Hujan tak pernah monoton. Banyak rima mengalun lara kala bercerita
tentang hujan. Memang, hujan paling pandai membawa serta setiap kenangan
yang bahkan sudah terkubur dalam-dalam. Tentang bersama siapa, berada
dimana, membicarakan apa saat hujan, dengan sang pujaan.
Hujan
paling piawai membuat kisah menjadi semakin romantis. Bagaimana tidak?
membuat dua insan betah berlama-lama berteduh di emperan toko pinggir
jalan, dan dikemasnya kepedulian “kamu saja yang pakai raincoat nya, jangan sampai sakit,” sesederhana itu.
Hujan
juga bercerita tentang kesetiaan, seseorang rela basah kuyup agar
sampai tepat waktu di tujuan, karena tak rela mengingkari janji. Contoh kecil, driver motor online
rela hujan-hujanan tak peduli perutnya sudah terisi atau belum, bukan
sekedar untuk cari bonus, dibaliknya ada janji “pulang nanti, ayah akan
bawakan fried chicken ya nak”.
Hujan sebagai pundi-pundi
rejeki bagi supir angkot yang kini popularitasnya mulai tergusur akibat
angkutan online yang merajalela.
Hujan adalah kebahagiaan tak
terhingga, bagi anak-anak yang senang menari-nari kecil ditengah bisik
rintik-rintiknya, tapi hujan bisa jadi begitu menjengkelkan bagi para
ibu-ibu setelah tau apa yang diperbuat anaknya hingga basah kuyup
seperti itu.
Hujan anugerah, bagi setiap lahan yang tengah
kekeringan, tapi hujan bisa jadi musibah bagi kota metropolitan yang
kebanjiran ditengah hiruk pikuk kemacetan.
Hujan tak sekedar
dingin, tapi juga kehangatan. Bayangkan, kapan waktu yang paling tepat
untuk menyantap semangkuk mie instant atau setiap cangkir kopi tubruk
yang disajikan? untuk sekedar mengusir rasa dingin yang berkelanjutan,
lagi-lagi akan lebih sempurna bila disantap bersama sang pujaan.
Hujan
itu kamu, yang tak bisa diprediksi kapan datang dan pergi. Jika kelak
hujan turun, sudikah kau datang kemari? Menemaniku menyantap semangkuk
mie? Atau menari kala rintiknya turun ke bumi?
Jika saja, meski
hujan telah reda, ku harap aku bisa tetap berlama-lama, menahan kau agar
kita terus bersama, tapi nyatanya aku hanya seorang wanita yang tak
pandai berkata-kata, dan hanya mampu menyebutmu dalam doa.
By me
Published at https://komidiputarzine.wordpress.com/2017/12/03/komidi-putar-edisi-desember-2017/
Wednesday, November 6, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Perceraian dalam Pernikahan
Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...
-
Hujan tak pernah monoton. Banyak rima mengalun lara kala bercerita tentang hujan. Memang, hujan paling pandai membawa serta setiap kenangan...
-
Apa kau sudah tahu? Kalau.. Rindu, bukan hal yang tabu. Rindu, tak pernah semu. Bukankah perkara rindu bisa dijamu dengan merdu? Say...
-
Seperti tak ada lelahnya aku menuliskan tentangmu disetiap bait sajak ku Semoga kau lah koma yang kutemukan sebagai penghubung kisah pad...
No comments:
Post a Comment