Thursday, September 7, 2023

Perceraian dalam Pernikahan

Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu.

Oke, gabisa dipungkiri kalau kata pertama dari judul memang tabu untuk dibahas, Perceraian. Tapi kata itu benar-benar menggelitik POV ku.

Sejak Ijab Qobul diucapkan, manusia mana sih yang terfikir akan perpisahan? Bayangkan, persiapan menuju pelaminan yang tidak sebentar, memakan waktu bukan? tabungan yang terkuras, bukan soal uangnya saja, tapi tentu ada keringat perjuangan disana, suka cita keluarga, kerabat dekat, yang urung menjadi malu & kecewa.

Tapi ternyata semua perjuangan itu sungguh belum ada apa apanya dibandingkan mempertahankan hidup dengan manusia yang mungkin datang dari antah berantah, manusia yang dibesarkan puluhan tahun dengan culture keluarganya yang mungkin jauh berbeda dengan keluarga kita, belum lagi hal-hal lain diluar kendali.

Jika dirasa sudah tidak nyaman, lebih baik bertahan? atau melepaskan?

Mungkin akan jadi pilihan yang amat sulit terlebih kalau sudah punya anak, tapi lagi-lagi semuanya pilihan. anak dibesarkan dengan hati yang penuh atau hati yang hanya setengah?

Kalau dulu denger kata cerai itu auto DOSA, tapi sekarang jadi tau bahwa itu adalah pilihan.

Ada yang tetap bertahan dengan siksaan batin maupun fisik, mungkin alasannya beragam. Diluar dari cinta, ada perkara ekonomi, tuntutan moril, anak dan lainnya.

Ada yang sepertinya terlihat tidak pernah ada pertikaian, perselingkuhan. tapi ada gejolak batin yang tak bisa diutarakan. jadi masing-masing hanya memenuhi tugas & kewajibannya saja.

Tapi bukankah menikah itu soal komunikasi? soal mencari jalan tengah bersama? bukannya hanya suami mencari nafkah dan istri membesarkan anak saja.

Akan jauh lebih baik jadinya kalau mau saling memperbaiki dan bertahan sampai akhir hayat. Meski semua akhir gak pernah sama & seindah negeri dongeng, tapi dari semua paham aku belajar untuk tidak pernah menggantungkan harapan atau bahkan kebahagiaan pada manusia manapun, berbaik sikap & sangka pada setiap orang itu wajib, tapi menurutku bahagia adalah tanggung jawab diri masing-masing

Wednesday, November 6, 2019

Perempuan dan Pilihannya

Dalam perjalanan, detik-detik menuju hari H pernikahan, alhamdulillah banyak sekali diingatkan Allah perkara perkara kecil rumah tangga, walaupun mungkin baru sekian persennya, yang Allah sampaikan melalui perantara perantara, baik secara tiba-tiba lihat/baca postingan orang lain di social media, mengamati interaksi keseharian orang tua di rumah, atau dari teman-teman yang memang secara sengaja mengingatkan.

Salah satu yang mengetuk hati adalah tulisan ringan dari tumblrnya rasyid al fauzan yang judulnya “menangkan dulu hati lelaki kita”

Sebelum pada inti cerita, lagi lagi semuanya memang tergantung pada niat. Seperti yang aku bahas pada tulisan sebelumnya, keputusanku untuk menikah bukan karena sekedar “keinginan” semata atau ikut ikutan temen yang sudah lebih dulu atau tuntutan usia atau atas tuntutan orang tua, aku memutuskan ini karena aku sudah merasa ingin menyempurnakan agama Allah dan membutuhkan seseorang yang bisa membimbing aku, mengantarkan ku ke surga-Nya, dan alhamdulillah Allah pertemukan aku dengan Mas.

Perempuan itu luar biasa berharga, bahkan dalam Al-Quran pun dijelaskan berkali-kali, bagaimana perempuan sebagai anak, perempuan sebagai istri, perempuan sebagai Ibu. Menarik sekali tulisan Rasyid Al Fauzan (silahkan dibaca di tumblrnya) intinya, surga perempuan setelah menikah benar-benar tergantung bagaimana baktinya pada suami.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.”
Begitu pula contoh sejarah tentang seorang perempuan yang dijadikan ahli surga karena baktinya pada suami meskipun bersuami Fir'aun, Asiyah binti Muzahim. Masya Allah.

