Wednesday, November 6, 2019

Masa di Depan

Sebetulnya bukan hal yang mudah, di masa depan nanti sudah pasti akan ditemukan jurang yang begitu terjal dan tebing yang begitu curam.

Memilih,

Dengan siapa kelak menyatu-padukan hidup bukan lagi bicara perihal masa ini, bisa saja kamu begitu terpesona akan kecantikan seseorang, sadarkah kelak ia akan menua? Keriputnya tidak bisa lagi disamarkan dengan make up apapun, bagaimana jika dia tak secantik masa mudanya lagi? Atau, bisa saja kamu begitu kagum akan kekuatannya, sadarkah kelak ia akan melemah? Bagaimana jika dia bahkan tidak bisa menjagamu lagi?

Menerima,

Nantinya, segala kriteria tentang seseorang yang dipandang begitu sempurna akan sirna bukan? Terlebih setelah hidup bersama, dan kamu akan tahu kelemahan dan kekurangannya. Lalu, jangan lagi jadikan ego sebagi bumerang, namun berjanjilah akan memahami dan saling melengkapi, bukankah tidak ada makhluk yang sempurna?

Mungkin,

Pada usia 30 sampai 50 tahun dia masih sanggup menafkahimu, menjagamu, merawat anak-anakmu, pergi kerja sebelum matahari terbit, pulang saat matahari terbenam. Pada usia itu dia masih bisa berkarir, memasakkan makanan yang paling enak sedunia, bahkan lidahmu sudah tidak hafal lagi rasa masakan ibumu.

Lalu,

Menjelang usia senja, karirmu berakhir, anak-anakmu tidak lagi tinggal bersama, bahkan mungkin bisa saja mereka lupa mengabarimu atau menanyakan kabarmu. Sehari-hari kamu hanya akan menghabiskan sisa usia dengan seorang yang kau pilih, yang sudah tidak bekerja, sudah keriput, masakannya pun seringkali terlampau asin atau bahkan terasa hambar.

Kelak,

Akankah kamu merasa bosan? Atau malah terbiasa? Kala hal ini melanda, ingatlah bagaimana kamu begitu sulit memperjuangkannya, ingatlah kamu pernah ragu hingga benar-benar yakin memilihnya, ingatlah bagaimana kamu sama-sama membangun segalanya dari nol, ingatlah siapa yang mengusap keringatmu, ingatlah bahwa pernah terlahir generasimu yang lebih hebat dari rahimnya.

Maka,

Selamat terjun menyelami kehidupannya, berjanjilah untuk tidak saling menyakiti, sekalipun ada air mata, jadikan air mata yang jatuh adalah air mata bahagia, sekali pun ada perpisahan, janjikan bahwa hanya kematian yang dapat memisahkan, karena yang begitu kelak akan di pertemukan kembali, di surga.

No comments:

Post a Comment

Perceraian dalam Pernikahan

Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...