Wednesday, November 6, 2019

Dear Diary

Kenapa kali ini judulnya “Dear Diary?” karena pada tulisan ini saya ingin berbagi cerita saja, belakangan kerjaan semakin padat sehingga sudah beberapa kali niat menulis tapi hanya berakhir di draft.
Jadi, saya ingin berbagi cerita seputar pekerjaan saya, menjadi orang lapang bukan hal yang mudah, harus siap saat matahari lagi terik-teriknya, bahkan ketika tiba-tiba hujan tanpa persiapan. Kerja, sudah pasti capek bukan? Tapi di pekerjaan saya kali ini rasa capek bisa terobati kala bisa melihat senyum masyarakat, kala bisa diterima dengan baik, kala bisa membuat masyarakat tertawa sampai tertawa bersama tentang hal hal kecil yang gak penting, kala bisa mendengarkan keluh kesah masyarakat. Ah, rasanya saya masih saja kurang bersyukur.
Hari ini saya bertemu dengan ibu-ibu yang menyapa saya dengan sangat ramah, wawancara yang biasanya bisa selesai kurang dalam waktu 5 menit kali ini berbeda, saya paham betul kondisi rumahnya yang sangat sederhana, ruang tamu yang menyatu dengan kamar hanya dibatasi dengan kain, lalu disampingnya ada dapur dan jamban, udah segitu aja.
“neng, capek ya? Mau minum air es? Ibu ada air dingin” ibu masih saja menawarkan padahal jelas-jelas saya tengah membawa air minum “neng, maaf ya kalau es nya kurang dingin”
“neng, disini ibu ga ada apa-apa cuma punya keripik pedas” sambil membawakan toples yang berisi sedikit keripik, dicoba pun rasanya udah nggak jelas, teksturnya alot. Tapi jadi enak karena dibumbui rasa ikhlas di dalamnya.
“neng ibu ada jeruk itu satu, masih seger tadi dari hajatan” aku sengaja membiarkan jeruk sampai selesai wawancara, jeruk itu untuk ibunya saja “neng, jeruknya dibawa aja, untuk bekel di jalan”
Sebenarnya saya mencoba menolak tawaran demi tawaran dari ibu tersebut, tapi baginya tamu harus dijamu.
Dari cerita diatas saya bukan ingin menceritakan kekurangannya, namun itu merupakan kelebihan yang sudah jarang ditemukan, masih mau berbagi saat yang dimiliki sudah tak ada lagi.
Lain lawan bicara lain cerita. Sekali-kali saya pernah iseng, tidak melulu bertanya pada masyarakat tapi juga aparat, dengan harapan mendapatkan pandangan yang berbeda dari seorang yang katanya cendikia. Tapi justru semacam cela yang saya dapat. Ketika saya bertanya soal penghasilan cendikia tersebut dengan licinnya menjawab “saya mah orang kaya, keliatan lah bagaimana penghasilnnya” sambil kemudian tebahak-bahak, mungkin baginya itu lelucon bagi saya itu tidak lucu, karena saya butuh data yang akurat bukan main-main. Seketika di benak saya bertanya, dimana etika?. Kalau kata kids jaman now mah “ingin rasanya berkata kasar”, tapi saya harus bisa memposisikan diri, mencoba mengakhiri tetap dengan basa-basi.
Pesan yang ingin saya bagi sebenarnya tentang cara berinteraksi, baik antara si tua dengan si muda, si kaya dengan si miskin, maupun si pintar dengan si bodoh. Ber-etika-lah dengan baik, saling menghargai dan menghormati, sadarilah bahwa hidup ini seperti roda, akan terus berputar. Kalau ia berhenti, berarti mati.

Sekian, semoga pengantar tidur kali ini bermanfaat untuk refleksi diri saya kedepannya maupun pembaca :)

No comments:

Post a Comment

Perceraian dalam Pernikahan

Gimana? dari judulnya saja jemari ini setengah gemetar untuk membangun opini, sampai perlu bikin kopi dulu. Oke, gabisa dipungkiri kalau kat...