Yang membuat aku terkejut adalah ketika mas meminta maaf padaku karena atas permintaannya meminang aku, mas seakan sudah mencuri masa mudaku, padahal aku berterima kasih pada mas karena ia akan menjadi bagian dari masa depanku.

Lalu bagaimana dengan mimpi mimpiku? Tentu masih banyak, seperti perempuan-perempuan di luar sana yang mengidamkan sekolah hingga jenjang tertinggi, memiliki karir yang gemilang, membahagiakan orang tua dengan hasil keringat sendiri. Tetapi semuanya kembali lg, siapa yg mewujudkan mimpi? Mengapa terkadang aku merasa berusaha sendiri padahal ada yang lebih kuat dari usaha, yaitu doa. Iya, Allah yang mengabulkan segala mimpi, mengubahnya menjadi lebih indah dari yang manusia bayangkan.

Jadi, menikah bukan suatu halangan untukku mencapai mimpi-mimpi itu, Allah hanya sedang menujukkan jalan terbaiknya.

Untuk teman-teman perempuan yg masih ingin mengejar mimpinya pun tidak salah, jangan menikah hanya karena paksaan, usia, orang tua.

Tanyakan lagi pada diri sendiri, apakah sudah siap mengabdikan sisa hidupnya untuk seorang suami? Apakah sudah siap menjadi madrasah pertama untuk generasinya Allah?

Karena menikah bukan hanya senang-senang saja seperti yang orang-orang posting di sosial medianya, menikah itu bukan berarti mengakhiri lelah, tapi memulai sebuah perjuangan yang baru, menikah itu bernilai ibadah seumur hidup, tentu syaitan tidak akan rela begitu saja makhluknya Allah beribadah bukan? Maka, jurang dan tebing itu sudah pasti adanya.

Menikahlah hanya karena Allah, menikahlah dengan yang satu visi, satu pandangan dalam menghadapi permasalahan, menikahlah ketika kamu merasa sudah cukup ilmu yang dibawa berumah tangga, jika belum merasa cukup namun sudah Allah pertemukan dengan jodohmu, berbahagialah karena kamu tidak belajar sendirian.

Yaa Allah yaa Rabb ku, limpahkan keberkahan pada setiap langkahnya Mas, pilihan hati ini, Aamiin.

Why I decided to get married

Di usia muda, dengan seseorang yang baru saja aku kenal, dan berkali-kali merelakan kesempatan pekerjaan yang diidam-idamkan.

Entah, kedatangan mas ini begitu mengejutkan. Bagaimana tidak? Keseharian kita hanya berinteraksi perkara pekerjaan, diskusi pun seperlunya.

Tidak perlu waktu lama untuk mas mengenal aku, tiba-tiba saja mas mengutarakan maksud baiknya dan berniat segera menemui orang tua

Jawabku pada mas : “kini aku sedang berikhtiar, dengan berusaha memperbaiki diri dan berpasrah pada-Nya, jika mas memang jawaban dari Allah atas doa yang aku panjatkan di sepertiga malamku, pasti akan Allah permudah jalannya”

Selang beberapa minggu saja mas sudah mengantongi restu dari orang tua, dalam hitungan minggu pula Allah pertemukan dua keluarga di satu ruang yang insyaAllah diberkahi.

Sampai sekarang, aku masih takjub, semudah itu Allah membolak balikkan hati?
Padahal, semenjak kecurigaanku muncul, aku meminta pada Allah ; “jika mas hanya godaan semata, jika mas nyatanya bukan jawaban, maka hilangkan saja”. Sejak itulah, semakin Allah dekatkan semakin Allah permudah.
MasyaAllah..

