Wednesday, November 6, 2019
Menghapus Sebagiannya Saja
Ah, sudahlah ia bukan penikmat hasil.
Kuil yang nampak begitu megah dan menjulang tinggi itu pun tidak semerta-merta kokoh dengan sendirinya, tentu dibaliknya ada keringat yang mengucur lebat.
Semakna dengan yang tertulis pada kalimat pertama, bahwa “apa-apa yang tampak di luar belum tentu serupa dengan apa yang terasa di dalam”.
Ia adalah sang penikmat proses.
Bukan hal yang mudah baginya, bangkit dari jatuh yang teramat sakit -memilih melepaskan kala apa yang ia rasa tengah menjelma dengan dirinya.
Dibalik itu, berkali-kali ia menyekah setiap air mata yang jatuh tanpa diminta.
Ia menangis bukan karena lemah, hanya kehabisan alasan untuk manyanggah.
Mengumpulkan setiap puing demi puing harapan yang pernah ia bangun kemudian dibuat runtuh seketika, hingga tergerus oleh waktu yang ia biarkan berlalu.
Tapi tidak dengan rasa sakitnya.
Ia hanya menghapus sebagiannya saja.
Bukan mengapa, baginya setiap pelik masa lalunya, setiap liku dan terjal jalan yang dilalui senantiasa dijadikannya guru paling berharga dalam hidupnya
Hingga menjadi sekokoh kini.
Jangan disini jika sekedar membuat gaduh, sudah cukuplah ia mengaduh, jika ingin tetap disini bawa hati yang utuh jangan separuh.
Ia sedang membangun pondasi dan tak ingin membiarkannya runtuh lagi.
Pict Source : @karenapuisiituindah
Bogor, 29 Sepetember 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Perceraian dalam Pernikahan
Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...
-
Hujan tak pernah monoton. Banyak rima mengalun lara kala bercerita tentang hujan. Memang, hujan paling pandai membawa serta setiap kenangan...
-
Apa kau sudah tahu? Kalau.. Rindu, bukan hal yang tabu. Rindu, tak pernah semu. Bukankah perkara rindu bisa dijamu dengan merdu? Say...
-
Seperti tak ada lelahnya aku menuliskan tentangmu disetiap bait sajak ku Semoga kau lah koma yang kutemukan sebagai penghubung kisah pad...

No comments:
Post a Comment