But then I relize, bagaimana bisa menjadi penulis yang baik tanpa membaca dengan baik?
Well, selain alasan di atas, saya rasa membaca itu adalah hal yang krusial, lalu dari mana kita tahu sesuatu kalau bukan dari membaca? Bisa sih dari mendengarkan sesuatu, lantas kita percaya gitu aja? Kan ngga toh? . Seperti kita tahu akhir-akhir ini baaaanyak sekali beredar berita-berita hoax, sebagai orang yang berwawasan tentunya kita ga bisa semerta-merta menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya. Inilah salah dua manfaat membaca, tapi inget yaaa membaca suatu yang ilmiah aja harus ada literaturnya, informasi yang diindikasikan berpotensi kabar burung pun demikian.
Bicara soal pengalaman lagi, setelah saya memutuskan untuk terjun ke Ibukota, ternyata saya baru sadar kalau dunia saya selama ini terlalu sempit, hanya membicarakan hal yang sama pada orang dengan pemikiran yang sama.
Lalu bagaimana saya bisa berbicara dengan orang lain yang telah lahir atau akan lahir dimensi yang berbeda jika ruang saya masih sempit? Dan saya mencoba memperluas itu dengan kembali membaca, dari hal kecil saja misalnya membaca kabar terkini -maklum ya anak kosan gak ada tv buat nonton berita. Tapi aneh, yang saya rasa malah saya merasa semakin haus dan berfikir apa sih yang menyebabkan hal itu terjadi? Kok bisa? Emang seharusnya gimana? Apa dampaknya? dst.
This is the 3rd point! Ketika kita membaca, InsyaAllah kita bisa survive dimana pun kita berada, misal-1 berbicara dengan orang tua tentang politik, ekonomi, setidaknya kita paham apa yang mereka sampaikan, jangan sampai bagaikan membawa gelas kosong ketika berbicara dengan mereka, tapi saran saya ketika kita benar-benar tidak tau jadilah pendengar yang baik, cari tau fakta nya dengan bertanya atau baca literatur kemudian. Misal-2 ketika kita dihadapkan dengan tingkah laku anak kecil hingga remaja di era super modern ini, menyikapi mereka tentu berbeda dengan jaman dulu, kalau nakal di tegur dia sadar, kalau sekarang lebih ke pendekatan dengan nurani dan logika sih menurut saya. Ini juga saya harus banyak belajar lagi tentang komunikasi dan parenting.
Jaman semakin berkembang, berlatar pada apa yang telah disampaikan Ali Bin Abi Thalib “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu” .
Dan yang terakhir bagi saya kenapa saya rasa membaca itu penting, bahwasannya Ayat Al-Quran yang turun pertama kali adalah tentang perintah membaca
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu paling mulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (manusia tersebut).” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5).
Maha benar Allah dengan segala firmannya.
Semoga sharing kali ini bisa bermanfaat dan membuka wawasan kita, and so please kindly correct me if I’m wrong. Karena sejatinya ini juga merupakan self-reminder untuk saya pribadi.Pesan saya, kepribadian seseorang bisa terlihat dari apa yang dia baca :)
No comments:
Post a Comment