Dewasa ini, kita semakin dimudahkan dengan pesatnya perkembangan teknologi. Dan kali ini aku mau bahas seputar transportasi.
Ngeliat
ke belakang dimana pernah terjadi kericuhan antara driver online dengan
konven sebetulnya gak aneh sih, disatu sisi kita memang di mudahkan
dengan adanya transportasi online, positifnya? Banyak! Salah satunya
seorang yang pengangguran bisa punya penghasilan meski hanya bermodalkan
kendaraan, tapi dilain sisi ada saudara kita yang pendapatannya
tergerus dengan arus globalisasi ini, karena beralih ke yang lebih
praktis, yaaa wajar mereka menuntut keadilan.
Cukup lama tinggal di kota besar aku pun sedikit demi sedikit mulai meninggalkan moda konvensional, you know why
ya, gak jarang para supir angkot ngetem berjam-jam belum lagi panas
nungguinnya padahal kadang kita lagi buru-buru, kalau naik ojek? Mahal.
Jadi, buatku memang moda online sangat membantu menunjang kehidupan di
kota besar.
Beberapa waktu belakangan ini aku kembali ke kota
kecilku, waaaaah udah gabisa disebut kecil lagi meskipun luas nya
segitu-gitu aja. Kenapa? Perkembangannya juga ikutan pesat, udah ada
transportasi online! Memudahkan? Pastinyaaa.
Tapi di kota kecil
ini aku masih memilih naik konvensional dibandingkan online. Selain gak
macet-macet amat, jaraknya juga gak kejauhan, ada hal lain yang jadi
pertimbanganku.
Coba sesekali kita memposisikan diri sebagai
mereka (pengemudi kendaraan konvensional), kenapa sampai ngetem
berjam-jam gitu? Mungkin mereka menghemat bahan bakar supaya bisa
menghasilkan uang yang cukup dalam sekali jalan, mungkin mereka kejar
setoran. Gak jarang aku denger keluh kesah mereka, yaa kita tau angkot
itu bukan kepemilikan, so, mereka harus setor minimal 100-200rb
ke pemiliknya per hari, itu belum termasuk bensin dan retribusi loh ya,
mungkin dulu ketentuan itu gak terlalu mencekik mereka karena masih
gampang dapet penumpang. Sekarang? Udah mah rebutan sama online, harga-harga pun selalu naik.
Atau
misalnya ojek, aku sih belum paham juga ya kenapa ojek tarifnya mahal
banget, mungkin karena mereka gak pake ngetem dan sekali jalan cuma bawa
satu penumpang kali ya, mereka pun kalau dipikir pikir kan panas
kepanasan, hujan kehujanan.
Pernah terfikir? Kalau mereka itu bisa
jadi adalah orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita? Hmm
jangan kejam-kejam lah sama supir angkot, mereka emosian ya wajar hidup
di jalan, jangan keterlaluan juga kalau bayar ojek, kalau kita punya
rejeki lebih anggap aja sedekah, kalau nggak? Jangan lupa bilang “terima
kasih”, as simple as that.biarlah Allah yang menilai.
Kedua moda diatas masih yang berbahan bakar loh, belum aku cerita yang pake betis alias tukang becak.
Kadang aku suka mikir gitu ya, kenapa mereka masih bertahan? Kenapa gak pindah jadi driver online aja sih?
Bisa
jadi mereka mau tapi terbatas kerena gak punya kendaraan sendiri atau
hebatnya mereka itu adalah keyakinannya, mereka yakin bahwa rejeki udah
diatur sama Allah, rejeki gak tertukar, asalkan berusaha dan bersyukur,
dan mereka merasa cukup, ini sih luar biasa.
Semuanya kembali lagi
ke diri masing-masing, mau pakai konven atau online gak masalah, kita
pun punya pertimbangan kenapa harus pilih konven atau online, yang
terpenting adalah jangan pernah menanggap rendah suatu profesi, karena
sejatinya yang membedakan kita di hadapan Allah adalah amalan dan
ketakwaan :)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Perceraian dalam Pernikahan
Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...
-
Hujan tak pernah monoton. Banyak rima mengalun lara kala bercerita tentang hujan. Memang, hujan paling pandai membawa serta setiap kenangan...
-
Apa kau sudah tahu? Kalau.. Rindu, bukan hal yang tabu. Rindu, tak pernah semu. Bukankah perkara rindu bisa dijamu dengan merdu? Say...
-
Seperti tak ada lelahnya aku menuliskan tentangmu disetiap bait sajak ku Semoga kau lah koma yang kutemukan sebagai penghubung kisah pad...
No comments:
Post a Comment