Wednesday, November 6, 2019

Moda Online VS Konven

Dewasa ini, kita semakin dimudahkan dengan pesatnya perkembangan teknologi. Dan kali ini aku mau bahas seputar transportasi.
Ngeliat ke belakang dimana pernah terjadi kericuhan antara driver online dengan konven sebetulnya gak aneh sih, disatu sisi kita memang di mudahkan dengan adanya transportasi online, positifnya? Banyak! Salah satunya seorang yang pengangguran bisa punya penghasilan meski hanya bermodalkan kendaraan, tapi dilain sisi ada saudara kita yang pendapatannya tergerus dengan arus globalisasi ini, karena beralih ke yang lebih praktis, yaaa wajar mereka menuntut keadilan.
Cukup lama tinggal di kota besar aku pun sedikit demi sedikit mulai meninggalkan moda konvensional, you know why ya, gak jarang para supir angkot ngetem berjam-jam belum lagi panas nungguinnya padahal kadang kita lagi buru-buru, kalau naik ojek? Mahal. Jadi, buatku memang moda online sangat membantu menunjang kehidupan di kota besar.
Beberapa waktu belakangan ini aku kembali ke kota kecilku, waaaaah udah gabisa disebut kecil lagi meskipun luas nya segitu-gitu aja. Kenapa? Perkembangannya juga ikutan pesat, udah ada transportasi online! Memudahkan? Pastinyaaa.
Tapi di kota kecil ini aku masih memilih naik konvensional dibandingkan online. Selain gak macet-macet amat, jaraknya juga gak kejauhan, ada hal lain yang jadi pertimbanganku.
Coba sesekali kita memposisikan diri sebagai mereka (pengemudi kendaraan konvensional), kenapa sampai ngetem berjam-jam gitu? Mungkin mereka menghemat bahan bakar supaya bisa menghasilkan uang yang cukup dalam sekali jalan, mungkin mereka kejar setoran. Gak jarang aku denger keluh kesah mereka, yaa kita tau angkot itu bukan kepemilikan, so, mereka harus setor minimal 100-200rb ke pemiliknya per hari, itu belum termasuk bensin dan retribusi loh ya, mungkin dulu ketentuan itu gak terlalu mencekik mereka karena masih gampang dapet penumpang. Sekarang? Udah mah rebutan sama online, harga-harga pun selalu naik.
Atau misalnya ojek, aku sih belum paham juga ya kenapa ojek tarifnya mahal banget, mungkin karena mereka gak pake ngetem dan sekali jalan cuma bawa satu penumpang kali ya, mereka pun kalau dipikir pikir kan panas kepanasan, hujan kehujanan.
Pernah terfikir? Kalau mereka itu bisa jadi adalah orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita? Hmm jangan kejam-kejam lah sama supir angkot, mereka emosian ya wajar hidup di jalan, jangan keterlaluan juga kalau bayar ojek, kalau kita punya rejeki lebih anggap aja sedekah, kalau nggak? Jangan lupa bilang “terima kasih”, as simple as that.biarlah Allah yang menilai.
Kedua moda diatas masih yang berbahan bakar loh, belum aku cerita yang pake betis alias tukang becak.
Kadang aku suka mikir gitu ya, kenapa mereka masih bertahan? Kenapa gak pindah jadi driver online aja sih?
Bisa jadi mereka mau tapi terbatas kerena gak punya kendaraan sendiri atau hebatnya mereka itu adalah keyakinannya, mereka yakin bahwa rejeki udah diatur sama Allah, rejeki gak tertukar, asalkan berusaha dan bersyukur, dan mereka merasa cukup, ini sih luar biasa.
Semuanya kembali lagi ke diri masing-masing, mau pakai konven atau online gak masalah, kita pun punya pertimbangan kenapa harus pilih konven atau online, yang terpenting adalah jangan pernah menanggap rendah suatu profesi, karena sejatinya yang membedakan kita di hadapan Allah adalah amalan dan ketakwaan :)

No comments:

Post a Comment

Perceraian dalam Pernikahan

Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...