Wednesday, November 6, 2019

Belajar Lagi

Kali ini saya ingin mencoba mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan dengan cara berbagi, walaupun baru saya sadari saat ini bahwa apa yang saya jalani ke belakang bukan merupakan passion saya, namun bagaimana pun saya menyadari pentingnya suatu tanggung jawab atas apa yang telah saya korbankan, maka ketika saya merasa tersesat di jalan, hal yang saya lakukan tentunya mencari jalan keluar. Maka, mulai dari hal kecil ini saya mencoba keluar dari jalan yang tersesat itu. Saya yakini bahwa saya sudah tersesat di jalan yang benar :)
Hal pertama yang akan saya bahas yaitu mengenai Sejarah Ilmu Gizi sebelum nantinya saya membahas hal-hal yang lebih mendalam lagi. Sejarah terdengar membosankan? Eit tunggu dulu, karena bagi saya sejarah merupakan asal mula segala hal yang ada saat ini, bagaimana kita bisa mengartikan suatu makna jika kita tidak mengenal hal tersebut dengan baik dan benar?

Definisi Ilmu Gizi

  • WHO menyatakan bahwa Ilmu Gizi merupakan suatu proses dalam organisme hidup untuk mengolah zat-zat pada makanan yang diperlukan untuk memelihara kehidupan, pertumbuhan, fungsi organ tubuh, dan menghasilkan energi.


Sejarah Ilmu Gizi

Pada jaman dahulu manusia purba mengenal makanan sekedar untuk bertahan hidup, seiring perkembangan jaman, pada masa yunani makanan mulai dikaitkan dengan penyakit. Pada masa ini penyakit kebutaan dapat disembuhkan dengan mengonsumsi hati atau penyakit gondok dapat disembuhkan dengan mengonsumsi rumput laut, sebatas itu.
Baru lah pada abad ke-16 lahir konsep konsep gizi modern yang dimulai dari energy balance, dimana adanya keterkaitan antara penggunanaan makanan dengan aktivitas fisik. Selain itu, banyak dilakukan eksperimen tentang penemuan Oksigen oleh Josep Priestly dan Karl Willhelm hingga proses pernafasan oleh Lavoiser. Pada abad ke-18 mulai lah ditemukan konversi faktor untuk kalori 4,4,9 dan penyusunan DKBM pertama oleh Wilbur Atwater (pembahasan mengenai konversi kalori akan dibahas pada materi selanjutnya ya).
Perkembangan Ilmu Gizi di Indonesia sendiri berawal sejak masa penjajahan oleh Belanda yang merintis pendidikan gizi yang didukung oleh ilmu inter-disipliner seperti; kedokteran, pertanian, biokimia, ekonomi dan statistik. Pada era Prof. Dr. Poerwo Soedarmo selaku Bapak Gizi Indonesia tahun 1950-1965 mulai dididik tenaga profesional gizi sehingga lahir pedoman 4 Sehat 5 Sempurna sebagai media utama pendidikan Gizi.
Pada abad ke-20 mulai lah dikenal Ilmu Gizi. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, di abad ini pedoman 4 sehat 5 sempurna tidak lagi digunakan dan telah mengalami perbaikan menjadi Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Perubahan ini tak lain dikarenakan adanya aspek yang tidak diperhatikan dalam 4 sehat 5 sempurna, yaitu takaran atau anjuran porsi makan yang tepat bagi manusia.
Pada pedoman gizi seimbang dijabarkan rinci mengenai porsi yang tepat dalam mengonsumsi karbohidrat (6-11serving/day), sayuran (3-5serving/day), buah buahan (2-4serving/day), protein (2-3serving/day), kelompok lemak (2-3serving/day), juga memerhatikan takaran gula, garam dan minyak (secukupnya). Selanjutnya PGS mengalami penyempurnaan, dimana terdapat 4 Pilar diantaranya:
  1. Mengonsumsi makanan beragam
  2. Membiasakan perilaku hidup bersih
  3. Melakukan aktivitas fisik
  4. Mempertahankan berat badan normal

Serta tedapat 10 pesan PGS diantaranya:
  1. Syukuri nikmat aneka makanan
  2. Banyak konsumsi sayur dan buah
  3. Biasakan mengonsumsi lauk pauk berprotein tinggi
  4. Biasakan mengonsumsi aneka ragam makanan pokok
  5. Batasi konsumsi pangan asin, manis dan berlemak
  6. Biasakan sarapan
  7. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
  8. Biasakan membaca label pada kemasan pangan
  9. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
  10. Lakukan aktivitas fisik dan pertahankan BB normal
(penjabaran beberapa poin diatas akan di rinci pada pembahasan selanjutnya, ok? ).
Hingga kini penyempurnaan pada Pedoman Gizi Seimbang terus dilakukan, dan yang digunakan saat ini adalah Tumpeng Gizi Seimbang, selain menjabarkan porsi yang tepat tumpeng ini dilengkapi dengan anjuran aktivitas fisik, menjaga BB normal serta menjaga asupan cairan. Tentunya kebutuhan ini pada masing-masing individu akan berbeda tergantung pada usia, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, serta aktivitas fisiknya.
Abad ke-20 merupakan The Golden Age of Nutrition, dimana mulai ditemukan zat gizi makro, zat gizi mikro, dan zat bioaktif. Telah ditetapkan pula Recommended Dietary Allowance (apasih itu? akan dibahas pada materi selanjutnya ya). Berdasarkan WHO (1998) prevalensi anak dengan kondisi underweight dan stunting menurun seiring berkembangnya Ilmu Gizi. Kesetaraan hak memperoleh kesehatan juga telah diatur dalam Deklarasi Ketahanan Pangan Dunia (1996) yang menyatakan bahwa:
setiap orang berhak memperoleh makanan yang aman dan bergizi seimbang sesuai dengan hak azasi dari setiap orang untuk bebas dari kelaparan”.
Paparan diatas merupakan sebagian kecil alasan mengapa penting bagi kita mempelajari Ilmu Gizi.
Pada pembahasan selanjutnya saya akan coba membahas tentang komponen gizi sebagai dasar Ilmu Gizi yang gak kalah seru nya, penasaran? Maka, tetap membaca yaaa, dan selalu semangat untuk menambah wawasan.

Senang bisa berbagi. Semoga bermanfaat! :)

No comments:

Post a Comment

Perceraian dalam Pernikahan

Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...