Wednesday, November 6, 2019

Mendengar suara

Mulutnya berbisik, tapi hatinya menjerit.
Suara mereka yang nasibnya semakin tercekik.
Benar memang, perihal kesejahteraan hidup sudah seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing.
Tapi bukan berarti mereka yang hidup sulit itu karena enggan berusaha. Bisa jadi kerja mereka lebih berat.
Berangkat pagi hingga malam sembari memikul barang dagangan, tak kenal panas ataupun hujan.
Mengetuk satu per satu pintu rumah bukan untuk meminta-minta, lalu kemudian hanya berapa hati yang berhasil ia ketuk? Mungkin bisa dihitung jari.
Mereka hanya terbatas.
Mimpi mereka sama, ingin mempunyai kehidupan yang layak, ingin mencicipi makanan enak, banting tulang hanya demi menyekolahkan anak.
Tak jarang apa yang kemudian menjadi kebijakan untuk tujuan kesejahteraan malah semakin memperkaya si kaya.
sekarang harga serba naik neng, tapi pendapatan segitu-gitu aja. Subsidi udah dicabut, belum lagi katanya daya listrik mau dinaikin juga. Orang kaya kita mah buat dipake apa? 900 kwh aja udah cukup. Buat yang jualan, bingung nentuin harga jual soalnya harga bahan baku ga nentu, apalagi biasanya kalau udah naik gak akan turun lagi, tapi kalau harga dagangannya dinaikin, malah pelanggannya yang kabur. Buat yang kerja kantoran gajinya segitu-gitu aja, paling kalau naik setaun sekali itu pun gak seberapa dibandingin sama kenaikan harga yang naiknya setiap bulan”. Tentang sekilas suara yang terdengar di balik bilik.
Meski begitu, mungkin mereka yang berperan dibalik beton sana sudah berupaya membuat kebijakan se-maksimal mungkin.
Semoga, semoga, semoga setiap upaya tidak merugikan sebelah pihak.

No comments:

Post a Comment

Perceraian dalam Pernikahan

Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...