Dari sini aku belajar lagi, bahwa ridha Allah memang tergantung pada ridha orang tua.
Alhamdulillah, selepas ridha nya, perjalanan ini terasa begitu ringan, dengan bala bantuan yang Allah kirimkan dari sisi yang tidak di duga-duga.

Pernikahan, bukan sekedar menyatukan dua hati dan pikiran, tapi tentang dua keluarga, beberapa hati dan pikiran, dengan isi yang berbeda-beda, prinsip yang berbeda, kebiasaan yang berbeda dan cara pandang yang berbeda.
Jalan ini mulus bukan berarti aku-mas tidak menemukan perbedaan, justru disini aku-mas belajar bagaimana menyikapi perbedaan, dan menghargai pendapat.

Pernikahan bukan sekedar “saya sudah siap” tapi tentang saya mau terus belajar, memahami, tumbuh, menghargai. Laki-laki paham cara menjadi imam yang baik, menjadi pengemudi yang taat pada rambu agar sampai dengan selamat di jannah-Nya, menjadi tulang punggung yang memikul banyak tanggung jawab. Terlebih lagi wanita, yang kelak menjadi madrasah pertama bagi generasinya, yang mampu menyempurnakan tulang rusuk meski bengkok.

Meski sama-sama terlahir dari rahim ibu, mengutamakan suami dibandingkan ibu adalah kewajiban seorang wanita. Jika surganya laki-laki masih ada di telapak kaki ibu pasca menikah, maka surganya wanita tergantung bagaimana baktinya pada suami.

Pernikahan bukan hanya perkara dunia, tapi akhirat. Segala apa yang diniatkan karena-Nya, pasti ditempuh dengan petunjuk-Nya, bukankah yang diidam-idamkan adalah dipertemukan kembali di surga-Nya dalam keabadian? Sedangkan dunia hanya sementara.

Rumusnya mudah, kejar akhirat, maka dunia akan mengikuti.

Dari aku, yang akan mendampingimu.
Sukabumi, 1 Februari 2019

Thankyou!

Terima kasih untuk segala hal yang diawali dengan niat karena Allah.

Kelak gagah bisa melemah, rupa bisa menua, ingatan bisa terlupa, pun harta hanya untuk dunia semata.

Jadikanlah tujuan ini bermuara akhirat, niscaya surga jadi tempat pertemuan abadi.

Bekal Pulang

Seperti kita masih kecil dulu, betapa senang bukan kalau orang tua pulang kerja bawa buah tangan, entah itu kue-kue atau mainan.
Begitu juga sebaliknya, kalau orang tua pulang gak bawa apa-apa, terkadang kita sedih, pengen jajan, dsb.
Sama hal nya ketika kita sudah dewasa, ingin rasanya bisa membawakan oleh-oleh untuk orang tua kita setelah lelah membanting tulang, supaya mereka senang.
Sedih pula mungkin hati orang tua, jika kita pulang tanpa membuahkan hasil.
Begitu pula dengan Allah,
Bisa jadi sebenarnya Allah begitu menunggu-nunggu kepulangan kita pada-Nya.
Tapi apa yang akan kita bawa pulang nanti? Sudah cukup bekal kita untuk membuat Allah tersenyum? Allah pun tentu sedih kalau kita pulang “gak bawa apa-apa”.
Maka, selagi diberi waktu sama Allah, persiapkanlah bekal terbaik untuk pulang.

Belum Seutuhnya

Aku, belum seutuhnya baik. Maka, izinkan aku memperbaiki diri sebelum baik bersamamu.
Aku, belum seutuhnya tahu, bagaimana kelak menjadi taat padamu, bagaimana kelak mendidik generasimu. Maka, izinkan aku mencari tahu sebelum kau beri tahu, agar gelasku tidak terlalu kosong untuk kau isi.
Aku, belum seutuhnya mampu. Jika kelak memampukan sejatinya memang tugasmu. Maka, izinkan aku menjadi mampu memenuhi diriku sendiri sebelum kau sempurnakan kemampuanku.
Aku, belum seutuhnya mencintaimu. Belum diberi hak mencintaimu seutuhnya. Maka, izinkan aku mencintai-Nya dulu. Hingga nanti mencintaimu seutuhnya adalah jalan menuju cinta-Nya.

