Mulutnya berbisik, tapi hatinya menjerit.
Suara mereka yang nasibnya semakin tercekik.
Benar memang, perihal kesejahteraan hidup sudah seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing.
Tapi bukan berarti mereka yang hidup sulit itu karena enggan berusaha. Bisa jadi kerja mereka lebih berat.
Berangkat pagi hingga malam sembari memikul barang dagangan, tak kenal panas ataupun hujan.
Mengetuk
satu per satu pintu rumah bukan untuk meminta-minta, lalu kemudian
hanya berapa hati yang berhasil ia ketuk? Mungkin bisa dihitung jari.
Mereka hanya terbatas.
Mimpi
mereka sama, ingin mempunyai kehidupan yang layak, ingin mencicipi
makanan enak, banting tulang hanya demi menyekolahkan anak.
Tak jarang apa yang kemudian menjadi kebijakan untuk tujuan kesejahteraan malah semakin memperkaya si kaya.
“sekarang
harga serba naik neng, tapi pendapatan segitu-gitu aja. Subsidi udah
dicabut, belum lagi katanya daya listrik mau dinaikin juga. Orang kaya
kita mah buat dipake apa? 900 kwh aja udah cukup. Buat yang jualan,
bingung nentuin harga jual soalnya harga bahan baku ga nentu, apalagi
biasanya kalau udah naik gak akan turun lagi, tapi kalau harga
dagangannya dinaikin, malah pelanggannya yang kabur. Buat yang kerja
kantoran gajinya segitu-gitu aja, paling kalau naik setaun sekali itu
pun gak seberapa dibandingin sama kenaikan harga yang naiknya setiap
bulan”. Tentang sekilas suara yang terdengar di balik bilik.
Meski begitu, mungkin mereka yang berperan dibalik beton sana sudah berupaya membuat kebijakan se-maksimal mungkin.
Semoga, semoga, semoga setiap upaya tidak merugikan sebelah pihak.
Wednesday, November 6, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Perceraian dalam Pernikahan
Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...
-
Hujan tak pernah monoton. Banyak rima mengalun lara kala bercerita tentang hujan. Memang, hujan paling pandai membawa serta setiap kenangan...
-
Apa kau sudah tahu? Kalau.. Rindu, bukan hal yang tabu. Rindu, tak pernah semu. Bukankah perkara rindu bisa dijamu dengan merdu? Say...
-
Seperti tak ada lelahnya aku menuliskan tentangmu disetiap bait sajak ku Semoga kau lah koma yang kutemukan sebagai penghubung kisah pad...
No comments:
Post a Comment