikmaaat banget.
Bagi saya sedekah bukan sekedar nabung amal supaya istilah kasarnya diganti lebih (walaupun janji Allah seperti itu), tapi di balik sedekah juga melatih untuk bersyukur karena ternyata gak semua orang seberuntung saya, disisi lain juga dalam Islam telah diatur bahwa ada sebagian hak orang lain dalam rejeki kita bukan? Kalau kita cuma menuntut hak kita aja niscaya gak akan pernah cukup. Berarti kalau rejeki kita dimasukkin ke perut semua kita udah makan hak orang dong? Saya mencoba berfikir kesana.
Setelah lulus, kekhawatiran kian melanda itu pasti, kadang kita merasa ada sesuatu dalam diri kita yang harusnya mendapat bagian dari apa yang telah kita korbankan. Dulu, sempet was-was gimana kalau ga kerja? Sementara udah ada temen yang kerja sebelum wisuda, beberapa kali tes dan wawancara, ada yang kepengeeen banget malah belum rejeki, ada yang nerima malah gak srek, bukan karena idealis ya, menurut saya memang bekerja itu harus sesuai passion, kadang liat temen ada yang udah diterima kerja malah resign dsb.
Tapi alhamdulillah Allah memang gak pernah tidur, kekhawatiran saya dijawab setelah saya susah payah berikhtiar. Walaupun masih ada perasaan “pengen deh punya kerjaan yang tetap” tapi ada hikmah dibalik menjadi seorang freelancer, bisa bertemu orang-orang baru, nambah temen, banyak belajar tentang hal-hal baru juga tentunya (kalau lagi kosong, ya anggap aja Allah lagi nyuruh istirahat hehe, selain itu juga berfikir sih, ngga tau kenapa lebih ngerasa produktif aja ketika lagi nganggur, bisa nambah self-improvement). Lagi-lagi ini rejeki.
Disisi lain kita bahas yang seru, yaitu masalah nominal, pastinya kita ingin income yang ’mencukupi menurut versi kita’, saya pun begitu apalagi setelah mengenal Ibukota. Diluar kebutuhan pokok kita, pasti ada rasa pengen bisa ngasih lah ke orang tua, pengen icip-icip lah hasil keringet sendiri dsb. Bicara soal nominal, tentunya keinginan kita gak akan pernah ter-cover, caranya adalah kembali pada kebutuhan dan prioritas. Masalah pekerjaan, saya pernah bekerja dengan salary yang jauh dari ekspektasi tapi saya bisa enjoy, saya pernah juga kerja dengan salary yang sesuai ekspektasi tapi tentunya dengan tekanan kerja yang sebanding, entahlah mungkin kalau saya mendapat gaji diatas yang diekspektasikan mungkin tekanan kerja nya akan lebih berat akibatnya perlu yang namanya refreshing supaya ga stress yaaa sebenernya sama aja gaji berapa juga kalau kita ga pernah merasa cukup mah Hehe, semuanya tergantung pada dari mana kita memandang rejeki itu, bisa menambah skill dan pengetahuan, dari yang gak tahu jadi tahu, bisa punya banyak temen baru juga, lingkungan kerja yang nyaman, intinya bersyukur itu tadi.
Saya pernah baca artikel seseorang, dimana dia udah sekolah tinggi, bekerja tanpa digaji tapi Alhamdulillah dia tetep bisa menjalani aktivitas seperti biasanya, dia sebut itu mengabdi. Yang saya tangkap bahwa bisa jadi dia mendapat rejeki dari pahala nya, hmm menarik. Jadi belum tentu ya nominal itu menentukan kesejahteraan, mungkin dipandang orang terlihat sejahtera, tapi hati ga bisa bohong. Yang terpenting sih kesejahteraan hati dulu, bisa di dapet dari bersyukur tadi, atau ber-sedekah, dan satu lagi yang gak saya lupa dari guru saya bahwa shalat duha bisa membukakan pintu rejeki untukmu. Ah.. MasyaAllah. Rejeki emang gak pernah tertukar selama kita percaya sama Allah.
Semoga kita senantiasa Allah golongkan ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Aamiin.

No comments:

Post a Comment

Perceraian dalam Pernikahan

Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...