Moda Online VS Konven

Dewasa ini, kita semakin dimudahkan dengan pesatnya perkembangan teknologi. Dan kali ini aku mau bahas seputar transportasi.
Ngeliat ke belakang dimana pernah terjadi kericuhan antara driver online dengan konven sebetulnya gak aneh sih, disatu sisi kita memang di mudahkan dengan adanya transportasi online, positifnya? Banyak! Salah satunya seorang yang pengangguran bisa punya penghasilan meski hanya bermodalkan kendaraan, tapi dilain sisi ada saudara kita yang pendapatannya tergerus dengan arus globalisasi ini, karena beralih ke yang lebih praktis, yaaa wajar mereka menuntut keadilan.
Cukup lama tinggal di kota besar aku pun sedikit demi sedikit mulai meninggalkan moda konvensional, you know why ya, gak jarang para supir angkot ngetem berjam-jam belum lagi panas nungguinnya padahal kadang kita lagi buru-buru, kalau naik ojek? Mahal. Jadi, buatku memang moda online sangat membantu menunjang kehidupan di kota besar.
Beberapa waktu belakangan ini aku kembali ke kota kecilku, waaaaah udah gabisa disebut kecil lagi meskipun luas nya segitu-gitu aja. Kenapa? Perkembangannya juga ikutan pesat, udah ada transportasi online! Memudahkan? Pastinyaaa.
Tapi di kota kecil ini aku masih memilih naik konvensional dibandingkan online. Selain gak macet-macet amat, jaraknya juga gak kejauhan, ada hal lain yang jadi pertimbanganku.
Coba sesekali kita memposisikan diri sebagai mereka (pengemudi kendaraan konvensional), kenapa sampai ngetem berjam-jam gitu? Mungkin mereka menghemat bahan bakar supaya bisa menghasilkan uang yang cukup dalam sekali jalan, mungkin mereka kejar setoran. Gak jarang aku denger keluh kesah mereka, yaa kita tau angkot itu bukan kepemilikan, so, mereka harus setor minimal 100-200rb ke pemiliknya per hari, itu belum termasuk bensin dan retribusi loh ya, mungkin dulu ketentuan itu gak terlalu mencekik mereka karena masih gampang dapet penumpang. Sekarang? Udah mah rebutan sama online, harga-harga pun selalu naik.
Atau misalnya ojek, aku sih belum paham juga ya kenapa ojek tarifnya mahal banget, mungkin karena mereka gak pake ngetem dan sekali jalan cuma bawa satu penumpang kali ya, mereka pun kalau dipikir pikir kan panas kepanasan, hujan kehujanan.
Pernah terfikir? Kalau mereka itu bisa jadi adalah orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita? Hmm jangan kejam-kejam lah sama supir angkot, mereka emosian ya wajar hidup di jalan, jangan keterlaluan juga kalau bayar ojek, kalau kita punya rejeki lebih anggap aja sedekah, kalau nggak? Jangan lupa bilang “terima kasih”, as simple as that.biarlah Allah yang menilai.
Kedua moda diatas masih yang berbahan bakar loh, belum aku cerita yang pake betis alias tukang becak.
Kadang aku suka mikir gitu ya, kenapa mereka masih bertahan? Kenapa gak pindah jadi driver online aja sih?
Bisa jadi mereka mau tapi terbatas kerena gak punya kendaraan sendiri atau hebatnya mereka itu adalah keyakinannya, mereka yakin bahwa rejeki udah diatur sama Allah, rejeki gak tertukar, asalkan berusaha dan bersyukur, dan mereka merasa cukup, ini sih luar biasa.
Semuanya kembali lagi ke diri masing-masing, mau pakai konven atau online gak masalah, kita pun punya pertimbangan kenapa harus pilih konven atau online, yang terpenting adalah jangan pernah menanggap rendah suatu profesi, karena sejatinya yang membedakan kita di hadapan Allah adalah amalan dan ketakwaan :)

Perceraian dalam Pernikahan

Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...