Seperti aku sepeninggal kau, Tuan.
Dingin, hingga menusuk tulang.
Dingin, hingga membeku urat nadi.
Aku menggigil, tidak kah kau lihat aku berselimut rindu?
Bagai aroma sisa hujan kemarin, yang kau tinggalkan hanya kenangan serupa angin.
Bagai gugur dedaunan sisa hujan kemarin, terepas satu demi satu harapan dari tangkai pohon beringin.
Yang terlihat kokoh, tapi nyatanya rapuh.
Bogor, 11 Oktober 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Perceraian dalam Pernikahan
Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...
-
Hujan tak pernah monoton. Banyak rima mengalun lara kala bercerita tentang hujan. Memang, hujan paling pandai membawa serta setiap kenangan...
-
Apa kau sudah tahu? Kalau.. Rindu, bukan hal yang tabu. Rindu, tak pernah semu. Bukankah perkara rindu bisa dijamu dengan merdu? Say...
-
Seperti tak ada lelahnya aku menuliskan tentangmu disetiap bait sajak ku Semoga kau lah koma yang kutemukan sebagai penghubung kisah pad...
No comments:
Post a Comment